Banjir Bandang di Sibolga, Benarkah karena Pemuda Dianiaya di Masjid sampai Wafat?

AKURAT.CO Publik di media sosial sempat diramaikan oleh spekulasi liar yang mengaitkan banjir bandang dan longsor di Sibolga, Sumatra Utara, dengan insiden tragis pengeroyokan Arjuna Tamaraya, pemuda yang wafat setelah dianiaya saat beristirahat di sebuah masjid.
Narasi yang berkembang menyebut bencana terjadi sebagai “balasan” atas kematian Arjuna. Namun sejauh penelusuran, tidak ada fakta yang menunjukkan kaitan langsung antara dua peristiwa tersebut.
Di mata keluarganya, Arjuna bukan sekadar pemuda santun, tetapi tulang punggung yang memikul beban ekonomi sejak ayahnya wafat. Ia anak kedua dari empat bersaudara dan satu-satunya laki-laki dalam keluarga.
Sebelum meninggal secara tragis, Arjuna sempat pamit melaut selama lebih dari sebulan untuk mencari nafkah dan membantu biaya kuliah kakak serta adiknya di Banda Aceh. Ia sendiri mengurungkan niat kuliah karena tidak ingin menjadi beban.
Baca Juga: Banjir hingga Longsor, Pegadaian Salurkan Bantuan ke Tiga Provinsi
Kausar, pihak keluarga, menegaskan bahwa Arjuna sudah meminta izin dengan sopan sebelum beristirahat di masjid. Kesaksian ibu penjual nasi goreng menguatkan hal tersebut.
“Dia bilang, ‘Bu, boleh saya tidur sebentar di situ, saya ngantuk.’ Dan ibu itu menjawab, ‘Boleh, itu rumah Allah, rumah kita umat muslim juga’,” ujar Kausar.
Sementara itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, Kota Sibolga diguncang banjir bandang dan longsor besar pada 28–30 November 2025. Bencana ini memutus akses ke kota, merusak puluhan rumah, dan menelan ratusan korban jiwa. Hingga Minggu (30/11/2025), BNPB melaporkan 303 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya masih hilang.
Di tengah kepanikan warga, sebuah video viral menampilkan masyarakat memasuki minimarket yang terendam banjir. Banyak warganet menganggap itu sebagai aksi penjarahan. Namun Kepala BNPB Suharyanto menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan kriminalitas, melainkan kondisi darurat ketika warga membutuhkan bahan makanan.
“Kami sudah cek ke personel di lapangan, itu mereka mengambil bahan makanan. Tidak ada pemecahan kaca atau perusakan,” jelas Suharyanto kepada wartawan.
Ia menambahkan, akses menuju Sibolga masih tertutup longsor panjang, sehingga distribusi logistik dilakukan melalui air drop.
Spekulasi yang menghubungkan bencana dengan kematian Arjuna mencuat karena keduanya terjadi dalam rentang waktu berdekatan. Namun hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari otoritas maupun tokoh setempat yang mendukung narasi tersebut.
Para ahli kebencanaan juga menegaskan, banjir dan longsor dipicu faktor meteorologis dan kerentanan lingkungan, bukan akibat insiden sosial tertentu.
Baca Juga: Heboh Pria di Sibolga Diduga Nistakan Agama Islam, Apa Hukumnya Menurut Islam?
Bagi keluarga, fokus utama saat ini bukan memperdebatkan rumor, melainkan menuntut keadilan atas kematian Arjuna. Mereka berharap aparat penegak hukum menjatuhkan hukuman setimpal kepada para pelaku pengeroyokan.
Dua peristiwa ini—duka keluarga Arjuna dan krisis kemanusiaan di Sibolga—menjadi pengingat bahwa empati, perlindungan sosial, dan respons cepat terhadap warga rentan tetap menjadi keharusan bersama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










