AKURAT.CO Presiden Donald Trump memulai langkah besar dengan mencabut kebijakan keamanan kecerdasan buatan (AI) yang dibuat oleh pendahulunya, Joe Biden, hanya beberapa jam setelah kembali ke Gedung Putih.
Kebijakan yang dicabut tersebut sebelumnya dirancang untuk mengawasi perkembangan teknologi AI secara lebih ketat, tetapi arah baru Trump masih menjadi tanda tanya.
"Saya pikir pesanan sebelumnya memiliki banyak hal di dalamnya," ujar Alexandr Wang, selaku CEO perusahaan AI Scale, dikutip dari Apnews, Sabtu (25/1/2025).
Meskipun ada beberapa poin yang ia setujui, Wang optimis bahwa pemerintahan Trump dapat membawa perubahan positif dengan pendekatan yang lebih kolaboratif antara industri dan pemerintah.
Trump disebut-sebut ingin mengurangi pembatasan terhadap pengembangan AI dan mendorong inovasi, sejalan dengan dukungan dari beberapa pelaku industri teknologi.
Namun, hingga kini, pemerintahan Trump belum memberikan pernyataan resmi terkait kebijakan pengganti.
Apa yang Telah Dilakukan Biden?
Kebijakan Biden sebelumnya melibatkan berbagai lembaga pemerintah untuk mempelajari dampak AI, mulai dari keamanan siber hingga dampaknya pada pendidikan dan tempat kerja.
Hasil dari kajian ini sudah tersedia untuk digunakan oleh sektor publik maupun swasta, sehingga pencabutan kebijakan ini dipandang lebih bersifat simbolis.
Beberapa poin penting dari kebijakan Biden mencakup kewajiban bagi perusahaan teknologi untuk berbagi detail pengembangan model AI dengan pemerintah sebelum dirilis.
Langkah ini bertujuan untuk mencegah potensi risiko, seperti penyalahgunaan AI untuk deepfake atau diskriminasi. Namun, pendekatan ini dikritik oleh sebagian pihak yang menganggapnya membatasi inovasi.
Perbedaan Pendekatan dan Ideologi
Langkah Trump membatalkan kebijakan AI Biden juga dipandang sebagai bagian dari upaya politik untuk menonjolkan perbedaan ideologis.
Kampanye Trump menyebut kebijakan Biden sebagai hambatan inovasi yang dipengaruhi 'ideologi Kiri Radikal'.
Namun, sejumlah pakar menilai langkah ini tidak cukup mempertimbangkan risiko keamanan dan privasi yang melekat pada pengembangan AI.
Ke Mana Arah Kebijakan AI Trump?
Meskipun Trump telah mencabut beberapa kebijakan, ia belum menyentuh aturan terbaru Biden yang mempermudah ekspansi pusat data AI dengan mendorong penggunaan energi terbarukan.
Bahkan, Trump menyatakan dukungannya terhadap investasi besar-besaran hingga $500 miliar (sekitar Rp7,5 triliun) untuk pengembangan pusat data AI melalui kemitraan antara OpenAI, Oracle dan SoftBank.
Langkah Trump ini menunjukkan bahwa meskipun ada perbedaan ideologi, fokus pada pengembangan teknologi AI tetap menjadi prioritas.
Namun, masih perlu dilihat apakah kebijakan baru yang diusulkan dapat menjawab tantangan keamanan dan etika yang dihadapi teknologi ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









