5 Prinsip Demokrasi Dalam Al-Quran, Yuk Renungi Maknanya Untuk Demokrasi Indonesia Yang Lebih Baik
User Migras | 28 November 2023, 15:19 WIB

AKURAT.CO, Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), demokrasi merupakan bentuk atau sistem pemerintahan yang seluruh rakyatnya ikut turut memerintah dengan perantara wakilnya yang terpilih. Secara umumnya, demokrasi adalah pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Dalam ajaran Islam, demokrasi terdiri dari beberapa nilai, yang mana prinsip-prinsip ini sudah dijelaskan melalui dalil Al-Quran. Bahkan nilai-nilai demokrasi yang ada dalam Al-Quran sudah ada dipakai sejak Khulafaur Rasyidin.
Dikutip dari berbagai sumber pada Selasa (28/11/2023) berikut ini nilai-nilai demokrasi dalam Al-Quran lengkap dengan tafsir penjelasannya.
Baca Juga: Hukum Berboncengan Dengan Orang Yang Bukan Mahram, Banyak Warga +62 Mengabaikan Aturan Islam Ini
Tafsir Al-Quran Tentang Nilai-nilai Demokrasi
1. Musyawarah (as-syura)
Nilai demokrasi juga berkaitan dengan prinsip melakukan musyawarah sebelum mengambil keputusan, sehingga apa yang ingin ditetapkan tidak merugikan banyak orang (masyarakat). Oleh karena itu, harus ada musyawarah dalam demokrasi.
Berkaitan dengan hal ini, prinsip musyawarah dalam demokrasi dijelaskan melalui dua surah berikut ini, yaitu pada surah Al-Imran ayat 159 dan surah Asy-Syura ayat 38.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”(QS. Al-Imran ayat 159).
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabatnya, maka beliau akan berbicara dengan lemah lembut untuk bisa memberikan ketenangan bagi mereka (sahabatnya). Sehingga para sahabatnya bisa mengerti dan lebih tekun untuk melaksanakan apa yang akan mereka lakukan.
وَا لَّذِيْنَ اسْتَجَا بُوا لِرَبِّهِمْ وَاَ قَا مُوْا الصَّلٰوةَ ۖ وَاَ مْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْ ۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”(QS. Asy-Syura ayat 38).
Tafsir dari nilai demokrasi dalam melakukan musyawarah pada surah Asy-Syura ayat 38 ini ialah; musyawarah dalam surah ini berkaitan juga dengan surah Al-Imran ayat 159, seperti dalam tafsir Jalalain mengatakan bahwa Rasulullah akan melakukan musyawarah bersama para sahabatnya untuk memutuskan segala sesuatu, dan melakukan musyawarah dengan baik tanpa tergesa-gesa.
Sejalan dengan tafsir Jalalain, dalam tafsir Ibnu Katsir juga disebutkan bahwa Rasulullah akan selalu bermusyawarah bersama para sahabat sebelum melakukan sesuatu, seperti bermusyawarah sebelum melakukan perang penting. Sehingga demikian, hati mereka merasa senang dan lega.
2. Memenuhi kepercayaan (Al-Amanah)
Dalam sebuah demokrasi, harus ada nilai kepercayaan atau amanah dalam mengemban tugas, sehingga bisa dipercaya oleh masyarakat. Adapun ayat Al-Quran beserta tafsir tentang nilai amanah (kepercayaan) dalam demokrasi ialah sebagai berikut Ini.
اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا ۙ وَاِ ذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّا سِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا
“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”(QS. An-Nisa ayat 58).
Pada tafsir Ibnu Katsir disebutkan dalam sebuah riwayat Al-Hasan dari Samurah, Rasulullah SAW bersabda; “Tunaikan-lah amanah terhadap orang yang memberi amanah padamu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang telah mengkhianatimu.” (HR. Imam Ahmad dan beberapa ahli hadis lainnya).
3. Adil (al-adalah)
Adil merupakan nilai demokrasi Islami yang tidak kalah pentingnya, sebab berbuat adil itu dapat menguntungkan semua pihak, bukan mendukung satu pihak yang mana pada akhirnya menyebabkan terjadinya permusuhan.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adil-lah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maidah ayat 8).
Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahwa berlaku adil-lah kepada setiap orang, baik itu berlaku adil pada lawan mau pun kawan. Sebab adil adalah lebih dekat dengan ketakwaan dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan, sehingga kamu akan menerima pembalasan dari padanya di akhir kelak.
4. Tanggung jawab (Al-Masuliyyah)
Sikap tanggung jawab haru ada dalam demokrasi, seperti halnya nilai-nilai demokrasi yang Islami itu tidak hanya tentang adil, amanah, atau musyawarah.
Tetapi harus ada tanggung jawab dalam setiap hal itu, sehingga bisa menjalankan amanah dan berlaku adil dengan baik.
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawabannya.” (HR. Bukhari).
5. Kebebasan (Al-Huriyyah)
Kebebasan dalam demokrasi juga harus ada, seperti kebebasan berpendapat dan lain sebagainya. Namun, ada hal yang perlu digarisbawahi yaitu dalam setiap kebebasan haru ada tanggung, sehingga apa yang disampaikan atau yang dilakukan tidak merugikan orang lain.
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Taati-lah Allah dan taati-lah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (Sunahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa ayat 59).
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Imran ayat 104).
Berkaitan dengan dua ayat di atas, itu menunjukkan bahwa kebebasan di sini ialah menyerah kepada kebaikan dan menasihati pada yang tidak baik. Sebagaimana dijelaskan pada hadis berikut ini:
“Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia mengubah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka hendaklah ia mengubah dengan hatinya, dan demikian itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).
Wallahu A'lam.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










