Akurat
Pemprov Sumsel

Trailer Jangan Salahkan Aku Selingkuh Viral, Apa Hukum Selingkuh dalam Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 10 Oktober 2024, 06:30 WIB
Trailer Jangan Salahkan Aku Selingkuh Viral, Apa Hukum Selingkuh dalam Islam?

AKURAT.CO Baru-baru ini, trailer sebuah film berjudul Jangan Salahkan Aku Selingkuh menjadi viral di media sosial.

Film ini mengangkat tema perselingkuhan dalam rumah tangga, yang memicu perbincangan hangat di kalangan netizen.

Perselingkuhan, baik dalam konteks kehidupan nyata maupun diangkat dalam karya seni, selalu menjadi topik sensitif dan kontroversial, terutama dari sudut pandang agama, khususnya Islam.

Maka timbul pertanyaan, bagaimana sebenarnya hukum selingkuh dalam Islam?

Pengertian Selingkuh dalam Islam

Dalam ajaran Islam, selingkuh merupakan tindakan pengkhianatan terhadap janji pernikahan, yang merupakan ikatan suci di antara suami dan istri.

Selingkuh tidak hanya mencakup perselingkuhan fisik, tetapi juga emosional. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan kesetiaan dalam hubungan pernikahan.

Hukum Selingkuh dalam Islam

Perselingkuhan dalam Islam sangat dilarang karena melanggar prinsip kesucian hubungan suami istri.

Dalam Al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang tindakan zina dan segala bentuk perbuatan yang mendekatinya.

Selingkuh, baik fisik maupun emosional, bisa dianggap sebagai salah satu bentuk perzinaan atau perbuatan yang mendekati zina.

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَىٰ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra' [17]: 32).

Baca Juga: Niat Puasa Sunah Hari Kamis dalam Bahasa Arab, Latin, dan Artinya

Dalil ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya melarang zina, tetapi juga segala perbuatan yang mendekatinya, seperti perselingkuhan.

Perselingkuhan dianggap sebagai pelanggaran terhadap amanah yang diberikan dalam ikatan pernikahan dan dapat merusak kehormatan serta martabat seseorang.

Selain itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa suami dan istri memiliki tanggung jawab untuk menjaga amanah pernikahan mereka.

Perselingkuhan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah ini, dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dampak Perselingkuhan dalam Islam

Perselingkuhan tidak hanya merusak hubungan suami istri, tetapi juga berpotensi menyebabkan dosa besar yang berdampak pada kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam kehidupan dunia, perselingkuhan bisa menimbulkan perpecahan dalam keluarga, rasa sakit hati, serta trauma bagi pasangan yang dikhianati.

Sementara itu, di akhirat, pelaku selingkuh akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah.

Allah juga berfirman tentang pentingnya menjaga kehormatan diri dan kesucian hati:

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ

"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (dari zina)." (QS. Al-Mu’minun [23]: 5)

Baca Juga: Ciri-ciri Pemahaman Islam yang Konservatif, Apakah Bertentangan dengan Visi Moderasi Islam?

Ayat ini menegaskan pentingnya menjaga kehormatan dan kesucian dalam pernikahan. Perselingkuhan, sebagai bentuk pengkhianatan, sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang mengharuskan setiap pasangan untuk saling menjaga kehormatan.

Dalam Islam, perselingkuhan adalah perbuatan yang dilarang keras karena merupakan bentuk pengkhianatan terhadap janji suci pernikahan.

Baik dalam bentuk fisik maupun emosional, selingkuh dianggap mendekati zina, yang merupakan salah satu dosa besar.

Islam menekankan pentingnya kesetiaan, amanah, dan tanggung jawab dalam hubungan suami istri, serta mengingatkan bahwa setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya di hadapan Allah.

Maka, dari perspektif Islam, selingkuh bukanlah perbuatan yang bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Sebaliknya, kesetiaan dan kejujuran merupakan kunci utama dalam menjaga keutuhan rumah tangga dan keharmonisan hubungan pernikahan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.