Bitcoin Tertekan ke USD105.000, Investor DIimbau Waspadai Volatilitas Pasar
Hefriday | 12 Oktober 2025, 16:25 WIB

AKURAT.CO Harga Bitcoin mengalami tekanan tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif besar terhadap produk asal China.
Kebijakan tersebut langsung memicu gelombang risiko global yang mengguncang pasar ekuitas, komoditas, dan aset kripto secara bersamaan.
Dalam satu jam setelah pengumuman itu, Bitcoin sempat merosot hingga menyentuh level USD105.000 sebelum kembali menguat ke atas USD111.000.
Gejolak tersebut menjadi sinyal bahwa pasar kripto tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan perdagangan global.
Krisis ini diperburuk oleh langkah lanjutan dari Gedung Putih. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menaikkan tarif impor produk China hingga 100% dan memberlakukan pembatasan ekspor pada perangkat lunak penting.
Krisis ini diperburuk oleh langkah lanjutan dari Gedung Putih. Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan menaikkan tarif impor produk China hingga 100% dan memberlakukan pembatasan ekspor pada perangkat lunak penting.
Baca Juga: 3 Rekomendasi Kripto Altcoin dari Ajaib yang Bisa Jadi Pilihan di Tengah Tekanan Harga Bitcoin
Sebagai balasan, China juga mengumumkan biaya tambahan terhadap kapal yang terkait dengan AS mulai 14 Oktober mendatang. Kebijakan saling balas tersebut dikhawatirkan mengganggu rantai pasok global dan menekan arus perdagangan internasional.
Menurut data dari CoinGlass, lebih dari USD8 miliar posisi long terlikuidasi dalam waktu kurang dari satu jam. Dari jumlah tersebut, sekitar USD1,83 miliar di antaranya berasal dari posisi Bitcoin, sedangkan USD1,68 miliar lainnya melibatkan Ethereum.
Menurut data dari CoinGlass, lebih dari USD8 miliar posisi long terlikuidasi dalam waktu kurang dari satu jam. Dari jumlah tersebut, sekitar USD1,83 miliar di antaranya berasal dari posisi Bitcoin, sedangkan USD1,68 miliar lainnya melibatkan Ethereum.
Secara total, lebih dari 1,4 juta investor terdampak likuidasi dengan transaksi terbesar mencapai USD87,53 juta pada pasangan BTC/USDT.
Dampak gejolak itu juga terlihat dari kapitalisasi pasar kripto global yang menyusut sekitar 13% menjadi USD3,78 triliun, sementara volume perdagangan 24 jam mencapai USD333,8 miliar, ini adalah angka tertinggi sejak Agustus 2025.
Dampak gejolak itu juga terlihat dari kapitalisasi pasar kripto global yang menyusut sekitar 13% menjadi USD3,78 triliun, sementara volume perdagangan 24 jam mencapai USD333,8 miliar, ini adalah angka tertinggi sejak Agustus 2025.
Angka tersebut menandakan adanya lonjakan aktivitas jual-beli di tengah kepanikan pasar.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai bahwa koreksi tajam ini menunjukkan bagaimana aset digital seperti Bitcoin dapat bereaksi cepat terhadap ketegangan geopolitik dan perubahan sentimen risiko global.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai bahwa koreksi tajam ini menunjukkan bagaimana aset digital seperti Bitcoin dapat bereaksi cepat terhadap ketegangan geopolitik dan perubahan sentimen risiko global.
“Bitcoin sering disebut sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakstabilan moneter, tetapi dalam kondisi ekstrem, ia berperilaku seperti aset berisiko tinggi,” jelas Antony dalam keterangannya, Minggu (12/101/2025).
Antony menjelaskan, kombinasi antara pasar global yang terguncang, likuiditas yang menipis, dan aksi jual berantai akibat posisi leverage menjadi pemicu utama penurunan harga.
Antony menjelaskan, kombinasi antara pasar global yang terguncang, likuiditas yang menipis, dan aksi jual berantai akibat posisi leverage menjadi pemicu utama penurunan harga.
Namun, setelah fase kepanikan mereda, aksi beli algoritmik ikut membantu menstabilkan harga Bitcoin di atas level psikologis USD110.000.
Dirinya menekankan pentingnya pemahaman konteks makroekonomi bagi investor kripto. Menurutnya, koreksi tajam ini bukanlah tanda melemahnya fundamental Bitcoin, melainkan respons alami terhadap eskalasi ketegangan perdagangan dan kondisi pasar yang volatil.
Dirinya menekankan pentingnya pemahaman konteks makroekonomi bagi investor kripto. Menurutnya, koreksi tajam ini bukanlah tanda melemahnya fundamental Bitcoin, melainkan respons alami terhadap eskalasi ketegangan perdagangan dan kondisi pasar yang volatil.
“Investor yang mampu menjaga perspektif jangka panjang justru bisa memanfaatkan momen seperti ini untuk membangun posisi strategis,” ujar Antony.
Lebih lanjut, Antony menyebut bahwa arah pergerakan Bitcoin dalam jangka menengah masih positif.
Lebih lanjut, Antony menyebut bahwa arah pergerakan Bitcoin dalam jangka menengah masih positif.
“Jika ketegangan AS–China mulai mereda atau muncul pembicaraan baru, Bitcoin bisa berkonsolidasi di kisaran USD112.000 hingga USD118.000. Namun, bila isu tarif dan perang dagang terus berlanjut, harga kemungkinan bergerak fluktuatif di antara USD105.000–120.000,” paparnya.
Dirinya menambahkan, disiplin investasi dan manajemen risiko menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.
Dirinya menambahkan, disiplin investasi dan manajemen risiko menjadi kunci dalam menghadapi kondisi pasar yang bergejolak.
“Pasar yang sehat bukan hanya yang naik, tetapi yang mampu bertahan dalam badai. Mereka yang memahami mekanisme likuidasi, level support, dan perilaku pasar global akan menemukan peluang di tengah kepanikan,” ujarnya.
Antony juga menilai, meski volatilitas global tinggi, ekosistem perdagangan kripto di Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik.
Antony juga menilai, meski volatilitas global tinggi, ekosistem perdagangan kripto di Indonesia menunjukkan ketahanan yang baik.
Dengan pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta peningkatan literasi keuangan digital, pasar kripto nasional kini jauh lebih siap menghadapi tekanan global dibanding beberapa tahun sebelumnya.
“Fenomena ini harus menjadi pelajaran bagi industri kripto di Indonesia untuk terus memperkuat edukasi dan perlindungan konsumen. Platform seperti INDODAX berkomitmen menjaga transparansi, keamanan, dan keseimbangan informasi agar investor memahami baik risiko maupun peluang yang ada,” tukas Antony.
“Fenomena ini harus menjadi pelajaran bagi industri kripto di Indonesia untuk terus memperkuat edukasi dan perlindungan konsumen. Platform seperti INDODAX berkomitmen menjaga transparansi, keamanan, dan keseimbangan informasi agar investor memahami baik risiko maupun peluang yang ada,” tukas Antony.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










