Calon Bupati Mesuji Janjikan Surga saat Kampanye, Begini Respons Islam!

AKURAT.CO Elfianah Khamami tiba-tiba viral di media sosial setelah video kampanyenya menarik perhatian publik.
Dalam video berdurasi 28 detik yang tersebar di sosial media, calon Bupati Mesuji dengan nomor urut 2 ini menyampaikan janji kampanye yang tidak lazim.
Ia menjanjikan bahwa masyarakat yang memilihnya pada Pilkada Mesuji 2024 akan mendapat akses ke surga, seolah-olah dirinya memiliki kuasa untuk memastikan hal tersebut.
Bagaimana Islam Memandang Hal Ini?
Dalam konteks politik dan agama, janji-janji tertentu seringkali digunakan sebagai alat untuk menarik simpati.
Salah satu yang paling memprihatinkan adalah ketika seseorang atau sekelompok politikus menjanjikan surga kepada pendukung mereka sebagai imbalan atas dukungan politik.
Janji seperti ini tidak hanya berisiko memanipulasi sentimen keagamaan masyarakat, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Islam.
1. Surga Hanya Hak Allah
Dalam Islam, pemberian balasan berupa surga adalah hak prerogatif Allah SWT. Tidak ada manusia yang memiliki otoritas untuk memastikan seseorang masuk surga, kecuali Allah berdasarkan rahmat dan amal orang tersebut. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Baca Juga: Viral di TikTok Pria Pengangguran dan Membiarkan Istri Bekerja, Bagaimana Menurut Islam?
Ayat ini menegaskan bahwa pengampunan dan balasan sepenuhnya bergantung pada kehendak dan kasih sayang Allah, bukan pada intervensi manusia, apalagi melalui janji politik.
2. Tidak Ada Perdagangan dengan Ibadah
Islam memandang keikhlasan dalam beribadah sebagai syarat diterimanya amal. Ibadah atau amal saleh yang didasari oleh kepentingan duniawi, termasuk kepentingan politik, kehilangan esensinya. Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadis ini, mendukung seseorang dalam kontestasi politik dengan niat memperoleh janji surga jelas menyalahi prinsip niat dalam beribadah. Iman dan amal seorang Muslim tidak boleh dijadikan alat transaksi politik.
3. Kampanye dengan Kebohongan adalah Dosa
Menjanjikan sesuatu yang bukan dalam kuasa manusia, seperti surga, tergolong sebagai kebohongan. Allah SWT melarang manusia untuk berdusta, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan agama. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyukan kepadaku,’ padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya?” (QS. Al-An’am: 93)
Kebohongan yang disisipkan dalam kampanye politik untuk kepentingan duniawi tidak hanya merupakan dosa kepada manusia, tetapi juga kepada Allah.
4. Dampak Merusak Janji Surga dalam Politik
Praktik menjanjikan surga dalam kampanye merusak tatanan politik dan agama. Agama yang seharusnya menjadi landasan moral masyarakat justru dijadikan alat untuk kepentingan pragmatis.
Baca Juga: Jam Koma Gen Z Viral, Bagaimana Respons Islam?
Ini menciptakan kerancuan antara ibadah dan politik serta menyesatkan umat. Rasulullah SAW memperingatkan umatnya agar berhati-hati dengan tipu daya yang membungkus agama untuk tujuan duniawi:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas umatku adalah orang munafik yang pintar berbicara.” (HR. Ahmad)
Orang-orang yang menggunakan agama untuk kepentingan duniawi, termasuk janji palsu tentang surga, dapat merusak keimanan dan kepercayaan umat.
Menjanjikan surga saat kampanye bukan hanya melanggar etika politik, tetapi juga prinsip dasar agama Islam.
Surga adalah urusan akhirat yang hanya bisa dijanjikan oleh Allah SWT berdasarkan keimanan dan amal saleh, bukan atas dasar dukungan politik.
Oleh karena itu, umat Islam harus cerdas dan kritis dalam menyikapi janji-janji politik yang membungkus diri dengan agama.
Rasulullah SAW mengajarkan kita agar tidak mudah terpedaya dan selalu menjaga kemurnian niat dalam setiap tindakan, termasuk dalam pilihan politik
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








