Akurat
Pemprov Sumsel

Kenapa Susah Kurus? Ini 7 Tipe Orang yang Secara Ilmiah Memang Lebih Sulit Turun Berat Badan

Idham Nur Indrajaya | 14 April 2026, 13:15 WIB
Kenapa Susah Kurus? Ini 7 Tipe Orang yang Secara Ilmiah Memang Lebih Sulit Turun Berat Badan
Kenapa susah kurus? Ini penjelasan ilmiah soal hormon, metabolisme, dan genetik yang bikin diet gagal tanpa disadari. Ilustrasi Gemini AI

AKURAT.CO Pernah merasa sudah makan sedikit, bahkan olahraga rutin, tapi angka di timbangan tidak bergerak? Atau lebih frustrasi lagi: berat sempat turun, lalu naik lagi tanpa alasan jelas?

Fenomena ini bukan sekadar “kurang disiplin”. Dalam banyak kasus, tubuh memang secara aktif melawan proses penurunan berat badan. Inilah alasan kenapa susah kurus dialami banyak orang, bahkan yang sudah mencoba berbagai metode diet.


Jawaban Cepat: Kenapa Susah Kurus?

Secara ilmiah, kenapa susah kurus biasanya disebabkan oleh kombinasi faktor biologis berikut:

  • Resistensi leptin (otak tidak merasakan kenyang)

  • Metabolisme yang melambat saat diet

  • Genetik yang mempermudah penyimpanan lemak

  • Hormon lapar (ghrelin) meningkat setelah diet

  • Set-point berat badan yang dipertahankan tubuh

  • Resistensi insulin

  • Sistem reward otak yang sensitif terhadap makanan

👉 Artinya, masalahnya bukan hanya “makan terlalu banyak”, tapi tubuh Anda mungkin memang dirancang untuk mempertahankan berat tersebut.


Kenapa Sudah Makan Banyak Tapi Tetap Lapar?

Ini sering terjadi pada orang dengan leptin resistance.

Leptin adalah hormon yang memberi sinyal ke otak bahwa tubuh sudah cukup energi. Namun pada banyak orang dengan lemak tubuh tinggi, sinyal ini tidak terbaca dengan baik.

Menurut Cleveland Clinic dan riset di PubMed, kondisi ini membuat:

  • Leptin tinggi, tapi otak tidak merespons

  • Rasa lapar tetap muncul meski sudah makan banyak

  • Keinginan makan (craving) sulit dikendalikan

👉 Insight penting:
Ini bukan masalah “kurang kontrol diri”. Ini adalah gangguan komunikasi antara lemak dan otak.


Kenapa Diet Berhenti Bekerja Setelah Beberapa Waktu?

Ini disebut metabolic adaptation atau adaptive thermogenesis.

Saat berat badan turun, tubuh tidak hanya membakar kalori lebih sedikit secara normal, tetapi bisa menurunkan metabolisme lebih dalam dari prediksi.

Contohnya:

  • Secara teori: kebutuhan turun 200 kkal

  • Realita: tubuh bisa menurunkan 300–500 kkal

Menurut NCBI StatPearls:

  • Penurunan berat 10% bisa menurunkan pengeluaran energi hingga 20–25%

👉 Akibatnya:

  • Defisit kalori yang dulu efektif → jadi tidak cukup

  • Berat badan stagnan (plateau)

  • Diet terasa “tidak mempan lagi”

👉 Insight baru:
Tubuh Anda bukan rusak. Tubuh Anda sedang beradaptasi untuk bertahan hidup.


Apakah Genetik Benar-Benar Membuat Sulit Kurus?

Jawabannya: ya, dalam banyak kasus.

Beberapa gen seperti FTO dan MC4R memengaruhi:

  • Rasa lapar

  • Penyimpanan lemak

  • Aktivitas spontan (NEAT)

  • Respons reward terhadap makanan

👉 Ilustrasi nyata:
Dua orang makan dan aktivitasnya mirip:

  • Orang A: berat stabil

  • Orang B: berat cepat naik

Perbedaannya bisa ada di cara tubuh memproses energi, bukan hanya jumlah kalori.

👉 Insight penting:
Genetik bukan takdir, tapi menentukan seberapa berat perjuangan untuk kurus.


Kenapa Berat Badan Mudah Naik Lagi Setelah Turun?

Ini berkaitan dengan dua hal:

1. Ghrelin Rebound (Hormon Lapar Naik)

Setelah diet:

  • Lapar lebih cepat datang

  • Kenyang lebih cepat hilang

  • Pikiran tentang makanan meningkat

2. Sel Lemak Tidak Hilang

Saat gemuk:

  • Jumlah sel lemak bisa bertambah
    Saat kurus:

  • Sel hanya mengecil, tidak hilang

👉 Artinya:
Sel lemak tetap aktif “meminta diisi kembali”.

👉 Insight yang jarang dibahas:
Menurunkan berat badan itu sulit, tapi mempertahankannya jauh lebih sulit secara biologis.


Apakah Tubuh Punya “Berat Ideal” Sendiri?

Ini dijelaskan dalam set-point theory.

Tubuh memiliki sistem yang mencoba mempertahankan berat tertentu melalui:

  • Hormon lapar

  • Metabolisme

  • Aktivitas spontan

Saat berat turun:

  • Tubuh menganggap itu ancaman

  • Lapar meningkat

  • Energi dihemat

👉 Namun, ada perdebatan:
Sebagian ilmuwan menyebutnya bukan “set point”, tapi settling point (dipengaruhi lingkungan).

👉 Kesimpulan objektif:

  • Mekanisme pertahanan berat badan itu nyata

  • Tapi target berat bisa berubah perlahan


Kenapa Tubuh Lebih Mudah Menyimpan Lemak?

Ini sering terjadi pada orang dengan insulin resistance.

Ciri umumnya:

  • Mudah lapar setelah makan

  • Energi cepat turun (crash)

  • Lemak lebih mudah disimpan

Kondisi ini sering terkait dengan:

  • Prediabetes

  • Diabetes tipe 2

  • PCOS

  • Lemak perut tinggi

👉 Insight penting:
Bukan hanya soal makan banyak, tapi bagaimana tubuh mengelola energi.


Peran Otak: Kenapa Kita Makan Padahal Tidak Lapar?

Ini bagian yang sering diabaikan: reward system otak.

Makanan tinggi:

  • gula

  • garam

  • lemak

→ memicu dopamin (hormon “senang”)

Akibatnya:

  • Makan jadi kebiasaan, bukan kebutuhan

  • Sulit berhenti meski tidak lapar

👉 Ini mirip “loop”:
makan → senang → ingin ulang → makan lagi


Simulasi Nyata: Kenapa Diet Orang Bisa Berbeda Hasilnya?

Bayangkan dua orang:

Orang A

  • Tidak ada leptin resistance

  • Metabolisme stabil

  • Respons lapar normal

Orang B

  • Leptin resistance

  • Metabolisme turun saat diet

  • Ghrelin tinggi

Mereka makan dan olahraga sama.

Hasil:

  • Orang A turun 5 kg

  • Orang B stagnan

👉 Insight kunci:
Diet yang sama tidak bekerja sama untuk semua orang, karena biologi tiap tubuh berbeda.


Implikasi: Kenapa Ini Penting di Era Modern?

Di dunia sekarang:

  • Makanan ultra-proses mudah diakses

  • Stres tinggi

  • Kurang tidur

Semua ini memperburuk:

  • hormon lapar

  • insulin resistance

  • reward system otak

👉 Dampaknya:

  • Diet makin sulit

  • Obesitas meningkat

  • Frustrasi mental meningkat

👉 Insight sosial:
Banyak orang merasa gagal, padahal mereka sedang melawan sistem biologis yang kompleks.


Penutup: Jadi, Apakah Kurus Itu Mustahil?

Tidak.

Tapi penting untuk memahami bahwa:

  • Tubuh bukan mesin sederhana

  • Ada sistem biologis yang aktif mempertahankan berat

  • Strategi diet harus disesuaikan dengan kondisi tubuh

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan lagi:

“Kenapa saya tidak bisa kurus?”

Tetapi:

“Apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saya?”

Karena dari sanalah solusi yang lebih realistis dan berkelanjutan bisa dimulai.

👉 Pantau terus perkembangan sains tentang metabolisme dan obesitas, karena pendekatan ke depan akan semakin personal dan berbasis biologi.


Baca Juga: Diet Setelah Lebaran: 8 Cara Efektif Kembalikan Berat Badan Tanpa Tersiksa

Baca Juga: Diet Tanpa Nasi Banyak Diminati, Ini Bahaya Jika Dilakukan Sembarangan

FAQ

1. Kenapa saya sudah makan sedikit tapi tetap tidak kurus?

Makan sedikit tidak selalu berarti efektif untuk turun berat badan, karena tubuh bisa mengalami metabolisme adaptif. Saat asupan kalori terlalu rendah, tubuh justru menurunkan pembakaran energi untuk bertahan hidup. Akibatnya, meskipun Anda merasa sudah diet ketat, defisit kalori tidak lagi bekerja optimal dan berat badan stagnan.


2. Kenapa saya cepat lapar lagi setelah makan?

Rasa cepat lapar setelah makan sering dipengaruhi oleh leptin resistance dan peningkatan hormon ghrelin. Pada kondisi ini, otak tidak menerima sinyal kenyang dengan baik, sehingga meski sudah makan cukup, tubuh tetap “merasa lapar”. Selain itu, konsumsi makanan tinggi gula juga bisa memicu lonjakan dan penurunan energi yang membuat lapar datang lebih cepat.


3. Apakah genetik bisa membuat seseorang lebih sulit kurus?

Ya, faktor genetik seperti variasi gen FTO atau MC4R dapat memengaruhi cara tubuh mengatur nafsu makan, metabolisme, dan penyimpanan lemak. Orang dengan kecenderungan genetik tertentu biasanya lebih mudah lapar dan lebih efisien menyimpan energi sebagai lemak. Ini menjelaskan kenapa dua orang dengan pola makan sama bisa memiliki hasil yang sangat berbeda.


4. Kenapa berat badan saya stagnan padahal sudah diet dan olahraga?

Berat badan stagnan atau plateau biasanya terjadi karena tubuh sudah beradaptasi dengan pola diet dan aktivitas yang dilakukan. Dalam kondisi ini, pengeluaran energi menurun dan tubuh menjadi lebih hemat kalori. Akibatnya, metode diet yang dulu berhasil tidak lagi efektif untuk menurunkan berat badan.


5. Kenapa berat badan mudah naik lagi setelah berhasil turun?

Fenomena ini dikenal sebagai yo-yo effect, yang terjadi karena hormon lapar seperti ghrelin meningkat setelah diet, sementara metabolisme belum pulih sepenuhnya. Selain itu, sel lemak yang sebelumnya membesar tidak hilang, hanya mengecil, sehingga tubuh cenderung “ingin kembali” ke kondisi sebelumnya.


6. Apakah insulin resistance memengaruhi sulitnya menurunkan berat badan?

Ya, insulin resistance membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak dan lebih sulit menggunakannya sebagai energi. Kondisi ini juga sering menyebabkan rasa lapar lebih cepat muncul, terutama setelah konsumsi karbohidrat tinggi. Akibatnya, proses penurunan berat badan menjadi lebih lambat dan tidak konsisten.


7. Kenapa saya tetap ingin makan padahal tidak lapar?

Keinginan makan tanpa lapar sering dipicu oleh reward system otak, bukan kebutuhan energi. Makanan tinggi gula, garam, dan lemak bisa merangsang dopamin, sehingga makan menjadi aktivitas yang memberi “rasa senang”. Inilah yang membuat seseorang tetap makan meski secara fisik tidak membutuhkan energi tambahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.