Paracetamol saat Hamil Bisa Sebabkan Autisme pada Anak? Inilah Fakta Ilmiahnya!

AKURAT.CO Belakangan, media sosial dan pernyataan sejumlah tokoh publik memicu kekhawatiran: benarkah ibu hamil yang mengonsumsi paracetamol (acetaminophen) berisiko melahirkan anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD)? Klaim ini semakin ramai setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyinggung topik tersebut dalam sebuah konferensi pers. Isu ini penting karena paracetamol merupakan obat pereda nyeri dan penurun demam yang paling sering direkomendasikan selama kehamilan. Lantas, apa kata sains?
WHO Tegaskan Tidak Ada Bukti Ilmiah yang Mendukung Klaim Trump
Pada Rabu lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis pernyataan resmi yang membantah klaim Trump. WHO menegaskan bahwa saat ini “tidak ada bukti ilmiah yang konklusif” yang menemukan kaitan antara penggunaan paracetamol selama kehamilan dengan risiko autisme.
“Penelitian ekstensif telah dilakukan selama dekade terakhir, termasuk studi berskala besar, untuk menyelidiki hubungan antara penggunaan acetaminophen [juga dikenal sebagai paracetamol] selama kehamilan dan autisme. Hingga saat ini, belum ada hubungan yang konsisten,” tulis WHO dalam pernyataannya, dikutip Kamis, 25 September 2025.
WHO juga merekomendasikan agar ibu hamil tetap mengikuti saran dokter atau tenaga kesehatan yang menangani, karena hanya mereka yang dapat menilai kondisi masing-masing pasien dan merekomendasikan pengobatan yang tepat.
Pernyataan Kontroversial Donald Trump
Dalam konferensi pers pada Senin sebelumnya, Donald Trump mengaitkan penggunaan paracetamol dan vaksin dengan autisme.
“Saya ingin mengatakan apa adanya, jangan minum Tylenol. Jangan minum obat itu,” ucap Trump, merujuk pada nama dagang paracetamol di Amerika Serikat, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 25 September 2025.
Trump bahkan menyebut leucovorin, sejenis vitamin B9, sebagai pengobatan untuk gejala autisme, meski klaim ini segera dikritik banyak pihak.
Tim medis yang mendampingi Trump, termasuk Health Secretary Robert F Kennedy Jr. yang dikenal sebagai kritikus vaksin, menyarankan penelitian ulang mengenai hubungan vaksin dengan autisme—isu yang sudah berulang kali dibantah oleh para pakar medis.
Pernyataan Trump mendapat kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk Coalition of Autism Scientists, yang menegaskan bahwa data yang dikutip tidak mendukung klaim Tylenol sebagai penyebab autisme maupun leucovorin sebagai “obat” autisme. Mereka menilai klaim tersebut hanya memicu ketakutan dan memberi harapan palsu.
Produsen Tylenol, Kenvue, juga merilis pernyataan resmi yang menegaskan ketidaksetujuan mereka terhadap klaim tersebut dengan menyatakan bhawa pihaknya percaya penelitian independen dan ilmiah yang kredibel dan dengan jelas menunjukkan bahwa penggunaan acetaminophen tidak menyebabkan autisme.
Bahkan National Health Service (NHS) Inggris ikut angkat bicara dan menekankan bahwa tidak ada bukti kuat yang mendukung pernyataan Trump.
Hasil Penelitian: Ada Hubungan, tapi Bukan Penyebab Langsung
Sejumlah studi observasional di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia memang menemukan adanya asosiasi antara penggunaan paracetamol saat hamil dan sedikit peningkatan risiko gangguan perkembangan saraf seperti autisme dan ADHD.
Misalnya, penelitian berbasis data populasi di Denmark dan Amerika menemukan anak-anak yang terpapar paracetamol dalam kandungan memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan dibandingkan yang tidak terpapar. Analisis biomarker yang mengukur metabolit paracetamol dalam darah tali pusat juga menunjukkan korelasi serupa.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa asosiasi tidak sama dengan kausalitas. Artinya, temuan ini belum bisa disimpulkan sebagai bukti bahwa paracetamol menyebabkan autisme. Faktor lain seperti demam ibu hamil, infeksi, atau kondisi genetik keluarga bisa menjadi penyebab yang sesungguhnya.
Studi Sibling-Control Menantang Klaim Kausal
Penelitian dengan metode sibling-control memberikan perspektif berbeda. Studi besar yang dipublikasikan di JAMA pada 2024 membandingkan anak-anak dari ibu yang sama—satu terpapar paracetamol dan satu tidak. Hasilnya, tidak ditemukan peningkatan risiko autisme maupun ADHD pada anak yang terpapar paracetamol.
Desain penelitian ini penting karena dapat mengurangi pengaruh faktor keluarga atau genetik yang sulit dikontrol pada studi observasional biasa. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa hubungan antara paracetamol dan autisme kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor lain, bukan efek obat itu sendiri.
Keterbatasan Bukti Ilmiah
Mengapa hasil penelitian masih diperdebatkan?
-
Observasional, bukan eksperimental – Hampir semua studi pada manusia bersifat observasional, sehingga tidak bisa membuktikan sebab-akibat.
-
Confounding by indication – Alasan ibu minum paracetamol, seperti demam atau infeksi, mungkin justru menjadi pemicu gangguan perkembangan janin.
-
Bias ingatan – Banyak penelitian mengandalkan laporan penggunaan obat dari ibu, yang rentan kesalahan ingat.
-
Dosis dan waktu – Beberapa studi menemukan risiko lebih tinggi pada penggunaan dosis besar atau jangka panjang, tetapi hasilnya tidak konsisten.
Mekanisme Biologis: Masih Hipotesis
Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan paracetamol dosis tinggi dapat memengaruhi perkembangan saraf, sistem hormon tiroid, dan mekanisme oksidatif. Meski demikian, dosis yang digunakan pada hewan biasanya jauh lebih tinggi daripada dosis terapeutik pada manusia. Sejauh ini, hipotesis biologis tersebut belum terbukti relevan pada penggunaan paracetamol normal selama kehamilan.
Pandangan Organisasi Kesehatan Dunia dan Lembaga Medis
Selain WHO, berbagai lembaga kesehatan lain juga memberikan arahan yang serupa:
-
ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists) menyebut paracetamol masih menjadi pilihan aman bila digunakan sesuai dosis dan durasi yang dianjurkan.
-
FDA di Amerika Serikat sedang meninjau ulang label keamanan paracetamol berdasarkan bukti baru, namun langkah ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian, bukan karena sudah ada bukti final.
Saran Penggunaan Paracetamol untuk Ibu Hamil
Meski isu ini menimbulkan kekhawatiran, para pakar tidak menyarankan ibu hamil untuk menghentikan penggunaan paracetamol tanpa saran dokter. Hingga saat ini, paracetamol tetap menjadi obat pilihan utama untuk menurunkan demam dan meredakan nyeri pada kehamilan, mengingat risiko demam yang tidak diobati dapat membahayakan janin.
Pedoman medis merekomendasikan:
-
Gunakan dosis terendah yang efektif.
-
Konsumsi sesingkat mungkin sesuai kebutuhan.
-
Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan bila nyeri atau demam tidak membaik.
Kesimpulan
Berdasarkan bukti ilmiah terkini, klaim bahwa paracetamol saat hamil menyebabkan autisme tidak memiliki dasar konklusif. Memang ada studi yang menemukan hubungan, tetapi penelitian yang lebih ketat menunjukkan bahwa risiko tersebut kemungkinan dipengaruhi faktor lain seperti kondisi kesehatan ibu atau faktor genetik.
WHO, ACOG, FDA, NHS, dan berbagai lembaga medis kredibel menegaskan bahwa paracetamol masih aman digunakan sesuai rekomendasi dokter. Kehati-hatian tetap diperlukan, tetapi menghentikan penggunaan paracetamol tanpa arahan medis bisa lebih berbahaya bagi ibu dan janin.
Baca Juga: Mandi Gerhana Bulan untuk Ibu Hamil, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Baca Juga: 7 Ramuan Herbal untuk Promil Cepat Hamil, Terbukti Secara Ilmiah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









