Laba Bersih Bukit Asam Merosot 16 Persen, Ini Biang Keroknya!

AKURAT.CO PT Bukit Asam Tbk membukukan laba bersih sepanjang 2024 sebesar Rp5,10 triliun atau menurun 16% jika dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp6,10 triliun.
Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), Arsal Ismail mengungkapkan penurunan laba bersih perusahaan disebabkan penurunan harga batu bara yang terjadi sepanjang tahun 2024.
"Kenapa turun? turunnya ini terutama disebabkan oleh harga jualnya yang memang turun," jelasnya dalam Konferensi Pers Kinerja Keuangan dan Operasional Tahun Buku 2024 PTBA di Hotel Westin, Jakarta, Senin (14/2/2025).
Baca Juga: Bukit Asam (PTBA) Cetak Laba Bersih Rp5,10 Triliun di 2024
Kendati mengalami penurunan harga, Arsal mengklaim hal ini masih bisa diimbangi dengan jumlah produksi batu bara PTBA sepanjang tahun 2024 yang juga mengalami peningkatan.
"Kalau dilihat di awal-awal 2023 kan penjualan kita sebesar 35 hingga 37 juta ton produksinya. Tapi di tahun 2024 kita kan naik tuh 40 juta penjualan, jadi volume naik," terangnya.
"Tapi tadinya kalau harga jualnya sama pasti naik lebih besar dari 2023, tapi karna harga turun, otomatis drastis turunnya, lumayan besar. 2023 masih di atas 100, turunnya kurang lebih 12 persen," lanjut Arsal.
Arsal juga mengungkapkan untuk 2025, pihaknya menargetkan produksi batu bara mencapai Rp50 juta ton. Target itu naik 25% dari realisasi 2024.
Baca Juga: Sidang Kasus Korupsi PLTU Bukit Asam, Saksi Ahli Sebut Kerugian BUMN Bukan Kerugian Negara
"Persiapan perkembaangan produksi kami harus optimis volume bisa tercapai 50 juta ton, begitu juga penjualannya. ,eski harganya fluktuasi, sampai sekarang insyaallah masih sustain masih bisa pertahankan," tegasnya.
Sebagai informasi, sepanjang tahun 2024 memang terdapat berbagai tantangan seperti koreksi harga batu bara dan fluktuasi pasar. Rata-rata indeks harga batu bara ICI-3 terkorek 12% secara tahunan dari USD84,76 per ton pada 2023 menjadi USD74,19 per ton di 2024.
Sedangkan rata-rata indeks harga batu bara Newcastle terkoreksi 22% secara tahunan menjadi USD134,85 per ton pada 2024, dari USD172,79 per ton pada 2023.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal








