Akurat Logo

Pengamat Membaca Sinyal Politik di Balik Penahanan Silmy Karim oleh KPK

Siti Nur Azzura | 10 Juni 2026, 09:15 WIB
Pengamat Membaca Sinyal Politik di Balik Penahanan Silmy Karim oleh KPK
KPK menahan mantan Wamen Imipas, Silmy Karim, dalam kasus korupsi pembuatan dokumen imigrasi. Foto: Akurat.co

AKURAT.CO Penahanan Silmy Karim oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa jadi sinyal memanasnya kompetisi internal di lingkaran terdekat Presiden Prabowo Subianto.

Silmy Karim selaku Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) ditahan dan dijadikan tersangka oleh KPK karena terkait masalah hukum, yaitu dugaan pemerasan terhadap para warga negara asing (WNA) yang mengurus izin tinggal di Indonesia.

Dugaan KPK, pemerasan sudah terjadi sejak Silmy Karim menjadi Dirjen Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM (2023-2024) dan berlanjut sampai ketika menjabat Wamen Imipas (2025-2026).

Baca Juga: Kasus Silmy Karim Coreng Wajah Indonesia, Kementerian Imipas Harus Dievaluasi Total

Dalam analisa Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, proses hukum terhadap Silmy Karim tidak lepas dari pertarungan politik di antara orang-orang dekat presiden.

"Kalau dilihat dari berbagai sumber informasi, Silmy Karim memiliki kedekatan dengan Sjafrie Sjamsoeddin (Menteri Pertahanan)," kata Fernando dalam keterangan tertulis kepada wartawan, Selasa (9/6/2026) malam.

Kedekatan Silmy dengan Sjafrie, lanjut Fernando, mengantarkannya ke sejumlah posisi strategis. Silmy pernah menjabat petinggi di Kementerian Pertahanan dan perusahaan BUMN.

"Saya juga juga yakin, kedekatan Silmy dengan Sjafrie yang membuat ia masuk dalam Kabinet Merah Putih," kata Fernando.

Penahanan oleh KPK membuktikan kedekatan Silmy dengan Sjafrie tak membuat eks Dirut Krakatau Steel itu kebal hukum. Terkait hal itu, Fernando melihat kemungkinan sedang berlangsung persaingan pengaruh dan peran yang begitu kuat di sekitar Presiden Prabowo Subianto.

"Sangat mungkin penahanan Silmy Karim dimaknai bahwa hubungan Prabowo Subianto dengan salah satu orang dekatnya sudah kurang baik dan sudah mulai berjarak," terang Fernando.

Baca Juga: KPK Sita Mobil Sport hingga Valas dari Rumah Silmy Karim

Fernando mengingatkan bahwa ada momen di mana Presiden tidak melibatkan tokoh penting saat melakukan kunjungan luar negeri ke Prancis padahal salah satu agenda utamanya adalah terkait dengan bidang pertahanan.

"Sepertinya secara perlahan Prabowo mulai menilai dan selektif terhadap orang di sekitarnya untuk dibiarkan tetap dekat atau harus disingkirkan karena dianggap tidak lagi loyal," kata Fernando.

Penyebab Prabowo semakin selektif bisa macam-macam. Bisa jadi Prabowo mendengar adanya survei yang menempatkan tokoh tersebut sebagai salah satu kandidat calon presiden untuk 2029.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.