Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Modal Indonesia: IHSG Melemah, Investor Asing Net Sell

AKURAT.CO Ketika konflik di Timur Tengah memanas, efeknya ternyata terasa hingga ke layar aplikasi saham di Indonesia. Dampak konflik Timur Tengah bukan sekadar berita luar negeri—ia langsung tercermin pada pergerakan IHSG, arus dana asing, hingga kenaikan yield obligasi negara.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, tekanan pasar memang mulai mereda di akhir Februari 2026. Namun volatilitas kembali muncul di awal Maret, dipicu eskalasi geopolitik. Lalu, seberapa besar efeknya ke pasar modal kita?
Apa Dampak Konflik Timur Tengah ke Pasar Modal Indonesia?
Konflik Timur Tengah memicu ketidakpastian global yang berdampak pada:
IHSG terkoreksi 1,13% (mtd) dan 4,76% (ytd) per 27 Februari 2026
Investor asing mencatat net sell Rp0,36 triliun
Yield SBN naik 10,04 bps (ytd)
Volatilitas meningkat di awal Maret 2026
Artinya, risiko global membuat investor cenderung mengurangi eksposur di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
IHSG Februari 2026: Tekanan Mereda, Tapi Belum Sepenuhnya Pulih
IHSG ditutup di level 8.235,49 pada 27 Februari 2026. Secara month-to-date terkoreksi 1,13 persen, dan year-to-date melemah 4,76 persen.
Pjs. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, menyampaikan bahwa tekanan memang mulai mereda. Namun OJK tetap memantau volatilitas awal Maret yang dipicu konflik geopolitik Timur Tengah dan terus berkoordinasi dengan SRO untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan.
"OJK terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan SRO dalam mengambil langkahlangkah kebijakan yang diperlukan," ujar Hasan saat konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Selasa, 3 Maret 2026.
Rata-rata nilai transaksi harian saham tercatat Rp25,62 triliun—turun dari Januari, tetapi masih konsisten di atas Rp20 triliun sejak Agustus 2025.
Net Sell Investor Asing dan Kenaikan Yield SBN
Konflik global biasanya memicu aksi “flight to safety”. Investor asing memilih instrumen yang lebih aman seperti dolar AS atau obligasi negara maju.
Di Indonesia:
Investor asing mencatat net sell Rp0,36 triliun
Di pasar SBN, nonresiden mencatat net sell Rp3,35 triliun (mtd)
Yield SBN naik 1,76 bps (mtd) dan 10,04 bps (ytd)
Kenaikan yield berarti harga obligasi turun. Ini sinyal bahwa pasar sedang menyesuaikan risiko global.
Reksa Dana dan AUM Justru Tumbuh
Menariknya, di tengah tekanan pasar:
AUM industri investasi mencapai Rp1.115,71 triliun (+7% ytd)
NAB reksa dana Rp726,26 triliun (+7,54% ytd)
Net subscription reksa dana Rp16,09 triliun (mtd)
Artinya, investor domestik masih aktif melakukan pembelian. Jumlah investor pasar modal bahkan tumbuh menjadi 22,88 juta atau naik 12,34 persen (ytd).
Ini menunjukkan kepercayaan jangka panjang masih terjaga.
Apakah Pasar Modal Indonesia Masih Aman?
Secara struktural, kondisi pasar masih relatif stabil:
Likuiditas terjaga
Partisipasi ritel tinggi (53%)
Penghimpunan dana korporasi mencapai Rp39,09 triliun (ytd)
Aktivitas bursa karbon mencatat akumulasi transaksi Rp91,87 miliar
Namun risiko eksternal tetap menjadi faktor utama. Konflik geopolitik dapat memicu lonjakan harga energi, tekanan inflasi, hingga pelemahan rupiah.
Generasi Muda Harus Panik atau Strategis?
Bagi Gen Z dan milenial yang baru mulai investasi, gejolak seperti ini sering memicu kepanikan. Padahal, volatilitas adalah bagian dari siklus pasar.
Paradoksnya, saat banyak orang takut, justru peluang valuasi murah muncul.
Yang lebih berisiko bukanlah fluktuasi jangka pendek, melainkan keputusan emosional tanpa strategi. Konflik global mungkin tak bisa dikendalikan, tetapi cara kita meresponsnya bisa.
Simulasi Sederhana: Dampaknya ke Investor Ritel
Bayangkan seorang karyawan usia 28 tahun rutin membeli reksa dana saham tiap bulan. Saat konflik memanas dan IHSG turun 3–5 persen, nilai portofolionya ikut terkoreksi.
Jika ia berhenti investasi karena panik, ia kehilangan potensi rebound ketika pasar pulih. Namun jika tetap disiplin, ia justru membeli di harga lebih rendah.
Di sinilah pentingnya memahami konteks, bukan sekadar mengikuti sentimen.
Kenapa Dampak Konflik Timur Tengah Ini Penting?
Karena pasar modal bukan hanya milik investor besar. Ia memengaruhi:
Dana pensiun
Reksa dana pendidikan
Pembiayaan perusahaan
Stabilitas ekonomi nasional
Konflik di luar negeri bisa berdampak pada biaya pinjaman, nilai tukar, hingga harga kebutuhan pokok.
Memahami dinamika ini membantu kita lebih siap, baik sebagai investor maupun pekerja.
Penutup Reflektif
Dunia semakin terhubung. Ketegangan ribuan kilometer dari Jakarta bisa langsung terasa di indeks saham dalam hitungan jam.
Pertanyaannya bukan lagi apakah konflik global akan berdampak, melainkan seberapa siap kita menghadapinya.
Pantau terus perkembangan pasar dan kebijakan regulator untuk melihat bagaimana arah pasar modal Indonesia bergerak ke depan.
Baca Juga: OJK Periksa 32 Kasus Pasar Modal, Manipulasi Saham Jadi Sorotan Utama
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Tekan IHSG, BEI Minta Investor Rasional
FAQ
1. Kenapa konflik Timur Tengah bisa memengaruhi IHSG?
Konflik Timur Tengah meningkatkan ketidakpastian global sehingga investor cenderung mengurangi risiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dampaknya, IHSG bisa terkoreksi karena aksi jual investor asing dan sentimen negatif pasar. Selain itu, potensi kenaikan harga energi akibat konflik juga dapat menekan inflasi dan memperburuk persepsi risiko ekonomi.
2. Apakah investor asing benar-benar keluar dari pasar modal Indonesia?
Data terbaru menunjukkan investor asing mencatat net sell di pasar saham dan SBN, meski nilainya lebih kecil dibanding bulan sebelumnya. Ini menandakan ada aksi pengurangan risiko, tetapi belum terjadi arus keluar besar-besaran. Pergerakan dana asing biasanya sangat sensitif terhadap isu geopolitik dan arah kebijakan global.
3. Bagaimana dampak konflik geopolitik terhadap obligasi dan yield SBN?
Ketegangan global bisa mendorong kenaikan yield SBN karena investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk mengompensasi risiko. Saat yield naik, harga obligasi turun. Kondisi ini umum terjadi ketika pasar menghadapi volatilitas dan investor global mencari aset yang dianggap lebih aman.
4. Apakah reksa dana ikut terdampak konflik Timur Tengah?
Reksa dana saham dan campuran bisa ikut tertekan ketika IHSG melemah, karena nilai aktiva bersih (NAB) mengikuti pergerakan pasar. Namun jika dana kelolaan (AUM) tetap tumbuh dan net subscription positif, itu berarti investor domestik masih percaya pada prospek jangka panjang pasar modal Indonesia.
5. Haruskah investor ritel panik saat pasar saham turun karena konflik global?
Koreksi akibat konflik global biasanya bersifat sentimen jangka pendek, bukan perubahan fundamental ekonomi secara langsung. Investor ritel sebaiknya fokus pada strategi jangka panjang dan profil risiko masing-masing. Keputusan emosional saat volatilitas tinggi justru berpotensi merugikan dalam jangka panjang.
6. Siapa yang paling terdampak dari gejolak pasar akibat konflik Timur Tengah?
Pihak yang paling terdampak adalah investor jangka pendek, trader aktif, dan pelaku usaha yang bergantung pada pembiayaan pasar modal. Selain itu, pergerakan yield obligasi dan nilai tukar juga bisa berdampak pada biaya pinjaman serta sektor yang sensitif terhadap harga energi dan impor.
7. Apakah kondisi pasar modal Indonesia masih stabil di tengah konflik?
Meski terjadi volatilitas dan net sell investor asing, likuiditas pasar masih terjaga dan jumlah investor domestik terus bertambah. Aktivitas penghimpunan dana dan pertumbuhan industri investasi juga menunjukkan fondasi pasar tetap kuat. Artinya, stabilitas masih terjaga meski tekanan eksternal meningkat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









