Akurat Logo

DBD hingga TBC Seret Biaya Besar, Klaim Allianz Capai Rp41,4 Miliar

Esha Tri Wahyuni | 22 Juni 2026, 13:10 WIB
DBD hingga TBC Seret Biaya Besar, Klaim Allianz Capai Rp41,4 Miliar
Klaim DBD, tifoid, dan TBC di Allianz Indonesia mencapai Rp41,4 miliar hingga pertengahan Juni 2026. Lonjakan biaya perawatan mempertegas risiko ekonomi penyakit tropis.

AKURAT.CO Penyakit tropis seperti demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) tidak hanya menjadi ancaman kesehatan, tetapi mulai menimbulkan beban finansial yang semakin besar bagi masyarakat.

Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz Indonesia mencatat 4.035 klaim terkait tiga penyakit tersebut dengan total nilai klaim mencapai lebih dari Rp41,4 miliar.

Berdasarkan data resmi Allianz Indonesia, klaim DBD tercatat sebanyak 1.686 kasus dengan nilai lebih dari Rp21,5 miliar. Sementara klaim demam tifoid mencapai 1.534 kasus senilai lebih dari Rp14,5 miliar, dan klaim TBC sebanyak 815 kasus dengan nilai lebih dari Rp5,4 miliar.

Baca Juga: Dari Sampah Jadi Bantal Terapi dan Pengharum Ruangan, Inilah Inovasi Eco Enzyme Allianz Indonesia

“Data klaim yang kami miliki menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat adanya peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir,” ujar dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (22/6/2026).

Allianz juga mencatat tren kenaikan biaya rawat inap yang signifikan selama periode 2020–2025. Rata-rata biaya rawat inap demam tifoid meningkat hingga 66%, sedangkan biaya perawatan DBD melonjak hingga 88% per kasus.

Kenaikan ini menunjukkan bahwa penyakit yang selama ini dianggap umum ternyata memerlukan biaya penanganan yang semakin mahal. Allianz menyebut biaya rawat inap pasien DBD di rumah sakit kini dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, pemeriksaan penunjang, dan kemungkinan komplikasi.

Data Kementerian Kesehatan RI dan World Health Organization menunjukkan Indonesia masih menghadapi beban penyakit tropis yang besar.

Pada 2024, Indonesia menempati peringkat kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia dengan estimasi 1,06 juta kasus per tahun. Pada periode yang sama, tercatat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian. Demam tifoid juga masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan penyakit tropis di Indonesia tidak hanya terkait penularan, tetapi juga menyangkut beban ekonomi rumah tangga.

Baca Juga: Allianz Syariah Salurkan Kurban ke Masyarakat Terdampak Bencana di Momen Iduladha 1447 H

Kenaikan biaya layanan kesehatan membuat pengobatan penyakit tropis berpotensi menguras pengeluaran keluarga, terutama jika pasien membutuhkan rawat inap.

Menurut dr. Tubagus, kondisi ini menegaskan pentingnya pencegahan dan deteksi dini.

“Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk membantu mengurangi risiko beban finansial,” katanya.

Dokter dan edukator kesehatan dr. Dion Haryadi menjelaskan bahwa DBD, tifoid, dan TBC masih tinggi karena kombinasi faktor lingkungan dan perilaku masyarakat.

“Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” ujar dr. Dion.

Ia menyoroti masih banyak masyarakat yang menunda pemeriksaan karena menganggap gejala awal sebagai penyakit ringan. Pada kasus DBD, fase ketika demam mulai turun justru bisa menjadi periode paling kritis.

Dengan meningkatnya biaya perawatan, masyarakat diimbau memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif dan memiliki perlindungan kesehatan yang memadai.

Allianz juga mengingatkan pentingnya langkah pencegahan sederhana seperti membersihkan tempat penampungan air, menjaga ventilasi rumah, serta memperhatikan kebersihan makanan dan minuman.

Memasuki paruh kedua 2026, pemerintah dan pelaku sektor kesehatan diperkirakan akan terus memperkuat edukasi pencegahan penyakit tropis. Data klaim dan kenaikan biaya perawatan menunjukkan bahwa pengendalian DBD, tifoid, dan TBC bukan hanya isu kesehatan masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan ekonomi keluarga Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.