Akurat Logo

BEI: Investor Saham RI Bertambah 17 Juta dalam 5 Tahun

Esha Tri Wahyuni | 24 Mei 2026, 10:50 WIB
BEI: Investor Saham RI Bertambah 17 Juta dalam 5 Tahun
Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik

AKURAT.CO Jumlah investor pasar modal Indonesia melonjak signifikan dalam lima tahun terakhir.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total investor kini telah mencapai 27,4 juta single investor identification (SID) hingga Mei 2026, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi tahun 2020 yang masih berada di kisaran 10 juta investor.

Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan lonjakan tersebut menjadi indikator meningkatnya literasi investasi masyarakat, terutama dari kalangan generasi muda yang mulai aktif masuk ke pasar modal sejak pandemi Covid-19.

Baca Juga: Hendri Satrio: Kedatangan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad ke BEI Bisa Jadi Sinyal Penting untuk Pasar

“Kalau dibandingkan tahun 2020 dengan saat ini, angka 10 juta itu sudah jadi 27,4 juta. Dalam lima tahun ada tambahan lebih dari 17 juta investor atau naik lebih dari dua kali lipat,” ujar Jeffrey dikutip dari Channel YouTube CNCB dalam acara Jogja Financial Festival (Finfest) 2026, Minggu (24/5/2026).

BEI mencatat momentum pertumbuhan investor mulai terlihat kuat sejak periode pandemi. Pada masa tersebut, masyarakat mulai mencari alternatif instrumen investasi di tengah pembatasan aktivitas dan rendahnya suku bunga simpanan perbankan.

“Dua tahun Covid jumlah investor tumbuh dari sekitar 4-5 juta menjadi 10 juta,” kata Jeffrey.

Kenaikan jumlah investor tersebut juga terjadi di tengah penetrasi digital platform investasi yang semakin masif. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), investor individu masih mendominasi pasar modal domestik dengan porsi mayoritas berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun.

BEI menilai peningkatan jumlah investor menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional karena aktivitas pasar modal kerap bergerak sejalan dengan optimisme ekonomi domestik dan ekspansi sektor usaha.

“Ini menunjukkan publik kita sudah lebih paham terkait investasi pasar modal,” ujar Jeffrey.

Dirinya menambahkan, pertumbuhan investor yang terus berlanjut hingga 2026 menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia masih tetap terjaga meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian suku bunga tinggi dan tensi geopolitik.

Baca Juga: Xi Jinping dan Vladimir Putin Bertemu di Beijing, Dunia Soroti Arah Baru China-Rusia

Data BEI menunjukkan sepanjang 2025 jumlah investor pasar modal bertambah sekitar 2,5 juta investor baru. Sementara pada 2026, hingga 20 Mei, jumlah investor baru disebut telah mencapai sekitar 7,4 juta investor.

“Artinya optimisme dan kepercayaan tetap ada di pasar modal Indonesia,” katanya.

Lonjakan investor ini juga memperlihatkan perubahan pola pengelolaan keuangan masyarakat, khususnya generasi muda yang mulai menjadikan saham sebagai instrumen investasi jangka panjang. Fenomena tersebut berbeda dibanding satu dekade lalu ketika pasar modal masih didominasi investor institusi dan kelompok berpenghasilan tinggi.

Sebagai informasi, jumlah investor pasar modal Indonesia sempat berada di bawah 2 juta SID sebelum pandemi Covid-19. Namun sejak 2020, tren digitalisasi layanan keuangan, maraknya edukasi investasi di media sosial, hingga kemudahan pembukaan rekening saham secara daring mendorong pertumbuhan investor ritel secara agresif.

Meski demikian, BEI mengingatkan investasi saham tetap memiliki risiko fluktuasi harga karena investor membeli kepemilikan perusahaan yang diperdagangkan di bursa.

“Kalau perusahaan untung dan membagikan dividen, kita akan dapat. Tapi saham juga diperdagangkan di BEI sehingga harganya bisa naik dan turun,” ujar Jeffrey.

Dirinya menjelaskan investor berpotensi memperoleh capital gain ketika harga saham mengalami kenaikan. Namun di sisi lain, terdapat risiko potential loss apabila harga saham terkoreksi.

“Pada saat naik ada capital gain, tapi saat turun ada potential loss,” pungkasnya.

Peningkatan jumlah investor domestik dinilai penting bagi ketahanan pasar keuangan nasional. Dengan basis investor lokal yang semakin besar, ketergantungan pasar modal Indonesia terhadap aliran dana asing dinilai dapat berkurang sehingga volatilitas pasar lebih terkendali saat terjadi gejolak global.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.