Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah Terus Terdepresiasi, Bos BI Beberkan Jurus Perkuat Benteng Pertahanan

Esha Tri Wahyuni | 17 Maret 2026, 23:32 WIB
Rupiah Terus Terdepresiasi, Bos BI Beberkan Jurus Perkuat Benteng Pertahanan
Gubernur BI, Perry Warjiyo

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan di tengah eskalasi perang Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global.

Per 16 Maret 2026, kurs rupiah tercatat di level Rp16.985 per USD atau melemah 1,29% secara point to point dibanding akhir Februari 2026. 

Kondisi ini sejalan dengan tren pelemahan mata uang emerging markets akibat penguatan dolar AS dan keluarnya arus modal asing.

Baca Juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 di Hari ke-16 Perang AS-Iran

Merespons situasi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen moneter, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan optimalisasi aliran modal.

BI Perkuat Intervensi di Tengah Tekanan Global

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memastikan bahwa otoritas moneter akan meningkatkan respons kebijakan untuk meredam volatilitas nilai tukar.

“Bank Indonesia akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah,” ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Selasa (17/3/2026).

Langkah konkret yang dilakukan mencakup peningkatan intensitas intervensi di berbagai lini pasar. BI aktif masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.

Strategi ini bertujuan menjaga keseimbangan supply-demand valas sekaligus menahan tekanan spekulatif terhadap rupiah.

Arus Modal Keluar Jadi Tekanan Utama Rupiah

Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Gejolak geopolitik global telah mendorong investor global menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi ini berdampak langsung pada 3 hal: penurunan aliran modal asing (capital outflow), meningkatnya permintaan dolar AS dan tekanan pada neraca pembayaran

Perry menegaskan bahwa dinamika ini merupakan fenomena global yang juga dialami banyak negara non-dolar.

Tarik Modal Asing dan Jaga Neraca Pembayaran

Selain intervensi pasar, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter untuk menarik kembali aliran modal asing. Salah satu fokus utamanya adalah menjaga daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik.

“Bank Indonesia juga mengoptimalkan seluruh instrumen moneter untuk meningkatkan aliran masuk modal asing guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” jelas Perry.

Upaya ini diperkuat dengan Kebijakan suku bunga yang kompetitif, Stabilitas pasar keuangan domestik dan Penguatan fundamental eksternal.

BI juga menargetkan perbaikan kinerja neraca pembayaran sebagai fondasi jangka menengah stabilitas rupiah.

Prospek Rupiah Stabil Meski Tekanan Global Tinggi

Di tengah tekanan global, BI tetap optimistis terhadap prospek rupiah. Keyakinan ini didukung oleh kombinasi kebijakan aktif dan fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih solid.

“Bank Indonesia meyakini nilai tukar rupiah akan stabil, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik,” kata Perry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.