Survei Visa: 62 Persen Orang Indonesia Belanja Via Ecommerce 2-3 Kali per Bulan

AKURAT.CO Transformasi e-commerce Indonesia memasuki fase baru. Studi terbaru YouGov bersama Visa dalam laporan State of Digital Commerce in Asia Pacific 2025 menunjukkan bahwa 62% masyarakat Indonesia kini berbelanja online dua hingga tiga kali setiap bulan.
Angka ini meningkat dibandingkan 2024 dan menegaskan bahwa belanja online bukan lagi tren sementara, melainkan kebutuhan sehari-hari.
Di tengah pertumbuhan ini, perilaku konsumen juga mengalami pergeseran signifikan. Tidak hanya mencari harga murah dan promo gratis ongkir, konsumen kini semakin selektif, mempertimbangkan keamanan pembayaran digital, kredibilitas penjual, hingga transparansi transaksi.
Ditambah lagi, kehadiran kecerdasan buatan (AI) mulai mendominasi proses pencarian hingga pengambilan keputusan pembelian, menciptakan lanskap baru dalam industri ritel digital Indonesia.
Baca Juga: Apa Itu Visa? Ini Pengertian, Fungsi, dan Jenisnya yang Wajib Kamu Tahu
Fase Matang Ecommerce Indonesia: Tak Sekadar Murah, Tapi Tepercaya
Pertumbuhan frekuensi belanja online mencerminkan kematangan pasar digital Indonesia. Konsumen kini tidak lagi impulsif, melainkan semakin rasional dalam menentukan pilihan.
Faktor seperti kecepatan pengiriman, kemudahan refund, serta reputasi penjual menjadi pertimbangan utama sebelum menyelesaikan transaksi. Ini menandakan bahwa kepercayaan menjadi mata uang baru dalam ekosistem e-commerce.
Perubahan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pelaku industri tidak cukup hanya mengandalkan diskon. Mereka harus membangun sistem yang transparan dan dapat dipercaya untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.
78 Persen Konsumen Gunakan Saldo Digital, Sistem Pembayaran Indonesia Paling Unik di Asia Pasifik
Salah satu temuan penting dalam studi tersebut adalah tingginya penggunaan akun dengan saldo tersimpan di Indonesia, mencapai 78% tertinggi di kawasan Asia Pasifik.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah sangat terbiasa dengan ekosistem keuangan digital, termasuk e-wallet dan pembayaran instan. Kemudahan ini mendorong ekspektasi baru terhadap keamanan transaksi.
Kesadaran terhadap teknologi tokenisasi yang menggantikan data kartu dengan kode terenkripsi juga mulai meningkat, dengan tingkat awareness mencapai 34%. Ini membuka peluang besar bagi adopsi sistem pembayaran one-click yang cepat namun tetap aman.
AI Ubah Cara Belanja: Dari Cari Produk hingga Bandingkan Harga
Kecerdasan buatan kini menjadi bagian penting dalam perjalanan belanja digital. Sebanyak 82% konsumen Indonesia telah menggunakan AI untuk membantu aktivitas seperti mencari produk, membandingkan harga, hingga melacak pesanan.
Angka ini diproyeksikan meningkat hingga 95% dalam waktu dekat, menunjukkan bahwa AI akan menjadi tulang punggung e-commerce masa depan.
Namun demikian, terdapat kesenjangan antara penggunaan AI untuk pencarian dan keputusan pembelian. Hanya 32% konsumen yang benar-benar siap menggunakan AI untuk melakukan transaksi secara otomatis atau agentic commerce.
Konsumen Masih Hati-Hati: Transparansi dan Keamanan Jadi Kunci
Meski adopsi AI meningkat, konsumen Indonesia masih cenderung berhati-hati. Kekhawatiran utama berkisar pada perlindungan data pribadi, biaya tersembunyi, serta kurangnya transparansi dalam proses transaksi.
Fenomena ini juga terjadi di tingkat regional Asia Pasifik, di mana 74% konsumen menggunakan AI untuk browsing, tetapi sebagian besar masih ragu membagikan data tanpa jaminan keamanan.
Di pasar berkembang seperti India dan Vietnam, tingkat keterbukaan terhadap AI commerce sudah mencapai 42%. Indonesia bergerak ke arah yang sama, namun dengan catatan penting: kepercayaan harus dibangun terlebih dahulu.
Masa Depan Belanja Digital Bergantung pada Keamanan dan Infrastruktur
Country Manager Visa Indonesia, Vira Widiyasari, menegaskan bahwa antusiasme konsumen terhadap AI harus diimbangi dengan perlindungan yang kuat.
“Konsumen di Indonesia semakin antusias menggunakan AI dalam berbelanja, namun tetap menginginkan kejelasan dan perlindungan yang kuat saat proses pembayaran,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (3/4/2026).
Dirinya menambahkan bahwa Visa berkomitmen mendukung percepatan digitalisasi melalui teknologi seperti tokenisasi jaringan, Click to Pay, serta sistem autentikasi tepercaya untuk menciptakan pengalaman belanja yang aman dan praktis.
Selain itu, Visa juga mengembangkan inisiatif seperti Visa Intelligent Commerce dan Trusted Agent Protocol guna membangun ekosistem yang menghubungkan konsumen, agen AI, dan pelaku usaha dalam satu sistem yang aman dan scalable.
Perkembangan e-commerce Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan konsumen. AI memang mempercepat proses belanja, namun keputusan akhir tetap bergantung pada rasa aman dan transparansi yang dirasakan pengguna.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini











