Akurat
Pemprov Sumsel

Hari ke-16 Perang AS-Iran, Berikut Update Kondisi Pasar Keuangan RI dan Global

Yosi Winosa | 16 Maret 2026, 11:48 WIB
Hari ke-16 Perang AS-Iran, Berikut Update Kondisi Pasar Keuangan RI dan Global
IHSG

AKURAT.CO Sejak pecah pada 28 Februari 2026, perang AS-Iran terus tereskalasi dan sudah berlangsung selama 16 hari. Lantas bagaimana dampaknya ke pasar keuangan Indonesia dan global?

Menurut riset Eastspring Investment, anak usaha Prudential, IHSG masih menunjukkan tren bearish. Selama 11 hari perdagangan terakhir, indeks hanya mampu menguat dalam dua hari dan secara year-to-date tercatat telah terkoreksi hampir 20% sejak awal tahun.

Pasar Keuangan Domestik

Hingga sesi I perdagangan Senin (16/3/2026), IHSG sempat anjlok lebih dari 3% dalam waktu kurang dari 15 menit setelah pasar dibuka. Pada sesi I, IHSG menyentuh level terendah di 6.917,32. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan yang meluas di hampir seluruh sektor.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia USD100, Apa Dampaknya ke IHSG dan Saham Indonesia?

Secara keseluruhan, pergerakan saham menunjukkan dominasi tekanan jual. Sebanyak 77 saham menguat, 564 saham melemah, dan 84 saham stagnan. Aktivitas perdagangan pada sesi pertama juga relatif sepi dengan nilai transaksi Rp2,64 triliun yang melibatkan 7,01 miliar saham dalam 335.764 transaksi. Kapitalisasi pasar turut menyusut menjadi sekitar Rp12.360 triliun.

Beberapa saham bahkan tercatat menjadi pemberat utama pergerakan indeks, seperti saham DSSA menjadi kontributor pelemahan terbesar dengan tekanan sekitar 18,24 poin indeks. Lalu saham BREN masuk dalam jajaran laggard IHSG pada sesi pagi. Saham lain yang turut membebani indeks antara lain BRMS, BBRI, TLKM, BBCA, dan BMRI.

Hal ini mencerminkan pasar saham Indonesia turut mengalami tekanan seiring meningkatnya sentimen risk-off global. IHSG pada Jumat, 13 Maret 2026 sendiri ditutup turun 3,05% ke level 7.137,21, sejalan dengan koreksi IDX80 sebesar 3,12% dan LQ45 yang turun 3,04%.

Tekanan terutama berasal dari saham DSSA (-11,47%), AMMN (-10,41%), DCII (-7,89%), BMRI (-4,23%), dan BREN (-4,18%). Menjelang libur panjang Idulfitri 1447 H, pelaku pasar cenderung bersikap lebih defensif dengan aktivitas perdagangan yang melambat serta aksi ambil untung untuk menjaga likuiditas.

Investor asing membukukan penjualan bersih (capital outflow) dalam pasar saham senilai IDR117,06 miliar pada hari jumat, atau secara year to date capital outflow mencapai Rp8,85 triliun per 13 Maret 2026.

Selama perang AS-Iran berlangsung, modal asing yang kabur dari pasar saham RI sebetulnya menyusut, dimana posisi 27 Maret 2026 sebesar Rp9,51. Namun sentimen modal asing juga dibayangi risiko pelebaran defisit fiskal apabila harga minyak bertahan tinggi.

Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa jika rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) mencapai USD92 per barel, defisit berpotensi melebar hingga 3,6% PDB.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi dan valas, dengan nilai tukar Rupiah melemah 0,38% ke Rp16.958 per dolar AS, sementara indeks obligasi turun 0,24% dengan imbal hasil SBN tenor 5 tahun naik 14 bps ke 6,33% dan tenor 10 tahun meningkat ke 6,80% dari 6,72%.

Pasar Keuangan Global

Ketegangan konflik AS–Iran terus meningkat, mendorong harga minyak Brent ditutup di atas USD 100 per barel pada Jumat. Indeks S&P 500 turun 0,61%, Nasdaq 100 melemah 0,62%, sementara imbal hasil UST tenor 10 tahun naik 2 bps ke 4,28%.

Amerika Serikat dilaporkan membom target militer di Pulau Kharg, terminal utama ekspor minyak Iran, yang berpotensi memicu volatilitas baru di pasar energi yang telah mengalami fluktuasi tajam dalam beberapa dekade terakhir. Trump memperingatkan bahwa serangan dapat meluas ke infrastruktur energi jika Iran mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.

Data rilis menunjukkan sentimen konsumen AS oleh Universitas Michigan melemah ke level terendah dalam tiga bulan, turun ke 55,5 pada Maret (Februari: 56,6) karena kekhawatiran kenaikan harga bensin. Indeks Core PCE (Jan) meningkat 3,1% YoY dan 0,4% MoM sebelum konflik AS-Iran dimulai, sesuai ekspektasi.

Di Asia, pasar saham terkoreksi dengan MSCI Asia Pacific turun 1,28%, dipimpin oleh pelemahan saham teknologi. Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan Asia, dengan indeks Kospi turun 1,72%.

Kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan energi, risiko inflasi, dan potensi kebijakan moneter yang lebih hawkish membayangi pasar, menjelang keputusan suku bunga di AS dan Jepang pekan ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.