Bulking Tanpa Nasi, Apakah Efektif? Inilah Pandangan Ahli dan Solusinya

AKURAT.CO Dalam dunia kebugaran, strategi bulking sering kali identik dengan makan banyak nasi.
Namun, apakah pendekatan ini tetap relevan dan efektif, terutama bagi individu yang memiliki nafsu makan rendah? Sejumlah pakar nutrisi olahragainternasional menyampaikan pandangan berbeda.
Menurut Dr. Eric Helms, seorang peneliti dan pelatih nutrisi yang tergabung dalam tim 3D Muscle Journey dan penulis buku The Muscle and Strength Pyramid: Nutrition, strategi bulking yang berkelanjutan adalah yang mampu disesuaikan dengan preferensi individu.
“Sumber kalori terbaik adalah yang bisa kamu makan secara konsisten tanpa tekanan. Tidak ada keharusan mengandalkan satu jenis makanan seperti nasi,” tulisnya dalam jurnal Strength and Conditioning Journal (2019)
Dalam prinsip ilmu gizi olahraga, bulking atau penambahan massa otot idealnya dilakukan dengan menciptakan surplus kalori sebesar 10–20% dari kebutuhan harian, disertai konsumsi protein 1,6–2,2 gram per kilogram berat badan.
Konsumsi karbohidrat memang penting sebagai bahan bakar latihan dan pemulihan, tetapi tidak harus berasal dari nasi putih.
Profesor Stuart Phillips dari McMaster University, yang banyak meneliti tentang hipertrofi otot, menggarisbawahi pentingnya kepadatan nutrisi dan kenyamanan dalam diet:
"Alih-alih memaksakan porsi besar, strategi makan sering dengan kalori padat seperti kacang-kacangan, minyak sehat, dan produk susu lebih masuk akal untuk orang dengan nafsu makan rendah,” jelasnya dalam Annual Review of Nutrition (2020).
Hal senada juga ditegaskan dalam buku Advanced Sports Nutrition oleh Dan Benardot, Ph.D., seorang profesor nutrisi dari Georgia State University.
Ia menulis bahwa strategi makan porsi kecil tapi sering, dengan pilihan makanan tinggi energi dan mudah dicerna, lebih berhasil untuk atlet dan individu bertubuh kurus.
Rekomendasi Bulking untuk yang Tidak Suka Makan Banyak
- Beberapa alternatif strategi bulking yang disarankan para ahli:
- Minuman tinggi kalori: smoothie dari pisang, susu, selai kacang, dan oat
- Camilan energi tinggi: kurma, almond, keju, atau granola
- Penambahan kalori cair: minyak zaitun, minyak kelapa, atau krimer full-fat dalam masakan/minuman
- Frekuensi makan ditingkatkan: makan 5–6 kali dalam sehari, bukan 3 porsi besar
Pendekatan bulking dengan makan banyak nasi tidak wajib dan tidak selalu tepat, terutama bagi individu dengan selera makan rendah.
Para ahli sepakat bahwa yang terpenting adalah konsistensi, keseimbangan kalori, dan kenyamanan dalam menjalani pola makan, bukan sekadar kuantitas karbohidrat.
Sumber-sumber referensi dalam artikel ini merujuk pada jurnal internasional dan buku pegangan gizi olahraga yang digunakan secara luas dalam kalangan akademik dan profesional. Tidak ada kutipan dari media lokal untuk menjaga objektivitas informasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 7BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







