Rupiah Menguat ke Rp17.168 Meski Ditekan Konflik Hormuz

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat di tengah tekanan global yang meningkat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait penutupan Selat Hormuz.
Pada perdagangan Senin (20/4/2026), rupiah ditutup menguat 21 poin ke level Rp17.168 per USD dari sebelumnya Rp17.188, meski sempat menguat hingga 25 poin sepanjang hari.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi di tengah tekanan dari eksternal yang cukup kuat.
“Indeks dolar AS menguat di Senin (20/04/2026),” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Jatuh 50 Poin ke Rp17.188 di Tengah Data Positif Tenaga Kerja AS dan Sinyal Damai AS-Iran
Di sisi lain, untuk perdagangan selanjutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.160 hingga Rp17.200,” kata Ibrahim.
Ketegangan global meningkat setelah Selat Hormuz kembali ditutup menyusul saling tuduh antara Amerika Serikat dan Iran terkait pelanggaran gencatan senjata.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pihaknya telah menembaki dan menangkap kapal Iran yang mencoba menghindari blokade.
Militer AS juga dilaporkan menyita kapal kargo Iran yang berusaha menembus blokade.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai tahap kedua, meskipun ada ancaman serangan lanjutan dari AS.
Penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar global. Jalur ini sebelumnya menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum konflik pecah pada Februari 2026. Dampaknya langsung terasa pada harga energi global.
Baca Juga: Produksi Padi Naik, Nilai Tukar Petani Tembus 124,33 di Oktober
Harga minyak dunia melonjak hingga 7% pada perdagangan Senin, memperbesar kekhawatiran inflasi global yang dipicu oleh lonjakan harga energi. Kondisi ini turut mendorong perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS kini bergeser ke arah “higher for longer” atau suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, seiring tekanan inflasi yang belum mereda.
IMF Ingatkan Risiko Krisis Energi dan Fiskal
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan pemerintah di berbagai negara untuk tidak melakukan belanja berlebihan di tengah ketidakpastian global. Risiko resesi dinilai meningkat apabila konflik terus berlanjut dan menekan harga energi.
IMF menilai penutupan Selat Hormuz serta kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah berpotensi memicu krisis energi global jika tidak ada solusi jangka panjang.
“Tidak adanya solusi yang jelas meningkatkan prospek krisis energi besar,” demikian peringatan IMF.
Selain itu, IMF juga menyoroti kondisi fiskal global yang semakin sempit akibat meningkatnya utang publik. Kebijakan seperti subsidi energi dan pembatasan harga dinilai berisiko jika tidak dirancang dengan tepat karena dapat membebani anggaran negara.
Dalam skenario terburuk, IMF menilai kebijakan moneter dan fiskal harus siap menopang ekonomi dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, bank sentral memiliki keterbatasan dalam mengendalikan inflasi yang berasal dari sisi energi.
Untuk Indonesia, IMF menyarankan Bank Indonesia tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi masih terkendali.
Di tengah tekanan global, pergerakan rupiah yang relatif stabil menunjukkan adanya faktor domestik yang masih menopang, seperti intervensi pasar dan fundamental ekonomi.
Namun, tekanan eksternal tetap tinggi. Penguatan dolar AS, lonjakan harga minyak, serta ketidakpastian geopolitik berpotensi menekan rupiah dalam jangka pendek.
Kenaikan harga energi juga berisiko meningkatkan inflasi impor, yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan biaya produksi industri.
Pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya terkait akses Selat Hormuz dan stabilitas pasokan energi global.
Arah kebijakan suku bunga global, terutama dari AS, serta respons Bank Indonesia akan menjadi faktor kunci dalam menentukan stabilitas rupiah.
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati sambil menunggu kepastian dari perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










