Akurat
Pemprov Sumsel

1.500 Unit Ludes, Rumah Rp98 Juta di Purwakarta Jadi Sorotan Menteri PKP

Esha Tri Wahyuni | 15 April 2026, 12:50 WIB
1.500 Unit Ludes, Rumah Rp98 Juta di Purwakarta Jadi Sorotan Menteri PKP
Proyek HWB Purwakarta tawarkan rumah mulai Rp98 juta dengan cicilan Rp500 ribu, jadi model nasional program 3 juta rumah pemerintah.

AKURAT.CO Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait meninjau langsung proyek Hunian Warisan Bangsa (HWB) di Purwakarta, Jawa Barat, yang kini menjadi prototipe nasional rumah terjangkau dalam program pembangunan 3 juta rumah.

Proyek ini menarik perhatian karena menawarkan harga unit mulai Rp98 juta jauh di bawah rata-rata rumah subsidi pemerintah.

Dalam kunjungannya, Maruarar menyebut proyek tersebut sebagai terobosan penting dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Baca Juga: Kolaborasi BP BUMN dan Kementerian PKP, Percepat Program 3 Juta Rumah di Perkotaan

“Ini adalah terobosan yang sangat penting. Hunian berkualitas dengan harga terjangkau seperti ini adalah kunci untuk membuka akses kepemilikan rumah bagi masyarakat luas. Ini bukan hanya tentang rumah, tetapi tentang masa depan dan martabat,” ujar Maruarar dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Data proyek menunjukkan, unit satu kamar tidur dipasarkan mulai Rp98 juta, sementara dua kamar tidur mulai Rp115 juta. Angka ini berada di bawah harga rumah subsidi skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang secara umum berada di atas Rp160 juta.

Dari sisi pembiayaan, skema cicilan ditawarkan mulai Rp500 ribu per bulan. Bahkan, untuk tahap awal, tersedia cicilan ringan sekitar Rp170 ribu per bulan selama 15 bulan pertama.

Proyek yang mulai dikembangkan sejak Juli 2025 dan diluncurkan melalui skema pre-selling pada Maret 2026 ini telah mencatat penjualan lebih dari 1.500 unit dalam waktu singkat.

Program pembangunan 3 juta rumah merupakan salah satu agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi backlog perumahan nasional. Berdasarkan data Kementerian PUPR sebelumnya, backlog kepemilikan rumah di Indonesia masih berada di kisaran 9–12 juta unit dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga: BPKP Tegaskan Kerugian Rp1,5 Triliun Kasus Korupsi Chromebook Nyata, Bukan Prediksi

Selama ini, program rumah subsidi seperti FLPP menjadi tulang punggung penyediaan hunian terjangkau. Namun, keterbatasan harga dan kenaikan biaya konstruksi membuat harga rumah subsidi terus meningkat.

Kemunculan proyek dengan harga di bawah Rp100 juta menjadi fenomena baru, sekaligus uji lapangan terhadap efisiensi model pembangunan berbasis kawasan terpadu.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan wilayah Purwakarta dipilih karena memiliki kebutuhan riil yang tinggi terhadap hunian pekerja.

“Ini adalah pembangunan yang tidak hanya membangun rumah, tetapi membangun kehidupan dan masa depan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.

Secara geografis, Purwakarta berada di koridor strategis Jakarta–Bandung dan dikelilingi kawasan industri dengan ribuan pabrik, yang menciptakan permintaan tinggi terhadap hunian terjangkau.

Dari sisi ekonomi, proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp1,5 triliun dan diproyeksikan menciptakan lebih dari 3.000 lapangan kerja hingga pertengahan 2026.

Mayoritas material dan tenaga kerja berasal dari wilayah Jawa Barat, sehingga memberikan efek pengganda (multiplier effect) terhadap ekonomi lokal.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyatakan proyek ini membawa dampak langsung bagi masyarakat.

“Ini membawa manfaat nyata, lapangan kerja, investasi, dan harapan baru bagi masyarakat Purwakarta,” ujarnya.

Selain itu, respons masyarakat menunjukkan adanya unmet demand yang signifikan terhadap hunian murah. Sejumlah calon pembeli mengaku baru pertama kali melihat skema kepemilikan rumah dengan harga dan cicilan serendah ini.

“Tidak pernah membayangkan bisa punya rumah sendiri dengan harga seperti ini,” ujar Ina Tiya, seorang pekerja pabrik.

Proyek HWB Purwakarta saat ini menjadi model kolaborasi antara pengembang besar dan lokal, yakni HWB Group, Lippo Cikarang, dan Iwang Prejadi. Skema kemitraan ini dinilai dapat menjadi acuan dalam mempercepat pembangunan perumahan nasional.

Perwakilan Lippo Cikarang, Ketut Wijaya, menyebut kolaborasi tersebut sebagai langkah strategis.

“Kami bangga dapat berkontribusi dalam menghadirkan solusi perumahan yang nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dengan capaian penjualan awal dan struktur harga yang agresif, proyek ini kini menjadi uji nyata apakah model rumah di bawah Rp100 juta dapat direplikasi secara luas.

Pemerintah mendorong model serupa untuk diterapkan di wilayah lain, terutama di kawasan industri dengan kebutuhan hunian tinggi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.