Viral Balita Diberi Obat Penggemuk, Ini Kata Dokter tentang Bahayanya

AKURAT.CO Akun Instagram @linggra.k membagikan kisah memilukan tentang anaknya yang selama setahun diberikan obat-obatan berbahaya oleh pengasuhnya.
Obat-obatan tersebut, seperti deksametason dan Pronicy, yang seharusnya tidak diberikan kepada anak-anak, digunakan untuk meningkatkan berat badan anaknya secara tidak aman.
Setelah menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh obat-obatan tersebut, Linggra segera menghentikan pemberian obat pada putranya.
Namun, tak lama setelah penghentian obat penggemuk itu, kondisi tubuh anaknya mulai mengalami perubahan drastis.
Baca Juga: Tesla Kenalkan Robovan dengan Bentuk Futuristik di Acara 'We, Robot'
Menurut informasi yang dilansir dari berbagai sumber, pada hari kesembilan setelah penghentian obat, kondisi balita Linggra memburuk dengan cepat.
Anak tersebut menjadi sangat lemas, kehilangan nafsu makan dan minum, serta lebih banyak tidur. Situasi ini membuat Linggra segera membawa putranya ke dokter untuk mendapatkan perawatan.
Setelah mendapatkan pengobatan, Linggra menyampaikan kabar baik bahwa kondisi anaknya berangsur membaik dan sudah mulai bisa beraktivitas seperti biasa.
Meskipun demikian, proses pemulihan anaknya masih berlangsung, dan ia memerlukan perawatan lanjutan berupa terapi obat.
Dokter spesialis anak, dr. Ratih Puspita, SpA, menegaskan, tidak ada obat atau vitamin yang dirancang khusus untuk meningkatkan nafsu makan atau menambah berat badan anak secara signifikan.
Baca Juga: Jelang Lawan China, Shin Tae-yong Putuskan Pulangkan Jordi Amat Karena Cedera tak Sembuh
Namun, obat-obatan tertentu sering disalahgunakan untuk tujuan tersebut.
Dr. Ratih menjelaskan, penggunaan Pronicy dan deksametason tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya.
Pronicy, yang mengandung cyproheptadine, sebenarnya adalah obat anti alergi, sedangkan deksametason adalah steroid yang jika digunakan dalam jangka panjang dapat menyebabkan masalah seperti moon face (wajah membulat).
Selain itu, deksametason juga dapat menimbulkan efek samping lainnya, seperti striae (garis-garis pada kulit) dan insufisiensi adrenal, yaitu kondisi di mana tubuh tidak lagi mampu memproduksi hormon adrenal dengan baik jika pasien mengalami kondisi yang serius.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









