Akurat Logo

Malaysia dan Singapura Juara Penyelenggaraan Haji di Tanah Suci, Indonesia Juara Harapan pun Tidak

Lufaefi | 4 Juni 2026, 09:10 WIB
Malaysia dan Singapura Juara Penyelenggaraan Haji di Tanah Suci, Indonesia Juara Harapan pun Tidak
Ilustrasi Juara Penyelenggaraan Haji Terbaik di Arab Saudi (MCH)

AKURAT.CO Arab Saudi resmi mengumumkan para penerima Labbaitom Award 2026, penghargaan tahunan bagi negara-negara dengan kinerja terbaik dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Dalam daftar pemenang yang dirilis Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, Malaysia kembali tampil sebagai salah satu peraih penghargaan tertinggi, sementara Indonesia tidak masuk dalam daftar penerima penghargaan pada seluruh kategori yang tersedia.

Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara Khitamuhu Misk yang digelar di Makkah dan dihadiri Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Tawfiq bin Fawzan Al-Rabiah.

Penghargaan diberikan kepada negara-negara yang dinilai memiliki tingkat kepatuhan, kualitas pelayanan, tata kelola, serta inovasi terbaik dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Baca Juga: Dadan Hindayana Dicurigai Pergi Haji dengan Uang Negara Badan Gizi Nasional

Berdasarkan hasil penilaian resmi, Malaysia berhasil meraih Diamond Award bersama Irak dan Ethiopia. Sementara itu, penghargaan Gold Award diberikan kepada Djibouti, Komoro, dan Turki. Kategori Silver Award diraih Maroko, Oman, dan Mesir. Adapun Bronze Award diberikan kepada Aljazair, Tunisia, dan Singapura.

Tidak tercantumnya nama Indonesia menjadi sorotan tersendiri mengingat Indonesia merupakan negara pengirim jemaah haji terbesar di dunia dengan kuota lebih dari 200 ribu orang setiap tahun.

Pada musim haji 2023, Indonesia pernah menerima penghargaan Labbaitom dalam kategori kepatuhan penyediaan layanan jemaah haji.

Keberhasilan Malaysia mempertahankan prestasinya disebut tidak terlepas dari konsistensi reformasi pelayanan yang dilakukan Lembaga Tabung Haji.

Pemerintah Malaysia mengintegrasikan berbagai layanan digital, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi layanan jemaah yang memungkinkan respons cepat terhadap kebutuhan peserta haji.

Selain aspek digitalisasi, Malaysia juga memperoleh penilaian positif dalam pelaksanaan program keberlanjutan lingkungan atau Green Hajj, pengelolaan logistik, serta tingkat kepuasan jemaah selama berada di Tanah Suci.

Singapura yang memiliki jumlah jemaah jauh lebih sedikit dibanding Indonesia juga berhasil masuk dalam daftar penerima penghargaan kategori Bronze Award. Keberhasilan tersebut dinilai menunjukkan bahwa ukuran kuota jemaah bukan satu-satunya faktor penentu dalam penilaian Arab Saudi.

Sejumlah indikator yang digunakan Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi dalam evaluasi tahun ini mencakup integrasi layanan digital, efektivitas koordinasi lapangan, kepatuhan terhadap regulasi, pengelolaan logistik, kualitas pelayanan kesehatan, hingga tingkat kepuasan jemaah selama menjalankan ibadah.

Baca Juga: Mulai Tiba di Tanah Air, Proses Pemulangan Jemaah Haji Didesain Lebih Cepat dan Efisien

Absennya Indonesia dari daftar penerima penghargaan memunculkan berbagai evaluasi terhadap tata kelola haji nasional. Beberapa catatan yang muncul sepanjang musim haji 2026 antara lain persoalan kesehatan jemaah lanjut usia, keterbatasan petugas pada sejumlah sektor pelayanan, hingga masih adanya kasus jemaah yang menjadi korban penipuan keberangkatan haji ilegal.

Meski demikian, pemerintah Indonesia menilai penyelenggaraan haji tahun ini tetap berjalan relatif baik. Berbagai inovasi layanan telah diterapkan, termasuk digitalisasi sebagian proses pelayanan, penguatan layanan kesehatan, serta penyaluran dam melalui jalur resmi Arab Saudi yang melibatkan sekitar 135 ribu jemaah Indonesia.

Pengamat kebijakan haji menilai tidak masuknya Indonesia dalam daftar penerima penghargaan dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi penyelenggara haji nasional.

Dengan jumlah jemaah terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding banyak negara lain sehingga membutuhkan sistem pelayanan yang semakin adaptif, terintegrasi, dan berbasis teknologi.

Arab Saudi sendiri telah mulai menyosialisasikan kerangka awal penyelenggaraan haji 1448 H/2027 M kepada seluruh negara peserta. Evaluasi musim haji 2026 diharapkan menjadi dasar pembenahan agar kualitas pelayanan jemaah Indonesia dapat semakin meningkat dan kembali bersaing dalam penghargaan pelayanan haji internasional pada tahun-tahun mendatang.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi