Alumni dan Anak Kiai Ponpes Tawarkan Badal Umrah untuk Korban Ambruknya Mushola Al-Khoziny

AKURAT.CO Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, setelah tragedi ambruknya gedung tiga lantai yang menewaskan puluhan santri.
Sebagai bentuk penghormatan dan doa untuk para korban, sejumlah alumni hingga anak kiai pengasuh pesantren tersebut menginisiasi pelaksanaan badal umrah bagi para santri yang wafat.
Ketua Alumni Pusat Al Khoziny, Zainal Abidin, menyampaikan bahwa kegiatan badal umrah ini dilakukan atas nama pesantren dan para alumni yang kini banyak berdomisili di Makkah.
“Kami juga memberikan hadiah support kepada yang korban, khususnya yang meninggal dunia, kami badalkan umrah. Karena alumni banyak yang berdomisili di Mekkah. Sehingga kita data orangnya dan kita umrahkan mereka,” ujar Zainal, Rabu (8/10/2025).
Baca Juga: Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dalam Kacamata Pendidikan Islam
Program ini tidak hanya dilakukan oleh para alumni, tetapi juga diikuti langsung oleh Gus Ahmad Fatoni, putra pengasuh Pesantren Al Khoziny, KH Abdul Mu’id, yang saat ini sedang menimba ilmu di Makkah.
Menurut Maftuhin, salah satu alumni Pesantren Al Khoziny yang berada di Arab Saudi, kegiatan badal umrah ini merupakan bentuk doa dan penghormatan terakhir dari para alumni kepada almarhum santri sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap sesama.
“Alhamdulillah, hingga saat ini sudah ada 26 data santri yang telah mendapatkan restu dari orang tua mereka. Dari jumlah itu, 16 santri telah dilaksanakan badal umrah, sementara 10 lainnya masih dalam proses. Kami juga terus menunggu data tambahan dari keluarga santri lain yang berkenan memberikan restu,” kata Maftuhin.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan badal umrah dilakukan melalui tahapan yang tertib dan sesuai dengan syariat Islam. Selain doa melalui ibadah umrah, para alumni juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung eksistensi pesantren yang telah membimbing ribuan santri dari berbagai daerah.
“Kegiatan ini bukan hanya doa untuk para korban, tetapi juga bentuk dukungan kami kepada Pesantren Al Khoziny agar tetap tegar, bangkit, dan terus melanjutkan perjuangan mendidik santri,” tegas Maftuhin.
Para alumni yang kini tersebar di berbagai negara, terutama di Timur Tengah, berharap doa dan ikhtiar ini dapat menjadi penghibur bagi keluarga korban serta pengingat bahwa ukhuwah Islamiyah yang terjalin melalui pesantren akan terus hidup, bahkan melintasi batas negara.
Baca Juga: Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dalam Kacamata Pendidikan Islam
Sebelumnya, gedung tiga lantai di kompleks Pondok Pesantren Al Khoziny, termasuk musala asrama putra, ambruk pada Senin (29/9/2025) sore ketika ratusan santri sedang melaksanakan salat Ashar berjemaah. Bangunan tersebut diketahui masih dalam tahap pembangunan.
Hingga akhir pencarian, Basarnas mencatat total 171 korban, terdiri dari 104 orang selamat dan 67 meninggal dunia, termasuk delapan bagian tubuh yang berhasil ditemukan. Dari jumlah tersebut, 34 korban telah berhasil diidentifikasi oleh Tim DVI di RS Bhayangkara Polda Jatim, Surabaya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini







