Prof KH Said Aqil dan Ayatullah Prof Ali Abbasi Tegaskan Kesatuan Al-Qur’an: Tak Ada Perbedaan antara Sunni dan Syi'ah

AKURAT.CO Penutupan Olimpiade Nasional Al-Qur’an Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra Jakarta sekaligus peluncuran buku Ayatullah Sayyid Ali Khamenei bertajuk “Al-Qur’an: Cahaya Abadi, Panduan Peradaban Umat” berlangsung khidmat di Auditorium Al Mustafa STAI Sadra Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Acara ini menghadirkan dua tokoh besar dunia Islam, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2010-2021 dan Ayatullah Prof. Dr. Ali Abbasi, Rektor Al-Musthafa International University, Iran.
Dalam forum yang mempertemukan pemikir Sunni dan Syiah tersebut, keduanya menegaskan satu pesan yang sama: Al-Qur’an adalah satu, tanpa perbedaan, dan menjadi sumber peradaban Islam universal.
KH. Said Aqil Siradj membuka pandangannya dengan menyoroti pentingnya epistemologi Al-Qur’an sebagai dasar ilmu pengetahuan. Menurutnya, dalam sejarah Islam, ilmu pengetahuan tumbuh dari tiga pilar epistemik: bayân, burhân, dan ‘irfân.
“Ketiganya merupakan cara umat Islam memahami kebenaran wahyu. Tapi semuanya tetap berpangkal pada Al-Qur’an sebagai sumber utama,” ujar pembina Yayasan Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek, Cirebon itu.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam konteks keilmuan Islam, Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks keagamaan, tetapi juga sebagai struktur ilmu yang melahirkan budaya, peradaban, dan kemanusiaan. “Setiap ayat bukan sekadar bacaan, tapi cermin peradaban,” katanya.
Baca Juga: Milad KH Said Aqil Siroj ke-72: Momen Refleksi Peradaban Islam dan Persatuan Bangsa
Kiai yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur Jakarta itu menegaskan bahwa hakikat Al-Qur’an bukan hanya pada aspek lahirnya, tetapi juga pada kehadiran makna batiniahnya. “Zahir-nya hadir di setiap mushaf, tapi hakikatnya ada dalam jiwa dan akal umat Islam,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, mantan Ketua Umum PBNU tersebut juga menyinggung makna kemukjizatan Al-Qur’an yang tidak pernah hilang.
“Tak seperti mukjizat para nabi, mukjizat Al-Qur'an tetap nyata, setiap generasi menemukan keajaiban baru di dalamnya. Al-Qur’an selalu relevan,” tuturnya.
Sementara itu, Ayatullah Prof. Dr. Ali Abbasi menegaskan bahwa tidak ada perbedaan antara Al-Qur’an yang diyakini oleh umat Islam di Iran dengan umat Islam di dunia Sunni.
“Kami di Iran tidak memiliki Al-Qur’an yang berbeda. Saya sudah berkeliling ke banyak masjid dan mushala di berbagai negara; mushafnya satu, tidak berubah,” tegasnya.
Abbasi mengakui bahwa dalam sejarah memang terdapat riwayat-riwayat lemah (dha‘îf) yang menyebut seolah ada kekurangan dalam mushaf. Namun ia menegaskan bahwa baik ulama Syiah maupun Sunni menolak riwayat semacam itu.
“Riwayat yang mengatakan ada kekurangan dalam Al-Qur’an itu lemah, tidak bisa dijadikan hujah. Para ulama kami, Syiah maupun Sunni, sepakat: tidak ada yang diragukan dari kebenaran Al-Qur’an,” ujarnya.
Menurut Abbasi, Al-Qur’an memiliki ketinggian dan kesempurnaan yang tak tertandingi. “Kebenaran Al-Qur’an itu tinggi, suci, dan terjaga. Tidak ada satu huruf pun yang hilang,” katanya menegaskan di hadapan ratusan peserta Olimpiade Nasional Al-Qur’an.
Baca Juga: Puing Drone Iran Shahed-136 Dipamerkan di Parlemen Inggris
Dialog dua tokoh besar ini dianggap bersejarah karena memperlihatkan titik temu Sunni–Syiah dalam isu paling mendasar, yaitu kesatuan wahyu. Keduanya menyampaikan bahwa perbedaan mazhab tidak boleh mengaburkan fakta ilmiah dan teologis bahwa mushaf Al-Qur’an yang beredar di seluruh dunia adalah sama.
Dalam refleksi penutup, KH. Said Aqil Siradj menambahkan bahwa umat Islam harus kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi peradaban, bukan sekadar bacaan ritual.
“Al-Qur’an adalah cahaya abadi, petunjuk sepanjang zaman. Umat yang membaca tanpa memahami makna terdalamnya, akan kehilangan arah,” pesannya.
Acara yang digelar secara luring dan daring melalui Zoom tersebut turut dihadiri peserta dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia serta segenap sivitas akademika STAI Sadra Jakarta. Panitia menyebut kegiatan ini bukan hanya kompetisi intelektual, tetapi juga ruang persaudaraan antarmazhab.
Melalui momentum ini, dua ulama besar dunia Islam—Said Aqil Siradj dari Indonesia dan Ayatullah Ali Abbasi dari Iran—menegaskan kembali makna universal firman Tuhan:
“Tidak ada yang diragukan dari kebenaran Al-Qur’an; ia tetap satu, tetap tinggi, dan menjadi panduan peradaban umat.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








