Akurat
Pemprov Sumsel

Jasa Keuangan Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

Hefriday | 12 Februari 2025, 05:34 WIB
Jasa Keuangan Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa perekonomian Indonesia, khususnya sektor jasa keuangan (SJK), tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tantangan global.

Faktor-faktor seperti tingginya tensi geopolitik, fragmentasi perdagangan dunia, serta pemilihan umum di berbagai negara, termasuk Indonesia, tidak menghambat pertumbuhan sektor keuangan nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PITJK) 2025 di Jakarta, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2024 mencapai 5,03%.

“Indikator kinerja sektor jasa keuangan tetap positif, didukung oleh fondasi permodalan yang solid, likuiditas yang mencukupi, dan profil risiko yang terkelola dengan baik,” ujar Mahendra di sela acara PITJK, di Jakarta, Selasa (11/2/2025).

Dari sisi intermediasi, perbankan mencatat pertumbuhan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp7.827 triliun, meningkat 10,39% secara tahunan. Angka ini menunjukkan pertumbuhan double digit yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan, dengan tetap menjaga risiko kredit pada level yang terkendali.

Baca Juga: Kapan Peta Jalan Usaha Bulion Diluncurkan? Ini Kata OJK

Sementara itu, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan juga mencatat pertumbuhan 6,92% menjadi Rp503,43 triliun.

Selain perbankan, sektor keuangan nonkonvensional juga mengalami peningkatan yang signifikan. Outstanding pembiayaan dari fintech peer-to-peer (P2P) lending tercatat sebesar Rp77,02 triliun, mengalami lonjakan hingga 29,14%.

Sementara itu, skema pembiayaan buy now pay later (BNPL) yang dilakukan oleh perbankan mencapai Rp22,12 triliun, tumbuh 43,76%. Sedangkan BNPL yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan meningkat 37,6% menjadi Rp6,82 triliun.

Industri pergadaian juga menunjukkan tren positif dengan total pembiayaan yang mencapai Rp88,05 triliun, meningkat 26,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Data ini menegaskan bahwa sektor jasa keuangan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap layanan keuangan yang lebih fleksibel.

Sementara itu, di sektor pasar modal, penghimpunan dana berhasil melampaui target yang dipatok di atas Rp200 triliun dan mencapai Rp259,24 triliun dari 199 penawaran umum. Sebanyak 36% dari jumlah tersebut didominasi oleh sektor keuangan, menunjukkan tingginya minat investor terhadap industri ini.

Dari sisi partisipasi investor, jumlah investor pasar modal terus mengalami peningkatan yang signifikan. Dalam lima tahun terakhir, jumlah investor tumbuh enam kali lipat, mencapai 14,87 juta investor per akhir Desember 2024.

Lonjakan ini mencerminkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap investasi di pasar modal, didukung oleh digitalisasi layanan keuangan. Mahendra juga menegaskan bahwa indikator likuiditas sektor jasa keuangan masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan.

“Capital adequacy ratio (CAR) sektor perbankan tercatat sebesar 26,69 persen, yang merupakan salah satu tingkat tertinggi di antara negara-negara kawasan,” ungkapnya.

Tingginya rasio kecukupan modal ini menjadi modal penting bagi perbankan dalam menghadapi potensi risiko ekonomi global di masa mendatang. Ia menambahkan bahwa keberhasilan menjaga ketahanan sektor jasa keuangan tidak lepas dari sinergi yang kuat antara OJK dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya.

“Dukungan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), serta kontribusi dari industri jasa keuangan secara keseluruhan, menjadi faktor kunci dalam pencapaian ini,” jelas Mahendra.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa