Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Itu Fetish? Inilah Penjelasan Lengkap, Sejarah, dan Fakta Ilmiahnya

Naufal Lanten | 5 Oktober 2025, 16:05 WIB
Apa Itu Fetish? Inilah Penjelasan Lengkap, Sejarah, dan Fakta Ilmiahnya

 

AKURAT.CO Istilah fetish sering muncul di internet, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Namun, banyak orang salah paham menganggap fetish sebagai sesuatu yang otomatis menyimpang atau berbahaya. Faktanya, secara ilmiah dan medis, tidak semua fetish termasuk gangguan.

Secara umum, fetish adalah ketertarikan atau gairah seksual yang muncul terhadap objek tertentu yang bukan alat kelamin—seperti sepatu, kain, atau bagian tubuh non-genital seperti kaki. Dalam konteks sehari-hari, istilah ini juga sering dipakai lebih luas untuk menggambarkan minat seksual spesifik yang tidak umum.

Namun, dalam dunia medis, ada istilah khusus yang lebih tepat: fetishistic disorder. Berdasarkan pedoman resmi DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) dari American Psychiatric Association, seseorang baru dapat didiagnosis mengalami gangguan fetishistic disorder jika minat atau dorongan seksual itu telah berlangsung selama enam bulan atau lebih, dan menyebabkan penderitaan signifikan atau gangguan dalam fungsi sosial maupun pekerjaan.

Artinya, tidak semua fetish dianggap gangguan, kecuali sudah menimbulkan stres berat atau melibatkan pihak lain tanpa persetujuan. Prinsip ini dibuat untuk membedakan antara variasi seksual manusia yang normal dengan perilaku yang bersifat patologis.


Asal-Usul dan Sejarah Istilah Fetish

Kata fetish sebenarnya tidak berasal dari dunia psikologi. Istilah ini awalnya digunakan dalam antropologi dan teologi untuk menyebut objek yang dianggap memiliki kekuatan magis atau spiritual.

Baru pada akhir abad ke-19, istilah ini mulai dipakai dalam konteks erotik oleh para ilmuwan seperti Alfred Binet dan Richard von Krafft-Ebing, penulis buku klasik Psychopathia Sexualis. Mereka termasuk yang pertama meneliti fenomena ketertarikan terhadap objek non-seksual dalam konteks klinis.

Kemudian, Sigmund Freud ikut mempopulerkan konsep fetish melalui teori psikoanalisisnya. Freud mengaitkannya dengan perkembangan seksual masa kanak-kanak dan mekanisme pertahanan diri psikologis. Seiring waktu, konsep ini terus berevolusi hingga muncul dalam DSM-5 dan ICD-11 modern, yang kini menekankan aspek consent (persetujuan) dan distress (penderitaan psikologis) sebagai batas utama antara variasi seksual dan gangguan.


Seberapa Umum Fetish di Masyarakat?

Berbeda dengan anggapan umum, fetish ternyata lebih umum daripada yang banyak orang pikirkan.

Sebuah penelitian besar oleh Joyal dan Carpentier (2017) menemukan bahwa sekitar 50% responden memiliki ketertarikan terhadap setidaknya satu kategori paraphilic, termasuk fetish. Sementara itu, sekitar sepertiga responden pernah melakukan praktik tersebut minimal satu kali dalam hidupnya.

Penelitian lain oleh Holvoet dan tim (2017) juga menemukan bahwa fantasi atau praktik BDSM dan fetish dialami oleh sebagian besar orang dewasa, menantang batas antara apa yang dianggap “normal” dan “tidak normal” secara seksual.

Data ini memperlihatkan bahwa minat terhadap fetish bukan hal langka, melainkan bagian dari spektrum variasi seksual manusia yang lebih luas.


Apa Penyebab Fetish Menurut Peneliti?

Sampai saat ini, belum ada satu teori tunggal yang dapat menjelaskan kenapa seseorang mengembangkan fetish tertentu. Namun, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa fenomena ini bersifat multifaktorial, artinya melibatkan kombinasi antara faktor biologis, psikologis, dan sosial.

Beberapa teori utama yang sering dibahas meliputi:

1. Teori Pembelajaran (Classical Conditioning)

Hipotesis klasik menyebut bahwa objek atau rangsangan netral bisa menjadi erotis bila sering dikaitkan dengan pengalaman seksual positif. Contohnya, seseorang yang tanpa sengaja mengalami gairah seksual saat melihat sepatu bisa saja mengasosiasikan sepatu itu dengan rangsangan seksual di kemudian hari.

Beberapa eksperimen laboratorium (seperti yang dimuat di PMC, 2012) menunjukkan bahwa respon seksual memang bisa dikondisikan terhadap stimulus tertentu, walau tidak selalu bertahan lama atau terjadi pada semua orang.

2. Sexual Imprinting (Pengalaman Awal)

Konsep ini menekankan bahwa pengalaman masa kecil atau remaja bisa membentuk preferensi seksual seseorang di masa depan. Jika ada pengalaman kuat yang berkaitan dengan gairah seksual dan objek tertentu, otak bisa “merekam” hubungan itu secara permanen.
Studi teoritis dari Diva Portal menunjukkan dukungan terbatas tapi konsisten untuk hipotesis ini, meski bukti empirisnya masih berkembang.

3. Faktor Neurobiologis atau “Cross-Wiring”

Hipotesis yang diajukan oleh V.S. Ramachandran menyatakan bahwa kedekatan area otak yang memproses sensasi kaki dan alat kelamin di korteks somatosensorik bisa menjelaskan kenapa fetish terhadap kaki cukup umum.
Namun, bukti ilmiah langsung masih lemah dan belum konklusif. Sejumlah studi neurologi lain justru tidak mendukung teori ini sepenuhnya, sehingga masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Singkatnya, fetish kemungkinan besar muncul dari kombinasi pengalaman hidup, faktor psikologis, dan mungkin sedikit pengaruh biologis yang saling berinteraksi.


Kapan Fetish Dianggap Masalah?

Sebagian besar fetish tidak berbahaya dan tidak perlu diobati selama dilakukan secara aman dan konsensual. Namun, fetish dapat menjadi masalah klinis atau hukum jika:

  • Menyebabkan penderitaan psikologis berat atau rasa malu ekstrem,

  • Mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, atau hubungan,

  • Melibatkan orang lain tanpa persetujuan (seperti pelecehan atau pemaksaan),

  • Atau melibatkan tindakan ilegal yang berpotensi merugikan pihak lain.

Menurut panduan DSM-5 dan ICD-11, hanya pada kondisi-kondisi seperti inilah seseorang bisa dikategorikan mengalami gangguan paraphilic atau fetishistic disorder.


Pendekatan Klinis dan Terapi yang Umum Dipakai

Bagi sebagian kecil individu yang mengalami distress akibat fetish, terapi psikologis dan medis dapat membantu. Pendekatan yang paling umum meliputi:

  • Terapi Kognitif-Perilaku (CBT): membantu pasien mengidentifikasi pola pikir dan perilaku yang menyebabkan stres atau risiko, serta mengajarkan strategi pengendalian dorongan.

  • Terapi pasangan: membantu pasangan memahami dan membangun komunikasi yang aman dan terbuka.

  • Farmakoterapi (obat-obatan): digunakan dalam kasus berat yang melibatkan risiko pada orang lain, misalnya dengan penggunaan SSRI atau terapi penekan hormon androgen.
    Pedoman internasional dari WFSBP (World Federation of Societies of Biological Psychiatry) merekomendasikan terapi kombinasi psikologis dan farmakologis jika risiko tergolong tinggi.

Namun, pada kebanyakan kasus fetish yang tidak berbahaya, pendekatan non-farmakologis lebih disarankan—fokusnya pada edukasi, pemahaman diri, dan konseling profesional yang bebas stigma.


Kontroversi: Apakah Fetish Harus Dianggap Gangguan?

Isu ini masih menjadi perdebatan hangat di dunia akademik dan klinis. Sebagian pihak berpendapat bahwa fetish adalah variasi alami dalam spektrum hasrat manusia selama dilakukan secara konsensual. Stigmatisasi berlebihan justru bisa memperburuk kondisi mental individu.

Pandangan modern cenderung sepakat bahwa diagnosis hanya diberikan jika fetish menyebabkan penderitaan atau membahayakan orang lain, bukan karena tidak sesuai norma sosial.

Perubahan besar juga terlihat dalam ICD-11, yang kini lebih fokus pada perilaku seksual non-konsensual dan berisiko tinggi, bukan pada minat seksual spesifik itu sendiri. Ini menunjukkan pergeseran menuju pendekatan medis yang lebih berbasis bukti dan etika.


Fetish di Era Digital: Tren dan Perubahan Sosial

Meningkatnya akses internet dan media daring membuat komunitas fetish dan kink menjadi lebih terlihat dan terbuka. Forum, media sosial, hingga platform edukasi seksual kini sering membahas topik ini secara terbuka.

Survei modern menunjukkan bahwa semakin banyak orang mengakui atau mengeksplorasi fetish mereka secara aman dan konsensual, terutama karena adanya ruang yang lebih inklusif.

Di sisi lain, tren ini juga mendorong munculnya terapis “kink-aware” atau “kink-affirmative”, yaitu profesional yang memahami variasi seksual tanpa menghakimi. Direktori seperti KAP Professionals (kapprofessionals.org) kini menjadi rujukan global bagi mereka yang mencari bantuan profesional tanpa stigma.


Kalau Kamu atau Seseorang yang Dikenal Mengalami Kebingungan Soal Fetish

Jika fetish yang dimiliki mulai menimbulkan kecemasan, rasa bersalah, atau mengganggu hubungan sosial, konsultasikan dengan psikolog atau psikiater yang memahami isu seksual. Pilih profesional yang bersertifikat dan kink-aware agar kamu bisa mendapatkan bantuan tanpa rasa takut dihakimi.

Prinsip dasar yang dipegang komunitas BDSM dan kink internasional adalah SSC (Safe, Sane, Consensual) dan RACK (Risk-Aware Consensual Kink) — artinya segala kegiatan seksual harus aman, sadar, dan didasari persetujuan penuh semua pihak.


Kesimpulan: Fetish Bukan Penyimpangan, Tapi Variasi Manusiawi

Fetish adalah bentuk ketertarikan seksual terhadap objek atau bagian tubuh non-genital yang dalam kebanyakan kasus tidak berbahaya dan tidak termasuk gangguan mental.
Ia baru dianggap gangguan bila menimbulkan penderitaan signifikan, gangguan fungsi sosial, atau melibatkan pihak lain tanpa persetujuan.

Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa melihat bahwa fetish adalah bagian dari keberagaman manusia yang luas — dan bukan sesuatu yang otomatis harus dihakimi atau ditakuti.

Baca Juga: Kasus Bunuh Diri Remaja di Malang Meningkat, Komunitas Peer Support Buddy Dibentuk

Baca Juga: Apa Itu Mindfulness dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

FAQ

1. Apa sebenarnya arti fetish dalam konteks psikologi?

Dalam psikologi, fetish adalah ketertarikan atau gairah seksual terhadap objek yang bukan alat kelamin — misalnya sepatu, kain, atau bagian tubuh non-genital seperti kaki. Selama tidak menimbulkan penderitaan atau melibatkan pihak lain tanpa persetujuan, fetish dianggap sebagai variasi seksual yang normal dan tidak berbahaya.


2. Apa perbedaan antara fetish dan fetishistic disorder?

Fetish hanya menjadi fetishistic disorder jika ketertarikan tersebut berlangsung minimal enam bulan dan menyebabkan penderitaan signifikan, gangguan sosial, atau perilaku berisiko terhadap orang lain. Perbedaan ini dijelaskan secara resmi dalam pedoman DSM-5 yang digunakan oleh para profesional kesehatan mental.


3. Apakah fetish termasuk penyimpangan seksual?

Tidak selalu. Pandangan modern dalam psikologi menganggap fetish sebagai bagian dari spektrum variasi seksual manusia. Selama dilakukan secara aman, sadar, dan konsensual (Safe, Sane, Consensual), fetish tidak dianggap penyimpangan atau gangguan mental.


4. Apakah memiliki fetish berarti seseorang harus menjalani terapi?

Tidak. Sebagian besar orang dengan fetish tidak memerlukan terapi. Bantuan profesional hanya dibutuhkan jika fetish tersebut menimbulkan stres berat, mengganggu hubungan atau pekerjaan, atau mengarah pada tindakan yang melibatkan pihak lain tanpa persetujuan.


5. Apakah fetish bisa disembuhkan?

Fetish tidak dianggap penyakit, jadi tidak perlu “disembuhkan”. Fokus terapi biasanya bukan untuk menghapus fetish, melainkan membantu seseorang mengelola perasaan atau perilaku agar tidak menimbulkan gangguan emosional maupun sosial.


6. Dari mana asal fetish seseorang?

Belum ada jawaban pasti, tetapi para peneliti menduga fetish berkembang dari kombinasi pengalaman masa kecil, proses pembelajaran (conditioning), dan faktor biologis tertentu. Setiap individu memiliki pengalaman yang unik sehingga penyebabnya bisa berbeda-beda.


7. Apakah fetish umum terjadi di masyarakat?

Ya, cukup umum. Studi oleh Joyal & Carpentier (2017) menunjukkan bahwa sekitar 50% orang dewasa memiliki ketertarikan pada satu atau lebih kategori paraphilic, termasuk fetish. Artinya, minat semacam ini bukan hal langka dan tidak otomatis menyimpang.


8. Bagaimana jika seseorang ingin mencari bantuan profesional?

Cari psikolog, psikiater, atau konselor yang memahami isu seksualitas — idealnya yang “kink-aware” atau berpengalaman menangani variasi seksual tanpa stigma. Direktori seperti kapprofessionals.org menyediakan daftar profesional yang bisa dihubungi secara aman dan rahasia.


9. Apakah fetish bisa membuat hubungan pasangan jadi lebih sehat?

Dalam beberapa kasus, iya — jika dilakukan dengan komunikasi terbuka dan prinsip consent. Banyak pasangan justru menjadi lebih dekat karena membahas batas, keinginan, dan fantasi secara jujur. Namun, tetap penting menjaga rasa hormat dan keselamatan bersama.


10. Bagaimana pandangan medis terbaru tentang fetish?

Menurut pedoman terbaru ICD-11 dan DSM-5, fetish tidak dianggap gangguan mental selama tidak menyebabkan penderitaan atau kerugian pada pihak lain. Pendekatan medis modern kini berfokus pada risiko dan dampak nyata, bukan pada penilaian moral atau sosial.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.