Meta Bangun Pusat Data AI Terbesar di Louisiana, Elon Musk Perluas Fasilitas AI di Tennessee

AKURAT.CO Meta, perusahaan induk Facebook, mengumumkan rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) senilai $10 miliar (sekitar Rp150 triliun) di timur laut Louisiana.
Proyek ini menjadi fasilitas AI terbesar yang pernah dibangun oleh perusahaan tersebut. Dengan luas mencapai 4 juta kaki persegi, fasilitas ini diproyeksikan menciptakan 500 pekerjaan operasional tetap dan 5.000 pekerjaan konstruksi sementara.
Gubernur Louisiana, Jeff Landry, menyebut proyek ini sebagai langkah besar bagi sektor teknologi di negara bagian tersebut. Namun, rencana ini menuai kritik dari kelompok lingkungan karena bergantung pada bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik.
Meta berjanji untuk menghadirkan 1.500 megawatt energi terbarukan di masa depan dan menginvestasikan $200 juta (sekitar Rp3 triliun) untuk perbaikan infrastruktur jalan dan air di wilayah Richland Parish.
Ekspansi Proyek AI Elon Musk di Tennessee
Di sisi lain, Elon Musk melalui startup AI-nya, xAI, memperluas fasilitas superkomputer di Memphis, Tennessee. Proyek ini didukung oleh Nvidia, Dell dan Supermicro, yang berencana membuka operasional di wilayah tersebut.
Namun, fasilitas ini juga mendapat sorotan terkait polusi dan dampaknya terhadap lingkungan, terutama di area pemukiman sekitar.
Dorongan untuk Pusat Data di AS
Kementerian Perdagangan Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa kebutuhan pusat data terus meningkat seiring pertumbuhan AI global, yang diperkirakan naik 9 persen setiap tahun hingga 2030.
Negara bagian seperti Louisiana menawarkan insentif pajak untuk menarik perusahaan teknologi besar, dengan harapan dapat memacu perekonomian lokal.
Kritik terhadap Dampak Lingkungan
Proyek Meta di Louisiana juga menghadapi kekhawatiran dari kelompok lingkungan terkait ketergantungan pada energi gas alam.
Dikutip dari Apnews.com, Jumat (6/12/2024), Entergy, penyedia listrik utama di Louisiana, berencana membangun tiga pembangkit listrik tenaga gas untuk mendukung fasilitas ini.
Sementara itu, kelompok advokasi meminta agar beban biaya tidak dibebankan pada masyarakat.
Kedua proyek ini mencerminkan persaingan antara perusahaan teknologi besar dalam mengembangkan fasilitas AI, sekaligus menyoroti tantangan dalam menjaga keseimbangan antara perkembangan teknologi dan keberlanjutan lingkungan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








