Akurat
Pemprov Sumsel

Profil Lengkap Dewi Astutik, Ratu Narkoba Internasional Penyelundup 2 Ton Sabu yang Akhirnya Ditangkap di Kamboja

Shalli Syartiqa | 4 Desember 2025, 14:12 WIB
Profil Lengkap Dewi Astutik, Ratu Narkoba Internasional Penyelundup 2 Ton Sabu yang Akhirnya Ditangkap di Kamboja

AKURAT.CO ​Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menangkap Dewi Astutik, seorang buronan internasional yang disebut-sebut sebagai ratu narkoba di Kamboja. ​​

Penangkapan ini mengungkap jejak panjang keterlibatannya sebagai aktor intelektual dalam penyelundupan 2 ton sabu bernilai triliunan rupiah​.

Berikut profil dan sepak terjang Dewi Astutik dalam dunia gelap narkotika internasional.

Baca Juga: Cara Melihat Spotify Wrapped 2025 Lengkap di Aplikasi dan Web, Mudah dan Cepat!

Latar Belakang dan Identitas Dewi Astutik

​Dewi Astutik yang juga dikenal dengan alias Mami atau PA, adalah wanita berusia 43 tahun yang tercatat lahir di Ponorogo pada 8 April 1983. ​

Ia diketahui beralamat di Dusun Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Ponorogo, Jawa Timur. ​

Meskipun demikian, Kepala Dusun Gunawan menyatakan bahwa Dewi bukan warga asli daerah tersebut, melainkan pendatang dari Slahung yang menikah dengan warga setempat pada tahun 2009. ​

Warga setempat mengenalnya sebagai sosok yang tidak terlalu akrab dengan lingkungan, sering tampil dengan gaya dan penampilan yang berubah-ubah, termasuk gaya rambut yang sering berganti.

​Sebelum terjerat kasus narkoba berskala internasional, Dewi Astutik memiliki riwayat sebagai tenaga kerja wanita (TKW) selama bertahun-tahun.

​Ia pernah bekerja di Taiwan, kemudian di Hong Kong, dan terakhir di Kamboja.

​Pada tahun 2023, ia sempat pulang ke Ponorogo setelah Lebaran dan berpamitan untuk kembali bekerja ke luar negeri karena kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap di kampung.

Keterlibatan dalam Jaringan Narkoba Internasional

​Nama Dewi Astutik mulai mencuat setelah BNN mengungkap dugaan keterlibatannya sebagai aktor intelektual dalam jaringan narkoba internasional.

​Ia diduga berperan besar dalam penyelundupan sabu senilai sekitar Rp5 triliun.

​Ia juga menjadi buronan aparat penegak hukum Korea Selatan dan masuk dalam daftar red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024.

​Dewi Astutik diketahui memulai bisnis narkobanya pada tahun 2023 dan aktif beroperasi di wilayah Golden Triangle (Thailand, Myanmar, Laos).

​Ia juga terlibat dalam kasus-kasus besar tahun 2024 yang terkait dengan jaringan Golden Crescent (Asia Selatan), yang merupakan kawasan produksi dan distribusi opium global. ​

Jaringannya beraktivitas dalam pengambilan dan distribusi berbagai jenis narkotika, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, dengan tujuan negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara.

​Ia diduga kuat terhubung dengan kelompok gembong narkoba Fredy Pratama, salah satu bandar terbesar yang beroperasi di Asia Tenggara. ​

Dewi Astutik juga berperan dalam merekrut warga negara Indonesia (WNI) yang tidak memiliki pekerjaan di Kamboja untuk dijadikan kurir. ​

Kurir-kurirnya beroperasi di berbagai negara, seperti Indonesia, Laos, Hong Kong, Korea, Brasil, dan Ethiopia.

​Menurut Kepala BNN Komjen Suyudi Ario Seto, Dewi Astutik banting setir terlibat dalam jual beli narkotika setelah bertemu dengan seorang warga negara Nigeria berinisial DON, yang disebut sebagai 'godfather'. ​

Keduanya bersekongkol melakukan jual beli narkotika lintas negara Asia-Afrika sejak awal 2024, Dewi bertugas menyuplai dan mengatur kurir, sementara DON menyuplai barang narkotika dan membiayai jaringan melalui Dewi. ​

Sosok 'godfather' tersebut kini telah ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat karena menjadi buronan Drug Enforcement Administration (DEA).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.