Profil Pesantren Tambakberas Jombang, Ponpes yang Ditetapkan Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU

AKURAT.CO Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Penetapan tersebut diputuskan dalam rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Selasa (7/7/2026).
Keputusan itu menjadikan Tambakberas untuk kedua kalinya menjadi lokasi penyelenggaraan forum permusyawaratan tertinggi NU setelah sebelumnya sukses menjadi salah satu pusat pelaksanaan Muktamar ke-33 NU pada 2015.
Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengatakan pengalaman penyelenggaraan Muktamar sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan penting dalam penunjukan kembali Tambakberas.
"Jombang telah memiliki pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar pada 2015. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar kali ini," ujar Gus Ipul.
Selain kesiapan teknis, PBNU juga mempertimbangkan nilai historis Pesantren Tambakberas yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan Nahdlatul Ulama sejak masa awal berdirinya.
Baca Juga: Jelang Muktamar, PBNU Luncurkan Kitab Karya KH Zulfa Mustofa untuk Hidupkan Tradisi Menulis Ulama
Berdiri Sejak Masa Perang Diponegoro
Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia. Berdasarkan penuturan salah satu dzurriyah KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Muhammad Wafiyul Ahdi atau Gus Wafi, pesantren tersebut didirikan sekitar tahun 1825 oleh KH Abdussalam.
KH Abdussalam dikenal sebagai ulama asal Tuban yang juga menjadi komandan pasukan Pangeran Diponegoro untuk wilayah Madiun hingga Jawa Timur bagian timur dalam Perang Diponegoro.
Saat perang berlangsung, kawasan yang kini dikenal sebagai Tambakberas menjadi tempat persembunyian sekaligus padepokan. Setelah perang berakhir pada 1830, KH Abdussalam menetap di Jombang dan mendirikan lembaga pendidikan Islam yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
Pada masa awal berdiri, pesantren tersebut hanya memiliki tiga kamar dengan sekitar 25 santri. Karena itulah masyarakat kala itu mengenalnya sebagai Pesantren Selawe, yang dalam bahasa Jawa berarti dua puluh lima.
Selain mengajarkan ilmu agama, KH Abdussalam juga dikenal memberikan pengobatan tradisional kepada masyarakat menggunakan batu plumpang yang hingga kini masih tersimpan di kompleks pesantren.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









