Akurat
Pemprov Sumsel

Saham Teknologi AS Stabil Usai Trump Umumkan Biaya Baru Visa H-1B

Petrus C. Vianney | 23 September 2025, 19:25 WIB
Saham Teknologi AS Stabil Usai Trump Umumkan Biaya Baru Visa H-1B

AKURAT.CO Saham perusahaan teknologi di Amerika Serikat (AS) relatif stabil pada Senin (22/9/2025). Hal ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan biaya baru sebesar $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) untuk pengajuan visa kerja H-1B.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah keras imigrasi yang sudah lama menuai kontroversi. Banyak pihak khawatir aturan baru ini akan meningkatkan biaya tenaga kerja dan membatasi akses perusahaan terhadap pekerja terampil.

Visa H-1B sendiri dirancang untuk membantu perusahaan AS mempekerjakan tenaga asing di bidang teknologi dan teknik. Namun, kenaikan biaya dipandang bisa menambah beban operasional perusahaan yang sangat bergantung pada talenta global.

Raksasa teknologi seperti Amazon, Google, Meta dan Microsoft termasuk sponsor terbesar program visa ini. Mereka memanfaatkan jalur H-1B untuk merekrut insinyur serta pengembang asing yang mendukung inovasi di bidang komputasi awan dan kecerdasan buatan.

Menurut data resmi, lebih dari 70 persen visa H-1B pada tahun lalu diberikan kepada warga negara India. Selama masa jabatan pertama Trump, aturan pengajuan visa sudah diperketat dengan pengawasan ketat yang bahkan memicu gugatan hukum dari kalangan industri.

Sejumlah analis menilai dampak kebijakan baru ini masih terbatas karena hanya berlaku untuk aplikasi visa baru. Meski demikian, pasokan pekerja terampil yang makin terbatas bisa mendorong kenaikan upah lokal dan menekan margin keuntungan perusahaan.

Pergerakan saham perusahaan terkait visa H-1B juga beragam. Saham Cognizant, JP Morgan dan Intel dilaporkan bergerak antara turun 1,7 persen hingga naik 1,9 persen, sebagaimana dikutip dari Reuters, Selasa (23/9/2025).

Kelompok lobi industri seperti Nasscom India dan Kamar Dagang AS diperkirakan akan menolak kebijakan ini. Mereka menilai biaya tambahan justru dapat menghambat inovasi dan menyulitkan perekrutan talenta global.

Dampak juga terasa di pasar India, di mana sub-indeks teknologi anjlok hampir 3 persen pada Senin. Koreksi tersebut ikut menyeret indeks acuan Nifty 50 ke level yang lebih rendah.

Saham Infosys yang terdaftar di AS tercatat naik tipis 1 persen, sedangkan Wipro turun 0,5 persen. Tekanan biaya baru ini dinilai dapat memperlambat pertumbuhan pendapatan perusahaan IT India yang sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat.

Menurut analis Ambit Capital, biaya USD 100.000 hampir dua kali lipat dari gaji rata-rata pekerja IT India. Kondisi tersebut membuat pengajuan visa H-1B baru dianggap tidak masuk akal secara ekonomi bagi perusahaan India.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.