Ekonom Soroti Tantangan Ekonomi Global, Divergensi Suku Bunga Bank Sentral

AKURAT.CO Ketidakpastian terkait arah suku bunga global semakin meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian global.
Menurut Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, kebijakan divergen dari bank sentral utama dunia, seperti ECB dan BoE yang memberikan sinyal dovish, serta langkah SNB dalam melakukan pemangkasan suku bunga acuan, dipicu oleh proses disinflasi dan kondisi ekonomi yang kontraksi di Eropa dan Inggris Raya.
"Kebijakan divergen dari bank sentral utama dunia adalah respons terhadap proses disinflasi dan kondisi ekonomi yang kontraksi di Eropa dan Inggris Raya," kata Josua Pardade kepada Akurat.co, Sabtu (6/4/2024).
Baca Juga: Ekonom: Ekspektasi Pasar Terkait Suku Bunga Acuan Fed Berkisar di Antara 5,25-5,5 Persen
Menurutnya, keputusan ECB dan BoE yang memberikan sinyal dovish, serta langkah SNB dalam melakukan pemangkasan suku bunga acuan, adalah langkah yang dipicu oleh kondisi tersebut.
Selanjutnya, Josua juga menyoroti keputusan Bank of Japan yang keluar dari zona suku bunga negatif, mencermati inflasi yang tinggi dan risiko inflasi ke depan. Meskipun demikian, BoJ tetap akan mempertahankan sikap akomodatif.
Sementara itu, ia mengungkapkan the Fed merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dan inflasi AS ke atas, menunjukkan kekuatan ekonomi yang masih solid.
"Meskipun demikian, kebijakan tetap terbuka terhadap pemotongan suku bunga," jelasnya.
Dampak divergensi kebijakan suku bunga global terasa di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dengan investor kembali mencari safe haven assets dan mencatatkan net outflow di pasar obligasi. "Kami melihat adanya sentimen risk-off yang meningkat," ujar Josua.
Pardade juga menyoroti risiko kembalinya twin deficit di Indonesia, yang memengaruhi kekhawatiran terhadap pembiayaan APBN dan menekan pasar obligasi negara.
Dalam konteks ini, Bank Indonesia dihadapkan pada tantangan dalam menentukan kebijakan moneternya. Langkah-langkah stabilisasi dan strategi operasi moneter pro-market diharapkan dapat menjaga stabilitas Rupiah dalam jangka pendek, menurut Pardade.
"Risiko inflasi dan keputusan Fed memengaruhi langkah BI," kata Josua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









