AKURAT.CO Bank BTN akan terus mengembangkan program kepemilikan hunian terjangkau di tahun 2024 untuk mendukung program perumahan nasional.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan berbagai strategi akan dijalankan guna tercapainya program hunian terjangkau.
Di antaranya, Bank BTN akan terus mengembangkan pasar KPR pada segmen emerging affluent dan affluent melalui penambahan sales center baru pada kantor wilayah untuk meningkatkan akuisisi KPR non subsidi pada segmen tersebut dengan ticket size di atas Rp750 juta.
Baca Juga: BTN Ramal Sektor Properti di 2024 Cerah
"Kemudian juga dilakukan ekspansi kredit high yield beyond mortgage dan kredit dalam value chain real estate dengan menyasar UMKM dan kontraktor," ujar Nixon di sela diskusi Bloomberg Technoz Economic Outlook 2024 di Jakarta, Rabu (7/2/2024).
Dengan rencana tersebut, ditargetkan kredit akan mengalami pertumbuhan sebesar 12% pada tahun 2024.
Ditambahkan, strategi hunian terjangkau tersebut bak gayung bersambut dengan tren Gen Z yang mengaku mengalami kesulitan untuk membeli rumah khususnya di perkotaan seperti DKI Jakarta.
Dikatakan, untuk di daerah sendiri, Gen Z masih banyak yang mengantre untuk membeli rumah. "Kalau yang di Jakarta iya (kesulitan), tapi kalau di Puwakarta dan Cikarang mereka masih rame antre untuk membeli," imbuhnya.
Nixon menjelaskan, saat ini rendahnya pertumbuhan perumahan tidak bisa digeneralisasikan. Karena untuk bangunan high rise building memang menurun. Namun untuk rumah model sederhana untuk keluarga masih tumbuh di angka double digit.
Ia optimistis ditengah tahun politik ini sektor properti khususnya perumahan tetap akan tumbuh double digit seiring jumlah pernikahan baru yang tetap tinggi mencapai 800.000 sampai 1,2 juta pernikahan baru setiap tahunnya.
Ditambah angka backlog perumahan yang masih tinggi mencapai 12,7 juta unit yang menjadi potensi bisnis yang sangat besar untuk sektor properti.
Menurut Nixon, industri perumahan sangat mendorong pertumbuhan ekonomi lantaran memiliki efek turunan ke 173 sektor. Ha tersebut menjadi kesempatan sendiri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lewat sektor perumahan.
"Kalau rumah untuk investasi growth nya lebih slow memang. Karena ada 12,7 juta keluarga belum punya rumah, sedangkan kemampuan developer hanya 600-800 ribu. Yang belum punya di negara ini masih banyak soalnya," ungkap Nixon.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










