Menko Airlangga Akui Literasi Keuangan Jadi Tantangan Terbesar Peningkatan Inklusi Keuangan

AKURAT.CO Pemerintah terus berupaya meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia. Presiden Prabowo Subianto bahkan mengimbau masyarakat untuk memiliki rekening perbankan sebagai bagian dari strategi memperluas akses keuangan formal.
Namun, dibalik pencapaian yang sudah diraih, masih ada sejumlah tantangan yang harus diatasi.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat ini sekitar 89% masyarakat Indonesia sudah memiliki akses ke layanan perbankan, namun masih ada kesenjangan, terutama di daerah seperti Maluku Utara dan Halmahera.
"Salah satu hambatan utama dalam inklusi keuangan adalah rendahnya literasi keuangan di masyarakat. Data menunjukkan bahwa meskipun penggunaan akun keuangan formal sudah mencapai 88,7 persen, tingkat literasi keuangan baru berada di angka 65,4 persen," paparnya di Jakarta, Sabtu (22/3/2025).
Baca Juga: Dipanggil Presiden Prabowo, Menko Airlangga Laporkan Perkembangan Perekonomian Nasional
Hal ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang sudah memiliki akun bank, tetapi belum sepenuhnya memahami cara menggunakannya secara optimal atau mengelola keuangan mereka dengan baik.
Selain itu, kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan juga menjadi masalah. Tingkat inklusi keuangan di perkotaan mencapai 91,5%, tetapi di pedesaan masih 84,8%.
Perbedaan ini dipengaruhi oleh akses terhadap infrastruktur perbankan yang lebih terbatas di daerah terpencil, serta masih adanya preferensi terhadap transaksi tunai dibandingkan sistem digital.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya, seperti membentuk Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) dan menggandeng BUMN untuk meningkatkan literasi keuangan.
Namun, sosialisasi dan edukasi harus lebih gencar dilakukan agar masyarakat benar-benar memahami pentingnya menggunakan layanan perbankan dengan bijak.
Baca Juga: Jaga Daya Beli, Menko Airlangga Imbau Pengusaha Bayar THR Lebih Cepat dari H-7
Tantangan lain yang dihadapi adalah keamanan dalam transaksi digital. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan layanan perbankan digital, ancaman kejahatan siber seperti penipuan online dan pencurian data pribadi juga meningkat. Hal ini membuat sebagian orang ragu untuk beralih ke transaksi digital.
Sebagai langkah konkret, pemerintah telah mengintegrasikan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk menyinergikan data antar kementerian dan lembaga. Data ini digunakan untuk memastikan bantuan sosial dapat disalurkan dengan lebih efisien dan transparan.
Meskipun sudah ada perkembangan positif, jalan menuju inklusi keuangan yang merata masih panjang.
Perlu kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk mengatasi hambatan yang ada dan memastikan setiap warga negara bisa mengakses layanan keuangan secara aman dan efisien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kuota Gratis 81 GB HUT ke-81 RI Viral di WhatsApp, Ini Faktanya
- 2Bukan Febrie Adriansyah, Eksekutor Aset PT GBU Ternyata Anggota Tim 9 Hari Wibowo
- 3Demo Hari Ini di Bundaran HI, BEM UI Bawa 8 Tuntutan, Apa Saja Isinya?
- 420 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaru, Cocok untuk Rayakan HUT ke-81 RI Hari Ini!
- 5Kode Redeem FF Spesial 17 Agustus 2026, Ada Hadiah Gratis untuk Rayakan HUT ke-81 RI
- 6Diduga Selewengkan Kas RW Rp11 Miliar, Mantan Ketua dan Sekretaris RW di PIK Dilaporkan ke Polisi
- 7BEM UI Demo 18 Agustus di Bundaran HI, Ternyata Ini 8 Tuntutannya!
- 8Ben-Gvir Serukan Pembunuhan 30–40 Orang di Gaza Tiap Malam, Netanyahu Dikritik dari Kanan
- 9Lebih Inklusif dan Merakyat, Pemerintah Semarakkan HUT ke-81 RI di Kampung-kampung Padat Penduduk
- 10RUU Perampasan Aset Ditargetkan Sah Desember 2026









