Akurat
Pemprov Sumsel

Fenomena Gerhana Bulan Total Ternyata Mampu Buktikan Bahwa Bumi Itu Bulat

Fajar Rizky Ramadhan | 8 September 2025, 12:00 WIB
Fenomena Gerhana Bulan Total Ternyata Mampu Buktikan Bahwa Bumi Itu Bulat

AKURAT.CO Gerhana bulan total yang terjadi pada 7–8 September 2025 menjadi salah satu peristiwa langit yang menyita perhatian masyarakat dunia.

Tidak hanya karena keindahan fenomenanya, tetapi juga karena gerhana ini kembali mengingatkan kita pada bukti ilmiah bahwa Bumi berbentuk bulat, bukan datar seperti masih diyakini sebagian kelompok.

Sejak ribuan tahun lalu, para filsuf dan ilmuwan sudah berusaha menjawab pertanyaan mendasar mengenai bentuk Bumi. Pythagoras, salah satu tokoh besar Yunani Kuno pada abad ke-5 SM, telah mengemukakan gagasan bahwa Bumi berbentuk bulat.

Pandangan ini kemudian dikuatkan oleh pemikir lain seperti Anaxagoras dan Empedocles, yang pada sekitar 430 SM menyadari bahwa bayangan Bumi ketika gerhana bulan selalu tampak melingkar.

Logika sederhana itu terus diwarisi dan diperkuat dalam perkembangan ilmu pengetahuan, termasuk oleh tokoh-tokoh Islam seperti Al-Biruni dan Al-Idrisi.

Baca Juga: Doa saat Melihat Gerhana Bulan Total di Langit Indonesia, agar Selamat Dunia dan Akhirat

Penjelasan serupa juga ditegaskan oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin. Ia menekankan bahwa bentuk lengkung bayangan Bumi yang terlihat saat gerhana bulan menjadi salah satu bukti nyata bahwa Bumi bulat.

“Gerhana bulan menarik untuk diamati. Kelengkungan bayangan Bumi saat gerhana sebagian membuktikan Bumi yang bulat,” ujarnya dalam unggahan resmi BRIN.

Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris lurus. Pada saat itu, Bumi berada di antara Matahari dan Bulan, sehingga cahaya Matahari yang seharusnya menerangi Bulan terhalang oleh Bumi.

Peristiwa ini hanya bisa terjadi saat fase bulan purnama, namun tidak setiap purnama menimbulkan gerhana, karena orbit Bulan miring sekitar lima derajat terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari.

Yang menarik, sepanjang sejarah pengamatan, bayangan Bumi yang jatuh ke permukaan Bulan selalu berbentuk lengkung, menyerupai bagian dari lingkaran.

Jika Bumi berbentuk datar, bayangan yang dihasilkan tentu berbeda—bisa berupa garis lurus atau bentuk elips, tergantung posisi Matahari. Konsistensi bentuk lengkung itu menjadi bukti sederhana sekaligus kuat bahwa Bumi memang bulat.

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa pengetahuan ilmiah tidak berdiri di ruang kosong. Sejak Pythagoras hingga riset modern yang dilakukan oleh badan-badan antariksa, argumen tentang bentuk Bumi terus diuji dan dikonfirmasi oleh bukti alam.

Gerhana bulan total hanyalah salah satu pintu pembuktian yang dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang oleh siapa saja, tanpa perlu instrumen ilmiah canggih.

Baca Juga: 5 Fakta tentang Gerhana Bulan Total, Nomor 3 Banyak Orang Tidak Tahu!

Dengan demikian, peristiwa langit yang indah ini tidak hanya menjadi tontonan visual, tetapi juga sarana edukasi.

Ia membuktikan bagaimana alam semesta menyimpan tanda-tanda yang, bila diamati dengan cermat, mampu menjelaskan hakikat kehidupan di Bumi.

Fenomena gerhana bulan total sekali lagi mengukuhkan bahwa Bumi yang kita pijak ini berbentuk bulat, sebagaimana sudah diyakini oleh para ilmuwan sejak ribuan tahun lalu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.