Akurat Logo

Rupiah Terus Melemah, Pengamat Prediksi Sentuh Rp17.850/USD

Esha Tri Wahyuni | 18 Mei 2026, 08:10 WIB
Rupiah Terus Melemah, Pengamat Prediksi Sentuh Rp17.850/USD
Ilustrasi Dolar Amerika Serikat diatas Rupiah

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan berat pada perdagangan pekan depan.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah berpotensi melemah hingga menembus level Rp17.850 per USD seiring meningkatnya tekanan eksternal dan derasnya penguatan dolar AS global.

“Mata uang rupiah kemungkinan besar dalam perdagangan di minggu ini pun juga masih akan terus mengalami pelemahan. Bisa saja di Rp17.800 per USD, bisa saja di Rp17.850 per USD,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Baca Juga: Prabowo soal Nilai Tukar Rupiah Melemah: Warga Desa Tak Hidup Pakai Uang Dolar

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kombinasi sentimen global yang memburuk. Konflik geopolitik di Timur Tengah yang pecah sejak akhir Februari 2026 mendorong lonjakan harga energi dunia dan meningkatkan permintaan aset safe haven, termasuk dolar AS.

Situasi tersebut membuat indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) terus menguat terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Data pasar menunjukkan indeks dolar AS kini berada di level 99,09 atau menguat 1,15% dalam sepekan terakhir. Bahkan, sepanjang pekan ini DXY sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 April 2026.

Kondisi itu diperparah oleh suku bunga AS yang masih tinggi. Tingkat imbal hasil aset berbasis dolar yang kompetitif membuat investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Arus modal keluar tersebut menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang Asia.

Sepanjang pekan perdagangan lalu, rupiah sempat menyentuh level Rp17.500 per USD, yang menjadi posisi penutupan terlemah sepanjang sejarah.

Pelemahan tersebut terjadi meski perdagangan di pasar keuangan domestik berlangsung lebih singkat karena libur Kenaikan Yesus Kristus.

Baca Juga: DBS Turunkan Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026, Apa Dampaknya bagi Rupiah, Harga Barang, dan Kelas Menengah?

Pada Senin (11/5/2026) lalu, rupiah ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.412 per USD. Tekanan berlanjut pada Selasa (12/5/2026), ketika rupiah kembali terdepresiasi 0,51% ke Rp17.500 per USD.

Sehari setelahnya, Rabu (13/5/2026), rupiah memang sempat menguat 0,2% ke Rp17.465 per USD, namun secara mingguan tetap mencatat pelemahan sebesar 0,53%.

Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan depresiasi mayoritas mata uang Asia.

Yen Jepang tercatat melemah 1,3%, rupee India 1,64%, won Korea Selatan 2,46%, baht Thailand 1,43%, ringgit Malaysia 0,73%, hingga dolar Singapura 1,08% sepanjang pekan ini.

Meski demikian, tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian khusus karena level saat ini sudah melampaui titik psikologis Rp17.000 per USD dan mendekati posisi terlemah dalam sejarah krisis nilai tukar Indonesia.

Sebagai informasi, pelemahan rupiah ke atas Rp17.000 per USD menandai fase tekanan eksternal yang sangat tinggi.

Pada krisis moneter 1998, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.800 per USD sebelum akhirnya stabil setelah intervensi besar-besaran pemerintah dan reformasi sektor keuangan.

Kini, pelemahan rupiah terjadi dalam konteks berbeda, yakni dominasi suku bunga tinggi AS, ketidakpastian geopolitik, serta volatilitas harga energi global.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi faktor tambahan yang membebani Indonesia.

Sebagai negara net importir minyak, lonjakan harga energi dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan devisa impor migas.

Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah dalam jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.