Akurat Logo

Muharram dan Lahirnya Kalender Hijriyah: Kisah di Balik Penanggalan Umat Islam

Lufaefi | 11 Juni 2026, 12:00 WIB
Muharram dan Lahirnya Kalender Hijriyah: Kisah di Balik Penanggalan Umat Islam
Bulan Muharram (google image)

AKURAT.CO Bulan Muharram memiliki kedudukan yang istimewa dalam tradisi Islam. Selain dikenal sebagai salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah Swt., Muharram juga menandai awal tahun dalam kalender Hijriyah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia.

Setiap kali memasuki 1 Muharram, umat Islam tidak hanya memperingati pergantian tahun, tetapi juga mengenang sejarah panjang lahirnya sistem penanggalan Islam yang hingga kini menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kalender Hijriyah tidak langsung ditetapkan pada masa Rasulullah Saw. Pada masa Nabi, umat Islam memang telah mengenal perhitungan bulan berdasarkan peredaran bulan (qamariyah), tetapi belum memiliki sistem penanggalan resmi dengan penomoran tahun seperti yang dikenal saat ini. Berbagai peristiwa biasanya dicatat berdasarkan kejadian besar yang terjadi pada masa itu.

Baca Juga: 9 Amalan Setelah Pulang Haji, Agar Ibadah Konsisten Setelah Jalani Rukun Islam ke Lima

Setelah Rasulullah Saw. wafat dan wilayah Islam semakin luas, kebutuhan akan sistem penanggalan yang baku mulai dirasakan. Surat-menyurat antarwilayah, administrasi pemerintahan, hingga pencatatan berbagai peristiwa penting membutuhkan penanggalan yang jelas agar tidak menimbulkan kebingungan.

Sejarah mencatat bahwa gagasan penyusunan kalender Islam secara resmi muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, gubernur Irak, Abu Musa al-Asy'ari, mengirimkan surat kepada Khalifah Umar yang berisi keluhan mengenai dokumen-dokumen resmi yang tidak memiliki penanggalan yang pasti.

Keluhan tersebut mendorong Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat untuk bermusyawarah menentukan sistem penanggalan yang dapat digunakan secara seragam oleh seluruh umat Islam. Dalam musyawarah itu muncul beberapa usulan mengenai peristiwa yang layak dijadikan titik awal kalender Islam.

Sebagian sahabat mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. sebagai awal penanggalan. Sebagian lainnya mengusulkan tahun diangkatnya beliau sebagai nabi dan rasul. Ada pula yang mengusulkan tahun wafatnya Rasulullah Saw. karena dianggap sebagai peristiwa besar dalam sejarah Islam.

Namun setelah melalui pembahasan yang panjang, para sahabat akhirnya sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw. dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam. Keputusan tersebut dianggap paling tepat karena hijrah merupakan momentum penting yang mengubah perjalanan dakwah Islam dari fase tekanan dan penindasan menuju fase pembangunan masyarakat Islam yang kuat dan mandiri.

Keputusan ini juga menunjukkan bahwa Islam menempatkan semangat perjuangan, perubahan, dan pembangunan peradaban sebagai tonggak sejarah yang layak dikenang sepanjang masa.

Meskipun peristiwa hijrah Nabi terjadi pada bulan Rabiul Awal, para sahabat kemudian menetapkan Muharram sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Pemilihan Muharram didasarkan pada beberapa pertimbangan.

Pertama, Muharram merupakan bulan yang datang setelah musim haji, sebuah momentum besar yang menyatukan umat Islam. Kedua, pada bulan ini banyak kaum Muslimin mulai kembali kepada kehidupan normal setelah menyelesaikan ibadah haji, sehingga dianggap sebagai awal yang tepat untuk memulai lembaran baru.

Selain itu, tekad hijrah Rasulullah Saw. juga mulai dimatangkan setelah peristiwa Baiat Aqabah yang terjadi menjelang datangnya bulan Muharram. Karena itu, Muharram dipandang memiliki keterkaitan erat dengan semangat hijrah yang kemudian menjadi dasar penamaan kalender Hijriyah.

Kalender Hijriyah sendiri menggunakan sistem qamariyah atau peredaran bulan. Dalam satu tahun terdapat dua belas bulan, yaitu Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhirah, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa'dah, dan Dzulhijjah. Jumlah hari dalam satu tahun Hijriyah berkisar antara 354 hingga 355 hari, lebih pendek sekitar sebelas hari dibandingkan kalender Masehi yang menggunakan sistem syamsiyah atau peredaran matahari.

Keberadaan kalender Hijriyah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Berbagai ibadah utama seperti puasa Ramadhan, zakat fitrah, haji, Idul Fitri, Idul Adha, hingga penentuan hari-hari besar Islam ditetapkan berdasarkan kalender ini.

Baca Juga: Tata Cara Sholat Sunah Dua Rakaat Setelah Pulang Haji

Lebih dari sekadar sistem penanggalan, kalender Hijriyah menyimpan pesan spiritual yang mendalam. Penetapan hijrah sebagai awal perhitungan tahun mengingatkan umat Islam bahwa perubahan menuju kebaikan membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan komitmen yang kuat.

Karena itu, setiap kali memasuki bulan Muharram, umat Islam tidak hanya merayakan pergantian tahun semata. Muharram menjadi momen untuk merenungkan kembali makna hijrah dalam kehidupan sehari-hari, yakni berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ketaatan, serta dari kehidupan yang biasa menuju kehidupan yang lebih bernilai di hadapan Allah Swt.

Dengan demikian, lahirnya kalender Hijriyah bukan sekadar keputusan administratif pada masa Khalifah Umar bin Khattab, melainkan warisan peradaban Islam yang sarat makna. Melalui kalender ini, semangat hijrah Rasulullah Saw. terus hidup dan menjadi inspirasi bagi umat Islam sepanjang zaman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi