Akurat
Pemprov Sumsel

Rupiah Bergejolak, BI Genjot Intervensi Spot hingga DNDF

Esha Tri Wahyuni | 25 April 2026, 16:30 WIB
Rupiah Bergejolak, BI Genjot Intervensi Spot hingga DNDF
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan, termasuk memperluas operasi hingga pasar offshore, sebagai respons atas tekanan eksternal yang kian meningkat terhadap nilai tukar rupiah.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter (DKEM) BI, Juli Budi Winantya, menyatakan langkah ini dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga transaksi di luar negeri.

“Intensitas BI dalam intervensi semakin kuat, didukung tidak hanya di spot, tapi di forward, baik dalam negeri maupun luar negeri DNDF dan kebijakan terkait transaksi valas akan kita lakukan sebagai bentuk komitmen BI menjaga stabilitas,” ujar Juli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (25/4/2026).

Baca Juga: Usut Tuntas Korupsi CSR, KPK Periksa Dua Pejabat Bank Indonesia

Nilai tukar rupiah pada Jumat (24/4/2026) ditutup menguat ke level Rp17.229 per USD atau naik 57 poin (0,33%), setelah sehari sebelumnya sempat melemah hingga Rp17.304 per USD.

Dari sisi fundamental, BI mencatat cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 mencapai USD148,2 miliar. Angka ini dinilai cukup untuk menopang stabilitas eksternal. Sementara itu, neraca perdagangan masih mencatat surplus, terutama ditopang ekspor nonmigas.

BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik 2026 di kisaran 4,9–5,7% dengan target inflasi 2,5% ±1%.

Langkah agresif BI ini terjadi di tengah eskalasi tekanan global. Konflik geopolitik di Timur Tengah memicu gangguan produksi energi dan distribusi di jalur pelayaran utama dunia. Dampaknya, harga energi dan komoditas global meningkat dan mendorong tekanan inflasi.

BI merevisi proyeksi ekonomi global menjadi 3% dari sebelumnya 3,1%. Sementara inflasi global diperkirakan naik menjadi 4,2% dari 4,1%.

Kondisi tersebut mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global. Bank sentral utama, termasuk The Federal Reserve, diperkirakan menahan suku bunga lebih lama.

Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) meningkat dan memperkuat dolar AS. Situasi ini mendorong pergeseran aliran modal global dari negara berkembang ke aset keuangan AS.

Baca Juga: Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Melonjak 2 Kali Lipat: Dorong Ekonomi Hijau dan Kendaraan Listrik

“Daya tarik aset keuangan AS meningkat, sehingga terjadi pergeseran aliran modal global,” kata Juli.

Secara historis, tekanan terhadap rupiah akibat penguatan dolar AS dan capital outflow bukan hal baru. Episode serupa terjadi pada 2013 saat taper tantrum dan kembali berulang pada periode pengetatan moneter global 2022–2023.

Penguatan intervensi BI, termasuk masuk ke pasar offshore, menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah tidak lagi bersifat domestik, melainkan terintegrasi dengan dinamika global.

Bagi pasar keuangan, langkah ini bertujuan menjaga daya tarik aset rupiah, termasuk stabilitas yield obligasi dan pasar saham. Stabilitas nilai tukar juga penting untuk menahan imported inflation, terutama pada komoditas energi dan pangan.

Bagi pelaku usaha, volatilitas rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan utang dalam valuta asing. Sementara bagi masyarakat, pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor.

Bank Indonesia menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan instrumen pasar uang untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.