Penyebab Rupiah Terus Melemah: Pengamat Ungkap Faktor Global, Ancaman PHK hingga Risiko Daya Beli Turun

AKURAT.CO Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya ketika nilai tukar rupiah terus melemah sementara harga kebutuhan sehari-hari perlahan naik? Bagi sebagian orang, pergerakan kurs dolar mungkin hanya terlihat sebagai angka di layar ponsel. Namun ketika dolar AS menembus level Rp18.000, dampaknya bisa menjalar ke harga barang, biaya hidup, bahkan lapangan pekerjaan.
Kondisi inilah yang tengah menjadi perhatian setelah nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh Rp18.025 per dolar AS pada Kamis, 4 Juni 2026. Pelemahan tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama bagi masyarakat kelas menengah, pelaku usaha, dan pekerja di sektor padat karya.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah bukan hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dipengaruhi persoalan domestik yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan.
Ringkasan
Pelemahan rupiah terjadi karena kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat.
Faktor utama yang menekan rupiah antara lain:
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ancaman kenaikan harga minyak dunia.
Penguatan dolar AS akibat kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat.
Tingginya kebutuhan impor minyak Indonesia.
Pembayaran utang luar negeri dan dividen investor asing.
Meningkatnya permintaan dolar AS di dalam negeri.
Kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Kombinasi faktor tersebut membuat permintaan dolar meningkat sementara tekanan terhadap rupiah terus bertambah.
Mengapa Rupiah Terus Melemah Meski Dolar AS Tidak Selalu Menguat?
Salah satu hal yang menarik dari kondisi saat ini adalah pelemahan rupiah terjadi meskipun indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) sempat mengalami penurunan.
Menurut Ibrahim Assuaibi, banyak pihak terlalu fokus melihat pergerakan indeks dolar tanpa memperhatikan faktor risiko global yang lebih besar.
"Pergolakan di Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar dunia. Selama ketegangan itu belum mereda, tekanan terhadap mata uang negara berkembang akan tetap tinggi," ujar Ibrahim melalui video yang dibagikannya kepada wartawan, Kamis, 4 Juni 2026.
Dalam pandangannya, konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, serta meningkatnya ketegangan dengan Israel telah menciptakan ketidakpastian yang besar bagi pasar global.
Ketika ketidakpastian meningkat, investor biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Salah satunya adalah dolar AS. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan mata uang negara berkembang seperti rupiah menjadi lebih rentan mengalami tekanan.
Apa Hubungan Konflik Timur Tengah dengan Pelemahan Rupiah?
Banyak masyarakat menganggap konflik di Timur Tengah tidak memiliki kaitan langsung dengan kondisi ekonomi Indonesia. Padahal, hubungan keduanya sangat erat.
Salah satu titik krusial berada di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika terjadi gangguan di kawasan tersebut, harga energi global berpotensi melonjak.
Menurut Ibrahim, risiko inilah yang sedang dicermati pelaku pasar internasional.
"Timur Tengah merupakan salah satu wilayah penghasil minyak terbesar di dunia. Ketika muncul ancaman terhadap distribusi minyak, pasar langsung merespons dengan kekhawatiran kenaikan harga energi," katanya.
Kenaikan harga minyak tidak berhenti pada sektor energi saja.
Efek berantainya meliputi:
Ongkos transportasi naik.
Biaya logistik meningkat.
Harga barang menjadi lebih mahal.
Inflasi global bertambah tinggi.
Ketika inflasi meningkat, bank sentral di berbagai negara cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Mengapa Kebijakan The Fed Berpengaruh Besar terhadap Rupiah?
Dalam kondisi normal, investor selalu mencari kombinasi antara keuntungan dan keamanan.
Saat suku bunga Amerika Serikat tinggi, banyak investor global memilih menempatkan dana mereka pada aset berbasis dolar AS karena dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.
Ibrahim menilai peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada 2026 masih terbuka apabila tekanan inflasi belum mereda.
"Kenaikan harga energi berpotensi membuat inflasi Amerika tetap tinggi. Karena itu peluang The Fed mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga masih ada," ujarnya.
Inilah yang membuat dolar tetap kuat meski sesekali mengalami koreksi.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi tersebut sering memicu arus modal keluar karena investor global memindahkan dana ke aset dolar.
Mengapa Indonesia Sangat Sensitif terhadap Penguatan Dolar AS?
Ada satu fakta yang sering luput dari perhatian publik.
Masalah rupiah bukan hanya soal dolar yang kuat, tetapi juga karena kebutuhan dolar Indonesia masih sangat besar.
Menurut Ibrahim, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta barel minyak per hari. Di sisi lain, sebagian besar konsumsi BBM nasional masih bergantung pada subsidi pemerintah.
Artinya, ketika harga minyak naik dan rupiah melemah secara bersamaan, tekanan terhadap anggaran negara menjadi semakin besar.
Selain impor energi, permintaan dolar juga berasal dari:
Pembayaran utang luar negeri.
Pembayaran dividen perusahaan kepada investor asing.
Kebutuhan transaksi internasional.
Meningkatnya minat masyarakat menyimpan aset dalam mata uang asing.
Insight Penting yang Jarang Dibahas
Banyak pemberitaan hanya menyoroti dolar yang menguat. Namun akar persoalan sebenarnya adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap dolar untuk memenuhi kebutuhan ekonomi domestik.
Selama kebutuhan impor energi masih besar dan sumber devisa belum tumbuh signifikan, rupiah akan lebih rentan terhadap gejolak global dibandingkan negara yang memiliki surplus energi atau surplus perdagangan yang kuat.
Mengapa Ibrahim Menilai Persoalan Fiskal Menjadi Akar Masalah?
Dalam analisisnya, Ibrahim menegaskan bahwa kesalahan utama tidak berada pada Bank Indonesia.
Menurutnya, BI telah menjalankan berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar. Namun akar persoalan justru berada pada sisi fiskal.
"Saya melihat persoalan utama bukan di Bank Indonesia. Yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi fiskal dan efektivitas berbagai program yang membutuhkan anggaran besar," kata Ibrahim.
Ia menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi dari sisi efektivitas dan efisiensi anggaran.
Menurutnya, ketika kondisi global sedang penuh ketidakpastian, pemerintah harus lebih selektif dalam menentukan prioritas belanja agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
Analisis ini menarik karena menunjukkan bahwa pasar tidak hanya melihat cadangan devisa atau kebijakan moneter, tetapi juga kualitas pengelolaan fiskal pemerintah.
Baca Juga: IHSG Rupiah Kompak Memerah, Ini Sebabnya
Baca Juga: Misbakhun: Penataan DHE SDA Perkuat Stabilitas Rupiah dan Ruang Fiskal
Ancaman PHK: Dampak yang Mulai Dikhawatirkan
Salah satu peringatan paling serius dari Ibrahim adalah potensi meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Mari gunakan ilustrasi sederhana.
Bayangkan sebuah pabrik tekstil yang mengimpor bahan baku menggunakan dolar AS.
Jika tahun lalu perusahaan membeli bahan baku saat kurs Rp15.500 per dolar AS dan kini harus membeli pada level Rp18.000, biaya produksinya otomatis melonjak.
Di sisi lain:
Daya beli masyarakat sedang melemah.
Permintaan pasar tidak tumbuh signifikan.
Persaingan semakin ketat.
Dalam situasi seperti itu, perusahaan biasanya melakukan efisiensi.
Langkah efisiensi yang paling sering terjadi di lapangan adalah:
Pengurangan jam kerja.
Pembekuan perekrutan.
Pengurangan tenaga kerja.
Penundaan ekspansi bisnis.
Karena itu, pelemahan rupiah bukan hanya persoalan pasar keuangan, tetapi juga berpotensi berdampak langsung pada lapangan pekerjaan.
Siapa yang Paling Terdampak Jika Rupiah Terus Melemah?
Kelompok yang paling rentan menghadapi dampak pelemahan rupiah adalah:
1. Kelas Menengah
Kelas menengah menghadapi tekanan ganda berupa kenaikan biaya hidup dan berkurangnya kemampuan menabung.
2. Pekerja Sektor Padat Karya
Sektor manufaktur, tekstil, alas kaki, dan industri berbasis ekspor-impor berpotensi mengalami tekanan operasional.
3. Pelaku UMKM
Pelaku usaha yang menggunakan bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi.
4. Konsumen Umum
Harga barang elektronik, bahan baku industri, hingga sejumlah kebutuhan pokok berpotensi ikut terdampak.
Baca Juga: Media Malaysia Soroti Pelemahan Rupiah, Mengapa Justru Dianggap Peluang bagi Pariwisata Indonesia?
Apa yang Bisa Dilakukan Pemerintah?
Ibrahim menilai pemerintah perlu mengantisipasi risiko pelemahan rupiah sejak dini.
Beberapa langkah yang menurutnya dapat dipertimbangkan antara lain:
Evaluasi kebijakan subsidi energi.
Menjaga disiplin fiskal.
Meningkatkan kepercayaan investor.
Memastikan efektivitas program pemerintah.
Menjaga likuiditas ekonomi nasional.
Ia juga mengingatkan bahwa persepsi pasar internasional terhadap kebijakan pemerintah sangat berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar.
Pelemahan Rupiah Bukan Sekadar Angka
Pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS bukan hanya cerita tentang pasar keuangan atau perdagangan valuta asing. Di balik angka tersebut terdapat risiko yang dapat memengaruhi daya beli, biaya hidup, dunia usaha, hingga peluang kerja jutaan masyarakat Indonesia.
Analisis Ibrahim Assuaibi menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini merupakan hasil dari kombinasi gejolak global dan tantangan domestik yang saling berkaitan. Karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya mengandalkan stabilisasi pasar, tetapi juga memerlukan penguatan fundamental ekonomi dan kepercayaan investor.
Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, pertanyaan yang perlu dipikirkan bukan lagi sekadar berapa kurs dolar besok pagi, melainkan seberapa siap ekonomi Indonesia menghadapi dampak jangka panjangnya. Pantau terus perkembangan nilai tukar rupiah dan kebijakan ekonomi pemerintah agar dapat memahami risiko maupun peluang yang muncul di tengah perubahan kondisi global.
Baca Juga: Apa Penyebab Rupiah Melemah? Ini Faktor Global dan Domestik yang Menekan Nilai Tukar pada 2026
Baca Juga: Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
FAQ
1. Mengapa rupiah terus melemah terhadap dolar AS?
Rupiah terus melemah karena kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, dan kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat membuat dolar AS semakin kuat. Sementara dari dalam negeri, tingginya kebutuhan impor minyak, pembayaran utang luar negeri, serta meningkatnya permintaan dolar untuk berbagai transaksi turut memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.
2. Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat Indonesia?
Dampak pelemahan rupiah paling terasa pada meningkatnya biaya hidup masyarakat. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga barang impor, bahan baku industri, hingga sejumlah kebutuhan sehari-hari berpotensi naik. Kondisi ini dapat mengurangi daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah dan bawah yang penghasilannya tidak mengalami kenaikan secepat laju kenaikan harga barang.
3. Mengapa konflik Timur Tengah bisa memengaruhi nilai tukar rupiah?
Konflik di Timur Tengah berpengaruh karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan distribusi minyak dunia. Jika ketegangan meningkat, harga minyak global biasanya ikut naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Kenaikan harga energi kemudian mendorong inflasi global, memperkuat dolar AS, dan menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah yang masih bergantung pada impor energi.
4. Apakah pelemahan rupiah bisa menyebabkan PHK?
Ya, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan risiko PHK, terutama di sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. Ketika kurs dolar naik, biaya produksi perusahaan ikut meningkat. Jika permintaan pasar sedang lemah dan perusahaan tidak mampu menaikkan harga jual produk, langkah efisiensi seperti pengurangan tenaga kerja, pembatasan rekrutmen, atau penundaan ekspansi bisnis bisa menjadi pilihan yang diambil perusahaan.
5. Mengapa Indonesia sangat rentan terhadap penguatan dolar AS?
Indonesia masih memiliki kebutuhan dolar AS yang cukup besar, terutama untuk impor minyak, pembayaran utang luar negeri, dan transaksi perdagangan internasional. Ketika dolar menguat secara global, kebutuhan valas tersebut menjadi lebih mahal. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah semakin besar dibandingkan negara yang memiliki surplus energi atau cadangan devisa yang lebih kuat.
6. Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperkuat rupiah?
Pemerintah dapat memperkuat rupiah melalui kombinasi kebijakan fiskal dan ekonomi yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Langkah yang sering dibahas meliputi menjaga disiplin anggaran, mengurangi ketergantungan pada impor energi, meningkatkan investasi produktif, memperbesar penerimaan devisa ekspor, serta memastikan program-program pemerintah berjalan efektif sehingga tidak membebani kondisi fiskal negara.
7. Jika rupiah tembus Rp19.000 per dolar AS, apa risikonya bagi ekonomi Indonesia?
Apabila rupiah mendekati atau menembus Rp19.000 per dolar AS, tekanan terhadap ekonomi nasional berpotensi meningkat. Harga barang impor bisa semakin mahal, biaya produksi industri naik, inflasi berisiko bertambah tinggi, dan daya beli masyarakat dapat semakin tergerus. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi, meningkatkan risiko PHK di sektor tertentu, serta mengurangi kepercayaan investor apabila tidak diimbangi kebijakan yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cuma Jadi Beban Istana, Menteri Pariwisata Tak Punya Sense of Crisis dan Layak Diganti
- 2Usai Kritik Pigai, Hotman Paris Kini Malah Ingin Jalan Malam Bareng Menteri HAM: Biar Begal Kabur Semua
- 3Prediksi Skor Prancis vs Pantai Gading 5 Juni 2026: Les Bleus Masih Terlalu Kuat atau The Elephants Siap Membuat Kejutan?
- 4Prediksi Skor PSG vs Arsenal, Susunan Pemain, Jadwal Siaran Langsung
- 5BRIN Ingatkan Wacana Jokowi Keliling Daerah Berpotensi Memanaskan Politik Terlalu Dini
- 6Berbahasa Indonesia Usai Laga Kalahkan Oman, John Herdman: Saya Capek!
- 7Kurs Dolar AS Tembus Rp18.025 Hari Ini, Rupiah Catat Rekor Terlemah dalam Sejarah
- 8Kalender Jawa 4 Juni 2026: Weton Kamis Pahing Punya Karakter Cerdas dan Penuh Perhitungan
- 9Astra Gandeng Pemprov Jakarta Kampanyekan Naik Transportasi Umum, Pramono: Kunci Atasi Macet dan Polusi
- 10Trump Klaim Kekuatan Militer Iran Hancur Total, Tersisa Sekitar 21 Persen Rudal







