Akurat
Pemprov Sumsel

Arus Modal Keluar, Ketahanan Ekonomi RI Masih Terjaga

Andi Syafriadi | 20 April 2026, 22:50 WIB
Arus Modal Keluar, Ketahanan Ekonomi RI Masih Terjaga
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa

AKURAT.CO Tekanan ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik dan krisis energi terus membayangi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, di tengah situasi tersebut, stabilitas makroekonomi Indonesia dinilai masih relatif terjaga.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Indonesia tetap mampu bertahan meskipun menghadapi tekanan eksternal berupa arus keluar modal, volatilitas nilai tukar, hingga kenaikan harga energi global.

Dalam forum IMF–World Bank Spring Meeting 2026 di Washington DC, Purbaya menyebut Indonesia sempat mencatat arus keluar devisa sebesar USD1,8 miliar.

Baca Juga: Investor Pulih, Arus Modal Asing Kembali Mengalir ke Pasar RI

Kondisi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, seiring meningkatnya ketidakpastian global. Meski demikian, indikator utama ekonomi domestik masih menunjukkan ketahanan.

Defisit fiskal Indonesia tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB, mencerminkan disiplin fiskal yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, cadangan devisa tetap berada pada level aman. Mengacu pada data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa masih cukup untuk menopang kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri dalam jangka menengah.

Tekanan juga terlihat pada pasar obligasi. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun mengalami kenaikan seiring tren global, terutama akibat kebijakan suku bunga tinggi di negara maju.

Namun, kenaikan tersebut masih dalam kisaran yang telah diantisipasi pemerintah dalam asumsi APBN.

Menurut Purbaya, kredibilitas kebijakan ekonomi menjadi faktor utama yang menjaga kepercayaan investor.

Baca Juga: Menkeu Purbaya: Ketahanan Energi Indonesia Bertumpu pada Reformasi

“Hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas makro-finansial kita berfungsi pada saat yang paling penting,” ujarnya.

Tekanan global saat ini memang tidak sederhana. Konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, memicu kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok, serta lonjakan biaya pengiriman.

Bank Dunia mencatat, biaya logistik global mengalami kenaikan signifikan akibat gangguan jalur distribusi dan meningkatnya premi risiko.

Selain itu, volatilitas arus modal juga menjadi tantangan bagi negara berkembang.

Ketika suku bunga global tinggi, investor cenderung menarik dana dari negara berkembang dan memindahkannya ke aset yang dianggap lebih aman.

Hal ini berdampak pada pelemahan mata uang serta tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai relatif lebih siap dibandingkan banyak negara lain.

Purbaya menekankan bahwa reformasi struktural yang telah dilakukan sebelumnya, termasuk perbaikan tata kelola fiskal dan penguatan sektor keuangan, menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas.

Namun demikian, risiko tetap ada. Ketergantungan terhadap energi impor membuat Indonesia tetap rentan terhadap fluktuasi harga global.

Selain itu, tekanan inflasi akibat imported inflation juga berpotensi meningkat jika harga energi terus naik.

Karena itu, pemerintah menilai penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas makro dan perlindungan sosial.

Subsidi energi dan bantuan sosial tetap dijaga agar daya beli masyarakat tidak tergerus.

“Ini memungkinkan kita menyerap kenaikan harga energi tanpa mengorbankan kelompok rentan,” kata Purbaya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.