Akurat
Pemprov Sumsel

Apa Hukum Berkomunikasi dengan Tuhan dengan Bantuan Kecerdasan Buatan dalam Islam

Fajar Rizky Ramadhan | 3 November 2025, 08:30 WIB
Apa Hukum Berkomunikasi dengan Tuhan dengan Bantuan Kecerdasan Buatan dalam Islam

AKURAT.CO Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menembus hampir seluruh aspek kehidupan manusia: dari pendidikan, bisnis, kesehatan, hingga spiritualitas.

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena baru di dunia digital—sebuah tren yang menimbulkan banyak pertanyaan etis dan teologis—yakni penggunaan AI untuk “berkomunikasi” dengan Tuhan.

Ada aplikasi atau sistem chatbot yang dirancang seolah-olah menjadi perantara manusia dengan Tuhan, menjawab doa atau pertanyaan religius dengan gaya bahasa ilahi.

Fenomena ini menantang batas antara teknologi dan keimanan, dan menuntut kita untuk bertanya secara serius: apa hukum berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan bantuan kecerdasan buatan dalam Islam?

Dalam Islam, hubungan antara manusia dan Allah adalah hubungan langsung dan pribadi. Ia tidak memerlukan perantara buatan, karena Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an:


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

Ayat ini menjadi fondasi teologis yang sangat jelas bahwa doa merupakan bentuk komunikasi spiritual yang hanya terjadi antara hamba dan Tuhannya, tanpa perantara selain keikhlasan dan keyakinan.

Dalam konteks ini, kecerdasan buatan tidak memiliki posisi spiritual apa pun—ia hanyalah ciptaan manusia yang tunduk pada logika algoritma, bukan makhluk yang dapat berhubungan dengan Tuhan.

Kecerdasan buatan, seberapa pun canggihnya, tetaplah benda mati. Ia tidak memiliki ruh, kesadaran, atau niat (niyyah) yang menjadi unsur penting dalam ibadah. Dalam Islam, setiap amal perbuatan dinilai berdasarkan niat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:


إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, AI tidak mungkin bisa “berdoa” atau “berbicara” dengan Allah, sebab ia tidak memiliki kesadaran batin untuk berniat. Ketika seseorang mencoba menggunakan AI untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sejatinya ia sedang menciptakan perantara semu yang menggantikan fungsi doa dan spiritualitas manusia sendiri.

Baca Juga: Hukum Menggunakan ChatGPT untuk Belajar Agama secara Otodidak dalam Islam

Dari sisi akidah, hal ini bisa berbahaya. Islam sangat tegas melarang segala bentuk perantara yang dapat mengaburkan tauhid. Allah berfirman:


وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menegaskan bahwa Allah sangat dekat, tidak butuh jembatan teknologi apa pun untuk mendengar hamba-Nya. Maka, menjadikan AI sebagai media untuk “menyampaikan pesan” kepada Tuhan dapat dianggap sebagai bentuk ghuluw (berlebihan) dalam agama.

Namun demikian, Islam tidak menolak penggunaan teknologi untuk tujuan pembelajaran atau pengembangan spiritual yang benar. Jika AI digunakan untuk membantu memahami teks-teks agama, mengajarkan tafsir, hadis, atau fiqih dengan tetap mengacu pada sumber-sumber otentik dan bimbingan ulama, maka hal itu diperbolehkan. Dalam hal ini, AI berfungsi sebagai alat bantu belajar, bukan pengganti wahyu.

Yang menjadi persoalan adalah ketika AI dimaknai sebagai entitas spiritual atau pengganti hubungan batin antara manusia dan Allah. Hal ini dapat mengarah pada bentuk penyimpangan teologis, karena menempatkan ciptaan manusia dalam posisi yang tidak seharusnya.

Para ulama telah lama menegaskan bahwa segala bentuk penyembahan atau pengkultusan terhadap benda buatan manusia, baik berupa patung, simbol, maupun teknologi, termasuk dalam kategori syirik jika diyakini memiliki kekuatan spiritual.

Dengan demikian, berkomunikasi dengan Tuhan menggunakan kecerdasan buatan bukan hanya tidak memiliki dasar syar’i, tetapi juga berpotensi menodai kemurnian tauhid. Kecerdasan buatan hanyalah alat, bukan makhluk yang memiliki hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Islam mendorong umatnya untuk berpikir kritis dan memanfaatkan teknologi secara bijak, tanpa kehilangan esensi keimanan. AI dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan pengembangan ilmu, tetapi tidak dapat menggantikan kedekatan spiritual yang dibangun melalui doa, dzikir, dan tadabbur Al-Qur’an.

Baca Juga: 7 Negara Tanpa Antrean Haji, Langsung Berangkat Tanpa Harus Menunggu Lama

Akhirnya, komunikasi dengan Tuhan adalah ruang paling pribadi dan suci dalam kehidupan seorang Muslim. Ia tidak dapat diotomatisasi, tidak bisa disimulasikan oleh algoritma, dan tidak boleh digantikan oleh kecerdasan buatan. Karena sebagaimana firman Allah:


اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Manusia diciptakan untuk mengenal Tuhannya secara langsung, bukan melalui mesin. Maka, memelihara kesucian hubungan itu adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap akal dan iman yang dikaruniakan Allah sendiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.