Narasi Penolakan Lirboyo sebagai Lokasi Muktamar ke-35 NU Muncul, Kubu Terkait Dinilai Berbeda Kepentingan

AKURAT.CO Perdebatan mengenai lokasi pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 kembali memanas setelah beredar tulisan yang mengaitkan penolakan terhadap opsi penyelenggaraan di Pondok Pesantren Lirboyo dengan kepentingan politik internal organisasi.
Tulisan tersebut menarasikan adanya kelompok yang disebut sebagai “kubu Sultan” yang dinilai tidak menghendaki Muktamar digelar di lingkungan pesantren besar seperti Lirboyo, Kediri. Namun hingga kini belum terdapat pernyataan resmi dari pihak yang disebut dalam narasi tersebut yang mengonfirmasi tuduhan itu.
Dalam narasi yang beredar, penolakan terhadap Lirboyo disebut bukan sekadar persoalan teknis penyelenggaraan, melainkan berkaitan dengan pertimbangan pengaruh kultural, pola konsolidasi organisasi, hingga dinamika kontestasi kepemimpinan menjelang Muktamar NU ke-35.
Pihak yang menyampaikan pandangan tersebut menilai bahwa pesantren besar seperti Lirboyo memiliki basis sosial dan jaringan kiai yang kuat sehingga dianggap dapat menciptakan ruang permusyawaratan yang lebih independen dari pengaruh elite organisasi maupun aktor politik.
Narasi itu juga mengaitkan pilihan lokasi dengan isu netralitas forum, kemandirian logistik, hingga kekhawatiran terhadap potensi dominasi kelompok tertentu dalam proses pemilihan kepemimpinan.
Selain itu, muncul pula klaim bahwa lokasi muktamar dapat memengaruhi dinamika pembentukan dukungan dan arah keputusan organisasi. Namun pandangan tersebut sejauh ini masih berupa opini politik dan belum disertai bukti atau keputusan resmi yang mendukung tuduhan adanya rekayasa proses muktamar.
Baca Juga: Gus Yahya di Hadapan Prabowo: Warga NU Siap Berkhidmat untuk Bangsa dan Negara
Di sisi lain, hingga akhir Juni 2026, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sendiri belum menetapkan lokasi final pelaksanaan Muktamar ke-35. Sejumlah daerah dan pesantren disebut masuk dalam pembahasan, sementara keputusan resmi masih menunggu mekanisme organisasi.
Perdebatan mengenai lokasi muktamar menunjukkan bahwa agenda pergantian kepemimpinan NU tidak hanya dipandang sebagai proses administratif organisasi, tetapi juga menjadi arena pertarungan gagasan tentang arah jam’iyah ke depan. Namun, seluruh proses pada akhirnya tetap akan ditentukan melalui forum resmi dan mekanisme yang berlaku di internal NU.
Sumber: Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 8Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK



