Leverage Bitcoin Memanas, Pasar Kripto Dibayangi Koreksi Tajam

AKURAT.CO Pasar Bitcoin kembali memasuki fase penuh tekanan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di atas level USD82.000.
Pada perdagangan akhir pekan, Minggu (17/5/2026), harga Bitcoin terkoreksi ke kisaran USD79.000 di tengah meningkatnya risiko likuidasi massal akibat tingginya penggunaan leverage di pasar derivatif.
Data CryptoQuant menunjukkan indikator Estimated Leverage Ratio (ELR) melonjak mendekati 14,9%, menandakan aktivitas penggunaan utang di pasar futures Bitcoin sudah berada di level tinggi.
Kondisi ini membuat struktur pasar dinilai semakin rapuh karena kenaikan harga lebih banyak ditopang spekulasi derivatif dibanding permintaan riil di pasar spot.
Analis CryptoQuant, Axel Adler Jr. menyebut, pola tersebut menjadi sinyal peringatan bagi pasar.
Menurut dia, reli yang sehat seharusnya didorong pembelian langsung di pasar spot, bukan dominasi posisi leverage jangka pendek.
Baca Juga: Investor Kripto RI Terus Bertambah Jelang Bitcoin Pizza Day 2026
“Kondisi saat ini memperlihatkan Open Interest dan Funding Rates naik bersamaan dengan harga. Ini menunjukkan posisi long sudah terlalu padat,” tulis Adler dalam keterangan tertulis yang dikutip Senin (18/5/2026).
Situasi tersebut muncul setelah aksi short squeeze sempat mengangkat harga Bitcoin ke area USD82.000. Namun setelah reli itu gagal berlanjut, posisi long kini justru berada dalam kondisi rentan.
Jika harga turun lebih dalam, pasar berpotensi mengalami forced liquidation atau likuidasi paksa dalam jumlah besar yang dapat mempercepat tekanan jual.
Tekanan pasar semakin besar setelah permintaan institusional dari Amerika Serikat mulai melemah.
Hal ini tercermin dari Coinbase Premium yang masih bergerak di zona negatif. Indikator tersebut biasanya digunakan untuk membaca kekuatan permintaan investor institusi AS terhadap Bitcoin di pasar spot.
Selain itu, data arus dana Spot Bitcoin ETF di AS juga menunjukkan perlambatan signifikan.
Dalam sepekan terakhir, dana keluar atau outflow dari produk ETF Bitcoin tercatat mendekati USD1 miliar. Angka tersebut menjadi salah satu outflow mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan memperlihatkan investor mulai mengambil posisi defensif.
Kondisi makroekonomi global ikut memperburuk sentimen pasar aset berisiko. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kini mendekati level 4,6%, sementara yield tenor 30 tahun telah menembus 5%. Kenaikan yield tersebut mencerminkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga tinggi di AS akan bertahan lebih lama.
Baca Juga: Salip Bitcoin, Open Interest Futures Dogecoin Tembus USD1,79 Miliar
Dalam situasi seperti ini, aset berisiko seperti kripto biasanya kehilangan daya tarik karena investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman dengan imbal hasil pasti.
Meski begitu, tekanan jangka pendek belum sepenuhnya mengubah pandangan bullish investor jangka panjang terhadap Bitcoin. Data on-chain menunjukkan Long-Term Holders saat ini menguasai sekitar 15,26 juta BTC dari total suplai yang beredar.
Bahkan dalam 30 hari terakhir, lebih dari 316.000 BTC tercatat berpindah ke dompet investor jangka panjang. Arus akumulasi ini menunjukkan sebagian investor besar masih memanfaatkan koreksi harga untuk menambah kepemilikan.
Fenomena tersebut juga mengurangi jumlah Bitcoin yang beredar aktif di pasar sehingga dapat menjadi penopang harga dalam jangka panjang.
Selain akumulasi investor besar, indikator likuiditas stablecoin di Binance mulai menunjukkan peningkatan. Dana stablecoin yang sebelumnya berada di luar pasar kini mulai masuk ke bursa, mengindikasikan adanya kesiapan modal untuk kembali masuk ke aset kripto apabila kondisi pasar membaik.
Secara teknikal, analis menilai area USD78.000 hingga USD79.000 menjadi zona support paling krusial dalam jangka pendek. Level ini bertepatan dengan Short-Term Holder Realized Price atau harga rata-rata kepemilikan investor jangka pendek.
Jika level tersebut ditembus, tekanan likuidasi berpotensi meningkat lebih agresif di seluruh pasar kripto. Sebaliknya, apabila mampu bertahan, area ini dapat menjadi fondasi pemulihan harga Bitcoin berikutnya.
Kondisi saat ini memperlihatkan pasar kripto sedang berada dalam tarik menarik antara dua kekuatan besar. Di satu sisi, leverage tinggi menciptakan risiko volatilitas ekstrem. Namun di sisi lain, akumulasi investor jangka panjang masih memberikan bantalan terhadap potensi koreksi lebih dalam.
Sebagai konteks, struktur pasar Bitcoin sebelumnya juga sempat mengalami kondisi serupa pada 2021 dan 2022 ketika dominasi leverage memicu gelombang likuidasi besar. Saat itu, koreksi tajam terjadi hanya dalam hitungan jam setelah posisi trader terlalu padat di satu arah.
Berbeda dengan periode sebelumnya, pasar Bitcoin saat ini juga dipengaruhi kehadiran Spot Bitcoin ETF yang sejak awal 2024 menjadi sumber utama aliran modal institusional global. Karena itu, perubahan arus dana ETF kini menjadi indikator penting dalam membaca arah pergerakan pasar kripto secara keseluruhan.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati dua faktor utama, yakni apakah permintaan institusional kembali pulih dan apakah pasar mampu mengurangi ketergantungan terhadap leverage. Dua faktor tersebut diperkirakan menjadi penentu arah Bitcoin berikutnya di tengah tingginya volatilitas global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 6BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 7Tragedi di Gurun Sahara: 49 Orang Tewas Kehausan Setelah Truk Mogok di Gurun Niger
- 8Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal










