Muhammadiyah Dukung Pengaturan Sound Horeg: Jika Lebih Banyak Mudharat, Maka Harus Dilarang

AKURAT.CO Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sikap atas fatwa haram yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur terkait penggunaan sound horeg.
Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas, menilai bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, segala bentuk ekspresi harus tetap berada dalam koridor keteraturan dan kedamaian.
“Sebab kalau tidak diatur maka tentu sudah pasti akan terjadi kegaduhan dan ketidaktentraman dalam kehidupan bermasyarakat karena ada hak-hak orang lain yang terganggu dan terlanggar,” ujar Anwar Abbas, Selasa (15/7).
Ia menekankan bahwa keberadaan sound horeg sah-sah saja selama tidak menimbulkan gangguan atau bahaya. Namun, jika menimbulkan keresahan di masyarakat, penggunaannya perlu ditertibkan dan dikendalikan.
Baca Juga: MUI Jatim Fatwakan Sound Horeg Haram, Muhammadiyah Dukung: Ganggu Warga dan Rusak Kesehatan
“Apalagi jika karena penggunaannya juga bisa menimbulkan masalah terhadap lingkungan, misalnya merusak bangunan dan kesehatan warga atau bisa merusak pendengaran dan detak jantung orang yang mendengarnya. Maka pemerintah dan warga masyarakat tentu harus bisa mencegahnya,” ujarnya kepada Media.
Menurutnya, hukum penggunaan sound horeg bergantung pada dampaknya. Bila lebih banyak membawa mafsadat (kerusakan), maka harus dilarang. Namun, jika membawa maslahat yang lebih besar dan mudharatnya dapat diminimalisasi, maka bisa dibolehkan dengan pengawasan ketat.
“Jika merusak dan menimbulkan mafsadat, maka dilarang. Tetapi jika dia bisa menciptakan mashlahat yang lebih besar dari mafsadatnya, maka tentu boleh dengan ketentuan pemerintah dan warga masyarakat harus bisa meminimalisir mafsadatnya serendah mungkin. Untuk mengetahui maslahat dan mafsadat tersebut serta bagaimana solusinya, maka sebaiknya para ahli sangat baik untuk dilibatkan,” pungkasnya.
Baca Juga: 3 Alasan Islam Mengharamkan Sound Horeg: Mengganggu, Simbol Fasik, dan Picu Kemaksiatan
Fatwa haram atas sound horeg yang dikeluarkan MUI Jatim sebelumnya muncul sebagai respons atas keluhan warga terhadap polusi suara dari sistem audio berdaya tinggi, yang kerap digunakan dalam karnaval atau acara kampung.
Sejumlah insiden, seperti kerusakan properti warga hingga gangguan kesehatan akibat kebisingan ekstrem, memicu seruan agar praktik ini segera ditertibkan.
Sikap Muhammadiyah ini memperkuat pesan bahwa kebebasan berekspresi di ruang publik tidak boleh mengorbankan kenyamanan dan keselamatan orang lain, serta pentingnya peran otoritas keagamaan, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan kebijakan berbasis maslahat bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









