CISDI Kritik Susu UHT dalam Makan Bergizi Gratis, Kenapa?

AKURAT.CO, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengkritik pemberian susu Ultra High Temperature (UHT) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemberian susu UHT dinilai tidak selaras dengan semangat MBG untuk memberikan gizi optimal kepada anak-anak sekolah.
Baca Juga: Yuk Kenali Perbedaan Susu UHT Dan Fresh Milk
Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai kesempatan menggunakan susu UHT saat melakukan uji coba program MBG. Bahkan, wakil presiden Gibran Rakabuming Raka kerap terlihat membagikan susu UHT kepada anak-anak dalam berbagai kegiatannya.
CEO dan founder CISDI, Diah Satyani Saminarsih menyebut susu UHT memiliki kandungan gula yang sangat tinggi. Maka dari itu, dia sangat tidak menyarankan pemberian susu UHT pada anak-anak.
“Jadi susu UHT itu tinggi gula. Dan itu yang kita selalu hindari karena susu itu akhirnya masuknya ke dalam kategori minuman berpemanis dalam kemasan,” ujar Diah.
Dikutip dari laman Halodoc, susu UHT atau susu ultra-heat treatment adalah susu yang telah dipanaskan pada suhu lebih dari 135° Celsius selama beberapa detik. Meski dianggap lebih steril, namun konsumsi susu UHT harus sangat diperhatikan, karena susu UHT tidak diperuntukkan untuk segala usia, khususnya bayi.
Berdasarkan artikel yang ditinjau oleh dr. Merry Dame Cristy Pane tersebut, dijelaskan kandungan susu UHT tidak begitu lengkap bila dibandingkan susu formula. Kandungan zat besi misalnya, pada susu UHT cukup rendah. Padahal, zat besi memiliki peranan penting mencegah terjadinya anemia dan menjaga kesehatan sel-sel tubuhnya.
Baca Juga: Penjelasan Istana Soal Biaya Program Makan Bergizi Gratis Rp10 Ribu
Selain mengkritik pemberian susu UHT, Diah turut menyoroti ketidakjelasan tujuan dan target yang ingin dicapai melalui program MBG.
Diah juga menilai pemerintah tidak pernah secara gamblang menjelaskan sasaran yang jelas. Selama ini pemerintah hanya menerangkan peningkatan gizi semata kepada masyarakat.
"Apa yang mau dikoreksi dari MBG? untuk usia berapa? dan mau mengurangi makanan yang tinggi gula garam lemaknyakah? Jadi ini yang kita juga harus perjelas dengan lebih clear, program ini mau seperti apa?" tutur Diah.
Hal yang tidak kalah penting juga menurut Diah adalah penerapan standar gizi dari program MBG. Jangan sampai, pemberian MBG kepada anak sekolah hanya sekadar menyesuaikan dengan anggaran semata.
“Yang tidak kalah penting adalah standar isinya itu apa dari makan bergizi gratis ini? Karena kita juga mengetahui dari yang disiapkan yang disiarkan 10.000 rupiah itu standarnya apa? Apa kecukupan gizinya? Kan bukan hanya untuk kenyang, ya kan? Namanya juga makan bergizi gratis,” tutup Diah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







