Akurat
Pemprov Sumsel

10 Hal Bahaya Jika Jurusan Filsafat Dihapus di Indonesia, Nomor 5 Bikin Takut se-Indonesia!

Fajar Rizky Ramadhan | 23 Juli 2025, 15:12 WIB
10 Hal Bahaya Jika Jurusan Filsafat Dihapus di Indonesia, Nomor 5 Bikin Takut se-Indonesia!

AKURAT.CO Ramai isu penghapusan jurusan filsafat di Indonesia. Hal ini bisa banyak menimbulkan bahaya bagi bangsa Indonesia.

Penghapusan jurusan filsafat di Indonesia akan membawa konsekuensi serius, tidak hanya bagi dunia akademik tetapi juga bagi struktur berpikir masyarakat secara keseluruhan.

Filsafat, sebagai akar dari berbagai disiplin ilmu, memainkan peran penting dalam membentuk cara pandang kritis, etis, dan reflektif terhadap dunia. Jika jurusan ini dihapus, terdapat sekurang-kurangnya sepuluh dampak yang patut diwaspadai.

Pertama, hilangnya tradisi berpikir kritis secara sistematis. Filsafat mengajarkan metode berpikir rasional dan logis. Tanpa pendidikan filsafat, generasi mendatang akan kesulitan mengembangkan argumen yang koheren dan berdasar, yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan di berbagai bidang, mulai dari hukum, politik, hingga ekonomi.

Kedua, krisis epistemologis dalam dunia pendidikan. Filsafat memberikan fondasi tentang bagaimana pengetahuan diperoleh, divalidasi, dan digunakan. Jika jurusan ini dihapus, pemahaman mendalam mengenai metode ilmiah dan keragaman paradigma keilmuan akan tergerus, yang berujung pada degradasi kualitas riset dan diskursus akademik.

Baca Juga: Isu Jurusan Filsafat Akan Dihapus, Tahukah Ada Filsafat Islam?

Ketiga, melemahnya landasan etika dalam berbagai profesi. Filsafat moral dan etika profesi merupakan bagian penting dari kurikulum filsafat. Tanpa basis ini, profesi seperti kedokteran, hukum, teknik, dan bisnis akan kehilangan panduan normatif yang mendorong tanggung jawab sosial dan integritas.

Keempat, kemunduran dalam demokrasi deliberatif. Salah satu kontribusi filsafat adalah penguatan kapasitas dialog, toleransi terhadap perbedaan, dan kemampuan mengevaluasi argumen dari berbagai sudut pandang. Penghapusan filsafat dapat mengarah pada masyarakat yang kaku, intoleran, dan mudah terpolarisasi.

Kelima, meningkatnya kerentanan terhadap manipulasi ideologis. Ini merupakan dampak yang paling mengkhawatirkan. Tanpa pendidikan filsafat, masyarakat kehilangan daya tahan terhadap propaganda dan hoaks. Ketidakmampuan membedakan argumen rasional dari retorika kosong menjadikan publik mudah dimanipulasi oleh kekuatan politik dan ekonomi, menciptakan instabilitas nasional yang sangat berbahaya.

Keenam, terputusnya dialog antaragama dan antarbudaya. Filsafat agama memainkan peran besar dalam menjembatani pemahaman lintas keyakinan. Penghapusan jurusan ini dapat memicu eksklusivisme dan konflik horizontal karena tidak adanya kerangka reflektif untuk memahami dan menghargai keragaman.

Ketujuh, stagnasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsafat ilmu memberikan kritik dan evaluasi terhadap asumsi dasar dalam sains dan teknologi. Tanpa kritik filosofis, perkembangan teknologi bisa berjalan tanpa kontrol etis atau kesadaran dampak sosial, yang berpotensi merugikan umat manusia.

Kedelapan, hilangnya kemampuan reflektif dalam kebijakan publik. Pengambilan keputusan kebijakan yang baik tidak cukup hanya berbasis data, tetapi juga memerlukan refleksi mendalam tentang nilai, tujuan, dan dampak jangka panjang. Filsafat memberikan kerangka untuk berpikir semacam ini.

Kesembilan, degradasi budaya literasi dan kesenian. Banyak produk kesenian dan sastra besar lahir dari perenungan filosofis. Tanpa filsafat, seni kehilangan kedalaman makna dan masyarakat kehilangan budaya apresiatif terhadap karya yang reflektif dan kritis.

Baca Juga: Jurusan Filsafat Hendak Dihapus, Ini Urgensi Filsafat dalam Islam

Kesepuluh, melemahnya posisi Indonesia dalam percaturan intelektual global. Dunia internasional memandang tinggi bangsa yang mampu melahirkan pemikir besar. Tanpa jurusan filsafat, Indonesia akan tertinggal dalam kontribusi pemikiran global dan kehilangan posisi strategis sebagai negara yang menjunjung tinggi kebijaksanaan dan kebebasan berpikir.

Kesepuluh poin tersebut menggambarkan pentingnya mempertahankan dan bahkan memperkuat eksistensi jurusan filsafat di Indonesia. Menghapusnya sama saja dengan mematikan salah satu nadi intelektual bangsa. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi keputusan yang bukan hanya keliru, melainkan fatal bagi masa depan peradaban Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.