Akurat
Pemprov Sumsel

Defisit APBN per Februari 2026 Tembus Rp135,7 Triliun

Andi Syafriadi | 11 Maret 2026, 15:54 WIB
Defisit APBN per Februari 2026 Tembus Rp135,7 Triliun
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa

AKURAT.CO Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tercatat Rp135,7 triliun hingga akhir Februari 2026 atau setara 0,53% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan angka tersebut masih berada dalam koridor desain APBN tahun ini yang menargetkan defisit Rp698,15 triliun atau sekitar 2,68% dari PDB.

“Defisit APBN tercatat sekitar Rp135,7 triliun atau 0,53 persen dari PDB yang masih berada dalam koridor desain APBN 2026,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Maret 2026 di Jakarta.

Baca Juga: Kemenkeu Evaluasi Dampak Lonjakan Harga Minyak Global

Secara keseluruhan, pendapatan negara hingga Februari 2026 mencapai Rp358 triliun atau 11,4% dari target APBN sebesar Rp3.153,6 triliun. Angka tersebut meningkat 12,8% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Kontributor utama berasal dari penerimaan perpajakan yang mencapai Rp290 triliun atau 10,8% dari target. Rinciannya, penerimaan pajak tumbuh 30,4% yoy menjadi Rp245,1 triliun, sementara kepabeanan dan cukai tercatat Rp44,9 triliun atau turun 14,7% yoy.

Menurut Purbaya, penurunan pada komponen kepabeanan dan cukai dipengaruhi fluktuasi harga komoditas serta produksi industri. Namun data terbaru menunjukkan kinerja cukai mulai pulih.

“Data terakhir menunjukkan penerimaan cukai sudah tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan,” kata dia.

Baca Juga: Purbaya: APBN Disiapkan Jadi Peredam Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp68 triliun atau 14,8% dari target, namun turun 11,4% yoy. Penurunan ini salah satunya disebabkan perubahan mekanisme penerimaan dividen BUMN yang kini dialihkan ke Badan Pengelola Investasi Danantara.

"Defisit yang tetap terkendali menjadi indikator penting bagi investor dan lembaga pemeringkat kredit karena mencerminkan kesehatan fiskal pemerintah. Stabilitas fiskal juga memengaruhi biaya utang negara serta persepsi risiko terhadap aset keuangan domestik," ucap Purbaya kembali.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.