Pembiayaan Multifinance Tembus Rp78,16 Triliun di Januari 2026, Ini Pendorongnya

AKURAT.CO Industri multifinance di Indonesia memulai tahun 2026 dengan kinerja yang solid. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan baru multifinance mencapai Rp78,16 triliun pada Januari 2026, dengan porsi terbesar berasal dari pembiayaan multiguna.
Data ini menunjukkan bahwa permintaan pembiayaan masyarakat untuk konsumsi, investasi, hingga modal kerja masih kuat di awal tahun.
Selain itu, pertumbuhan pembiayaan juga didorong oleh pemulihan pasar otomotif serta ekspansi sektor usaha di berbagai daerah, termasuk wilayah timur Indonesia yang mencatat pertumbuhan signifikan.
Baca Juga: Outlook Multifinance 2026: Berburu Emiten dengan Potensi Multibagger
Tren ini memperlihatkan bahwa sektor multifinance tetap menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung aktivitas ekonomi nasional, terutama dalam pembiayaan kendaraan, alat berat, serta kebutuhan konsumsi masyarakat.
Penyaluran Pembiayaan Multifinance Capai Rp78,16 Triliun
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman menyatakan, bahwa penyaluran pembiayaan baru industri multifinance pada Januari 2026 mencapai Rp78,16 triliun.
Menurut Agusman, komposisi pembiayaan masih didominasi oleh segmen multiguna.
“Penyaluran tersebut didominasi pembiayaan multiguna dengan porsi 47,47 persen. Secara nominal, pembiayaan multiguna mencapai Rp37,10 triliun, pembiayaan investasi Rp18,72 triliun, dan pembiayaan modal kerja sebesar Rp17,04 triliun,” ujar Agusman dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Dominasi pembiayaan multiguna mencerminkan masih tingginya kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan konsumtif maupun kebutuhan rumah tangga yang didukung oleh fasilitas kredit dari perusahaan pembiayaan.
Modal Kerja Diproyeksi Jadi Penopang Pertumbuhan 2026
OJK memproyeksikan segmen pembiayaan modal kerja akan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri multifinance sepanjang 2026.
Agusman menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan masyarakat dalam pengadaan barang dan jasa, serta ekspansi usaha di berbagai sektor ekonomi, menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan pembiayaan tersebut.
Dirinya menilai tren ini sejalan dengan mulai pulihnya aktivitas bisnis dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha untuk memperluas kapasitas produksi maupun operasional mereka.
Papua Selatan Catat Pertumbuhan Tertinggi Nasional
Pertumbuhan pembiayaan multifinance juga terlihat kuat di beberapa daerah, terutama di kawasan timur Indonesia.
OJK mencatat Provinsi Papua Selatan menjadi wilayah dengan pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance tertinggi secara nasional, yakni mencapai 116,09% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026.
Agusman mengatakan, lonjakan tersebut salah satunya didorong oleh peningkatan pembiayaan alat berat.
“Peningkatan pembiayaan yang signifikan di wilayah tersebut antara lain didorong oleh pembiayaan alat berat yang mencapai Rp484,69 miliar,” jelasnya.
Tingginya pembiayaan alat berat mencerminkan aktivitas pembangunan dan investasi sektor riil yang terus berkembang di wilayah tersebut.
Pasar Otomotif Pulih, Pembiayaan Kendaraan Ikut Tumbuh
Selain sektor alat berat dan pembiayaan usaha, pemulihan pasar otomotif nasional juga menjadi faktor penting yang mendorong kinerja industri multifinance pada awal 2026.
Agusman menyampaikan bahwa dalam periode 2022 hingga 2025, piutang pembiayaan kendaraan roda empat tumbuh rata-rata 6,80% secara tahunan.
Menariknya, pembiayaan untuk mobil bekas justru mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni sekitar 12,75% yoy.
Hal ini menunjukkan bahwa kendaraan bekas masih menjadi pilihan masyarakat karena harga yang lebih terjangkau dibandingkan kendaraan baru.
Per Januari 2026, total penyaluran pembiayaan kendaraan roda empat tercatat mencapai Rp229,43 triliun.
Pembiayaan Kendaraan Listrik Melonjak 39,13 Persen
Tren elektrifikasi kendaraan juga mulai memberikan dampak positif bagi industri pembiayaan.
OJK mencatat pembiayaan kendaraan listrik tumbuh 39,13% secara tahunan menjadi Rp21,05 triliun pada Januari 2026.
Peningkatan tersebut sejalan dengan naiknya penjualan kendaraan listrik di Indonesia, didorong oleh berbagai insentif pemerintah serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan.
Agusman memperkirakan tren pembiayaan kendaraan listrik masih akan terus tumbuh sepanjang 2026.
OJK Proyeksi Industri Multifinance Tumbuh 6–8 Persen
Melihat dinamika ekspansi usaha dan pergerakan positif di sektor otomotif, OJK menilai prospek industri multifinance pada tahun ini tetap menjanjikan.
Agusman menyebutkan bahwa target pertumbuhan piutang pembiayaan industri multifinance sebesar 6–8% pada 2026 masih tergolong realistis.
“Untuk mencapainya, perusahaan perlu mengoptimalkan potensi sektor dan wilayah yang prospektif dengan tetap menjaga kualitas aset dan manajemen risiko,” kata Agusman.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











