IHSG Diproyeksi Terbatas, Pasar Soroti Harga Minyak

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah terbatas pada level 7.091,6 atau turun 0,076% pada perdagangan Senin (30/3/2026), di tengah tekanan global akibat kenaikan harga minyak mentah dan ketidakpastian ekonomi.
Sepanjang hari, pergerakan indeks cenderung fluktuatif. IHSG sempat melemah pada awal sesi I, namun tekanan berkurang menjelang penutupan sesi I.
Memasuki sesi II, indeks sempat rebound sebelum kembali bergerak variatif hingga penutupan perdagangan.
Secara sektoral, saham energi mencatatkan penguatan terbesar sebesar 2,18%. Kenaikan ini sejalan dengan lonjakan harga minyak mentah global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga: Usai Reli ke 7.106, IHSG Rawan Profit Taking Hari Ini
Sebaliknya, sektor keuangan menjadi penekan utama IHSG dengan pelemahan sebesar 1,17%, dipicu koreksi saham perbankan besar seperti BBCA yang memasuki periode ex-dividen.
Dalam riset resminya, Phintraco Sekuritas menyebutkan bahwa pergerakan teknikal IHSG masih terbatas.
“Secara teknikal, pembentukan histogram MACD cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak di kisaran level 7.000–7.200 pada perdagangan Selasa (31/3/2026),” tulis Phintraco Sekuritas dalam laporan harian.
Dari sisi kebijakan, pemerintah tengah menyiapkan langkah mitigasi untuk meredam dampak kenaikan harga energi global terhadap ekonomi domestik. Salah satunya melalui efisiensi anggaran serta opsi penerapan work from home (WFH) guna menekan konsumsi energi.
Pemerintah juga mengidentifikasi tiga sektor utama yang rentan terdampak, yakni stabilitas energi, rantai pasok global, dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk menekan ketergantungan impor migas, strategi yang disiapkan meliputi penghematan energi serta penguatan mandat biodiesel hingga 50% (B50).
Langkah tersebut menjadi krusial dalam menjaga stabilitas fiskal, terutama untuk menghindari kenaikan harga BBM subsidi yang berpotensi mendorong inflasi. Di sisi lain, penyesuaian harga BBM non-subsidi diperkirakan tetap akan terjadi dalam evaluasi bulanan pada 1 April 2026.
Baca Juga: IHSG Terkoreksi 1,6% ke 7.022, Sektor Energi dan Propeti Terparah
Secara historis, volatilitas IHSG kerap meningkat saat terjadi lonjakan harga energi global. Kondisi serupa juga terjadi pada periode 2022–2023 ketika harga minyak melonjak akibat konflik geopolitik, yang mendorong rotasi sektor ke saham energi dan komoditas.
Selain itu, pemerintah juga masih mengkaji kebijakan tambahan dari sisi penerimaan negara, termasuk rencana bea keluar ekspor batu bara yang hingga kini belum dipastikan implementasinya, meskipun telah masuk dalam asumsi APBN 2026. Sementara itu, kebijakan bea keluar untuk produk turunan nikel telah mendapat persetujuan Presiden.
Dari sisi pasar, kondisi ini berpotensi memicu rotasi sektor jangka pendek, dengan saham berbasis komoditas cenderung diuntungkan, sementara sektor keuangan menghadapi tekanan seiring kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan likuiditas.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk perdagangan jangka pendek, antara lain BUMI, DEWA, MAPI, MBMA, dan SMDR.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.











