Kenapa Zaman Modern Banyak Orang Mudah Melukai Bahkan Menghilangkan Nyawa Orang Lain?

AKURAT.CO Dalam kehidupan modern, banyak faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, termasuk kecenderungan untuk melakukan kekerasan hingga menghilangkan nyawa orang lain.
Perubahan sosial, teknologi, ekonomi, serta nilai-nilai moral dan spiritual berperan besar dalam meningkatnya tindak kekerasan.
Namun, jika dilihat dari perspektif Islam, terdapat beberapa dalil dan prinsip yang bisa membantu menjelaskan fenomena ini.
1. Hilangnya Rasa Takut Kepada Allah
Salah satu sebab utama seseorang berani melakukan tindakan kekerasan adalah hilangnya rasa takut kepada Allah.
Dalam Islam, rasa takut kepada Allah (taqwa) menjadi penahan bagi seseorang dari melakukan kejahatan. Allah berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 12:
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar."
Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa orang yang memiliki rasa takut kepada-Nya akan selalu menghindari perbuatan jahat, termasuk membunuh.
Baca Juga: Viral! Masjid Al-Ikhlas Kartasura Sukoharjo Dapat Review Buruk 1,8 di Google Maps
2. Kehilangan Rasa Kemanusiaan (Rahmah)
Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang antar sesama manusia. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Rahmah atau kasih sayang yang mulai hilang dari hati manusia menjadikan seseorang mudah untuk melukai, bahkan membunuh sesamanya.
Hilangnya rahmah ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ketamakan, ketidakpedulian sosial, atau pengaruh lingkungan yang negatif.
3. Pengaruh Teknologi dan Media Sosial
Di era modern, teknologi informasi seperti media sosial sering kali memicu tindakan kekerasan.
Penyebaran berita palsu, hasutan, atau konten yang mempromosikan kekerasan membuat seseorang lebih mudah terprovokasi.
Dalam Islam, setiap bentuk ucapan atau tindakan yang merugikan orang lain sangat dilarang. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, media sosial yang sering kali digunakan untuk menyebarkan kebencian atau fitnah menjadi salah satu pemicu konflik yang bisa berakhir dengan kekerasan.
Contoh Kasus: Kekerasan Antar Komunitas
Salah satu contoh nyata adalah kekerasan yang terjadi antar komunitas atau kelompok sosial di berbagai tempat. Misalnya, konflik antar suku atau kelompok etnis di beberapa negara berkembang.
Kasus seperti ini sering kali dipicu oleh berita-berita palsu atau hasutan yang disebarkan melalui media sosial.
Baca Juga: MUI Tanggapi Beredarnya Video Kepala Sapi 'Ditembak' Saat Disembelih
Akibatnya, banyak nyawa melayang karena hilangnya rasa kasih sayang dan munculnya kebencian yang dipupuk oleh informasi yang salah.
Fenomena meningkatnya tindakan kekerasan hingga pembunuhan di zaman modern ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya rasa takut kepada Allah, lenyapnya rahmah di antara manusia, serta pengaruh negatif dari teknologi dan media sosial.
Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk senantiasa menjaga lisan, memperkuat iman, dan menjunjung tinggi kasih sayang kepada sesama agar terhindar dari perbuatan dosa besar seperti melukai atau membunuh.
Dengan kembali kepada nilai-nilai agama, diharapkan kekerasan di tengah masyarakat dapat diminimalisir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







