Apa itu Lebaran Ketupat? Kapan Dilaksanakan dan Seperti Apa Pelaksanaannya?

AKURAT.CO Lebaran Ketupat, atau dalam istilah lokal disebut juga "Bada Kupat", merupakan tradisi yang hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat Muslim Nusantara, terutama di wilayah Jawa, Madura, dan sebagian Lombok.
Meski tidak secara eksplisit disebutkan dalam ajaran Islam formal, Lebaran Ketupat telah menjadi bagian dari budaya Islam lokal yang diwariskan turun-temurun.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana agama dan budaya berinteraksi secara kreatif, membentuk praktik sosial yang khas dan kaya makna simbolik.
Dilaksanakan tepat tujuh hari setelah Hari Raya Idulfitri, Lebaran Ketupat jatuh pada tanggal 8 Syawal dalam kalender Hijriah.
Momentum ini sering kali disalahartikan sebagai bagian dari Idulfitri, padahal secara historis dan sosiologis, Lebaran Ketupat memiliki akar dan maksud tersendiri.
Dalam konteks budaya Jawa, angka tujuh memiliki makna simbolis yang kuat, sering diasosiasikan dengan kesempurnaan dan keberkahan.
Asal-usul Lebaran Ketupat sering dikaitkan dengan ajaran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang terkenal dengan pendekatan dakwah kulturalnya.
Dalam upaya menyinergikan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua fase dalam merayakan Idulfitri: pertama, Idulfitri sebagai momen spiritual setelah sebulan berpuasa, dan kedua, Lebaran Ketupat sebagai wujud sosial dari kemenangan tersebut.
Baca Juga: Hari ke-13 Operasi Ketupat: 181 Kecelakaan Terjadi di Jalur Mudik, Polisi Imbau Pengemudi Waspada
Sunan Kalijaga menganjurkan agar umat Islam yang belum sempat berpuasa enam hari di bulan Syawal segera menunaikannya setelah Idulfitri, dan merayakan “lebaran kedua” pada hari kedelapan sebagai penutup.
Ketupat, makanan khas berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur), bukan sekadar hidangan. Ia sarat makna.
Dalam filosofi Jawa, kata “ketupat” berasal dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan, serta “laku papat” yang merujuk pada empat laku spiritual: puasa, zakat, shalat, dan haji.
Bentuk segi empat ketupat melambangkan hati manusia, yang diharapkan bersih setelah melalui proses pembersihan selama Ramadan.
Pelaksanaan Lebaran Ketupat tidak hanya sebatas makan ketupat bersama. Di banyak daerah, ini menjadi ajang silaturahmi lanjutan, bahkan pesta rakyat. Di Gresik, Jawa Timur, ada tradisi “Kupatan” yang diiringi dengan sedekah laut atau arak-arakan.
Di Madura, dikenal dengan tradisi “Tellasan Topa” (Lebaran Puasa), di mana masyarakat mengadakan pesta kuliner dengan ketupat sebagai ikon utama.
Di Lombok, tradisi ini dikenal sebagai “Lebaran Topat”, yang bahkan disertai dengan ritual ziarah kubur, doa bersama, hingga festival budaya.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana masyarakat Muslim Indonesia tidak hanya memeluk Islam secara teologis, tetapi juga secara kultural.
Islam tidak datang menghancurkan budaya lokal, melainkan meresapi dan mengubahnya dari dalam. Tradisi Lebaran Ketupat menjadi bukti bahwa Islam di Nusantara tumbuh dalam harmoni budaya.
Secara sosiologis, Lebaran Ketupat memiliki nilai kohesi sosial yang tinggi. Ia menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, sarana mempererat tali silaturahmi yang mungkin belum sempat terjalin saat Idulfitri pertama.
Lebih jauh, ia juga menjadi ekspresi lokalitas dalam berislam—bahwa menjadi Muslim di Indonesia tak harus sama persis dengan Muslim di Arab Saudi atau negara lain. Ada ruang bagi interpretasi budaya, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam.
Baca Juga: Stasiun Gambir Jadi Titik Ramai Arus Balik Lebaran, Penumpang Tembus 16.700 Orang
Namun, dalam konteks modern, makna Lebaran Ketupat mulai tereduksi menjadi sekadar tradisi makan bersama. Tak sedikit yang merayakannya tanpa tahu akar filosofis dan spiritual di baliknya.
Ini jadi tantangan sekaligus peluang: bagaimana tradisi ini dilestarikan tidak sekadar sebagai event budaya, tapi juga sebagai sarana refleksi spiritual dan sosial.
Dengan demikian, Lebaran Ketupat adalah cermin dari kebudayaan Islam yang lentur, inklusif, dan penuh simbol. Ia hadir bukan untuk menggantikan Idulfitri, tapi untuk melengkapinya, memperpanjang semangat ukhuwah, dan mempererat simpul-simpul sosial dalam bingkai Islam yang ramah dan membumi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









