Akurat Logo

Daya Beli Belum Baik-Baik Saja, Menkeu Tunda Penerapan Pajak Tol

Andi Syafriadi | 24 April 2026, 18:11 WIB
Daya Beli Belum Baik-Baik Saja, Menkeu Tunda Penerapan Pajak Tol
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa (AKURAT.CO/ANDOY)

AKURAT.CO Pemerintah memastikan belum akan menerapkan pajak pertambahan nilai (PPN) pada jalan tol dalam waktu dekat.

Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi daya beli masyarakat yang dinilai belum cukup kuat untuk menanggung tambahan beban pajak.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kebijakan penambahan pajak baru, termasuk rencana PPN jalan tol, tidak akan dilakukan sebelum kondisi ekonomi domestik dinilai membaik.

“Posisi kita tidak berubah bahwa kita tidak akan mengenakan pajak tambahan sampai dipandang cukup baik, dan daya beli masyarakat sudah cukup kuat,” ujar Purbaya dalam taklimat media di Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Baca Juga: Jaga Ketahanan APBN, Berikut Strategi Fiskal ala Wamenkeu Juda Agung

Pernyataan tersebut sekaligus merespons wacana yang sebelumnya muncul dalam dokumen Direktorat Jenderal Pajak melalui Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029.

Dalam dokumen itu, pengenaan PPN atas jalan tol masuk sebagai salah satu opsi perluasan basis penerimaan negara.

Namun, Purbaya menegaskan bahwa rencana tersebut masih bersifat jangka panjang dan belum menjadi kebijakan yang akan segera diimplementasikan. Kementerian Keuangan masih akan melakukan kajian lebih lanjut sebelum mengambil keputusan final.

Kebijakan menunda penambahan pajak ini mencerminkan pendekatan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan penerimaan negara dan stabilitas ekonomi masyarakat. Dalam konteks saat ini, daya beli menjadi indikator utama dalam menentukan arah kebijakan fiskal.

Daya beli masyarakat berperan penting dalam menopang konsumsi domestik, yang selama ini menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah memilih untuk tidak menambah tekanan melalui kebijakan fiskal yang berpotensi menekan konsumsi.

Selain itu, pemerintah juga menilai bahwa pengenaan pajak baru pada sektor jalan tol berpotensi memberikan efek berantai terhadap biaya logistik. Kenaikan tarif yang mungkin terjadi akibat tambahan pajak dapat berdampak pada harga barang dan jasa secara lebih luas.

Baca Juga: Wacana Penetapan Pajak Selat Malaka, Seberapa Mendesak?

Dalam kerangka kebijakan fiskal, langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah masih mengutamakan stabilitas ekonomi jangka pendek di tengah ketidakpastian global. Sejumlah faktor eksternal seperti gejolak geopolitik dan volatilitas harga energi turut memengaruhi keputusan untuk menahan ekspansi kebijakan perpajakan.

Purbaya juga menegaskan bahwa fokus pemerintah saat ini adalah mengoptimalkan instrumen perpajakan yang sudah ada. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam meningkatkan penerimaan negara tanpa menimbulkan tekanan tambahan bagi masyarakat.

Dengan demikian, kebijakan fiskal diarahkan pada efisiensi dan penguatan sistem yang telah berjalan, bukan pada penambahan jenis pajak baru dalam waktu dekat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.